Jumat, 29/8/25 | 11:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Stereotip Aneh yang Tidak Seharusnya “Diwajarkan”

Minggu, 15/5/22 | 16:57 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Kala itu tetangga sebelah rumah saya kehilangan motor. Motor tersebut biasanya ia parkir di teras rumah sepulang bekerja. Setelah dilihat CCTV, terlihatlah dua orang pemuda dengan begitu hati-hati meski bersusah payah membuka pagar rumah. Motor itu dicuri saat dini hari ketika seisi rumah tengah tidur lelap lagi nyenyak. Paginya, tetanggaku ini diomeli oleh saudara-saudaranya, barangkali oleh semua penghuni rumah. “Kamu sih, taruh motor sembarangan! Andai aja kamu masukin garasi, nggak bakal gini jadinya”. Kemudian Bapaknya juga ikut ngomel, “Maling mah kerjaannya begitu. Di mana ada kesempatan di situlah terbesit niatan! Sembrono kamu!”. Kira-kira begitu percakapan yang terdengar oleh saya.

Kisah lainnya, suatu hari tante saya bercerita perihal kemelut rumah tangga teman arisannya. Kabarnya, suami temannya ini ketahuan selingkuh dengan wanita yang lebih muda. Teman sekantor suaminya. Tante saya lalu bilang, “Mbak Anu nggak rawat diri, sih! Nggak bisa dandan, nggak suka pakai riasan. Tubuh yang dulunya semok, sekarang sudah gembrot. Panteslah suaminya kecantol wanita lain.” Duh, kasihan sekali teman tante saya itu. Lebih kasihan lagi tante saya. Cerita lainnya, sering saya jumpai berita pelecehan seksual di media, baik korbannya perempuan maupun laki-laki. Tak jarang, komentar yang kujumpai begini, “Mbaknya, sih! Pakai baju kok nanggung begitu”. Jika pernyataan serupa ini dibenarkan, saya mau bertanya, bagaimana dengan anak kecil yang jadi korbannya?

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Meneroka Permukiman Masa Lalu Lembah Seribu Mejan

Senin, 22/7/24 | 19:09 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Menjadi Orang Tua Tidak Sempurna

Minggu, 09/6/24 | 10:45 WIB

Ada stereotip yang aneh dari kejadian-kejadian di atas. Setidaknya menurut saya. Akan tetapi, kerap dibenarkan bahkan dilakukan dalam keseharian. Bagi saya, di sini terjadi kesalah-kaprahan yang cukup memprihatinkan. Pihak yang sepatutnya disalahkan seolah mendapat pembenaran, sedangkan yang menjadi korban ditambahkan beban kesalahan.

Kasus pertama, aksi si maling seakan mendapat tempat. Seolah-olah perbuatan dengan niat serta kesempatan yang ia dapatkan dimaklumi. Kemudian yang disalahkan ialah kesembronoan si korban. Kasus kedua, masih berdasar pemahaman ‘setidaknya menurut saya’ tadi, pernikahan salah satunya didasari prinsip saling setia dan saling melengkapi. Jika di tengah jalan ada pasangan yang melenceng, yang salah tetaplah si pelenceng. Tak ada istilah sebab-akibat dalam kasus yang diceritakan di atas. Artinya, kesalahan tidaklah terletak pada teman tante saya yang tidak merawat diri.

Kasus ketiga, korban pelecehan tidak hanya dari satu kalangan. Banyak di antara kita tahu hal itu, akan tetapi masih ada yang seolah-olah tidak mau tahu. Masalah berpakaian masih diperdebatkan. Padahal, pelecehan seksual tidak memandang pakaian seseorang. Belgia pernah mengadakan pameran dengan memajang sejumlah pakaian milik korban kekerasan seksual. Pameran yang sama juga pernah diadakan di Indonesia, tepatnya di Bandung pada tahun 2019. Pakaian-pakaian yang dipajang tampak biasa, seperti pakaian sekolah, baju anak-anak, piyama, celana dan baju panjang, pakaian berhijab, pakaian olahraga, gaun, dan pakaian biasa lainnya. Pameran itu salah satunya menunjukkan bahwa pelecehan seksual bukanlah dikarenakan pakaian korban.

Terkadang masih ada yang seolah-olah “mewajarkan” perbuatan pelaku itu. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, di mana ada kesempatan di situ ada niat. Padahal sudah jelas dia keliru dan moralnya terganggu. Bukankah pelaku yang memiliki niat akan selalu mencari bahkan menciptakan kesempatan? Sebetulnya, begitu banyak stereotip aneh yang seringkali dianggap wajar. Stereotip yang kalau dipikir ulang menimbulkan perntayaan ‘kok jadi begini ya? Padahal seharusnya begitu?

Tags: Lastry Monika
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Membeli Pelangi” Karya Ulul Ilmi Arham dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

Jalan Lurus Pengusaha dan Politisi H. Moh. Saleh Asnawi

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Rumah dan Kenangan yang Abadi

Minggu, 24/8/25 | 21:15 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Minggu lalu, tepat pada 17 Agustus 2025, saya menulis sebuah catatan...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tuah Rumah

Minggu, 17/8/25 | 19:03 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Dalam dua tahun terakhir, rumah saya di kampung lebih sering sepi....

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Rahasia di Balik Semangkuk Mi Rebus

Minggu, 10/8/25 | 19:24 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Sore itu, hujan mengguyur tanpa henti sejak siang, menebar hawa dingin yang merayap masuk...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Melangkah Pelan dalam Dunia Pernaskahan: Catatan dari Masterclass Naskah Sumatera

Minggu, 03/8/25 | 21:28 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Menjadi peserta Masterclass Naskah Sumatera yang diadakan oleh SOAS University of...

Suatu Hari di Sekolah

Fiksi dan Fakta: Dua Sayap Literasi

Minggu, 27/7/25 | 16:28 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Perdebatan soal bacaan fiksi dan nonfiksi kerap muncul di...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Ruang Bernama Kita

Minggu, 20/7/25 | 21:04 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Pada 16 Februari 2025, saya pernah menulis di rubrik...

Berita Sesudah
Biografi Moh. Saleh Asnawi

Jalan Lurus Pengusaha dan Politisi H. Moh. Saleh Asnawi

Discussion about this post

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Pelaku Narkoba Ditangkap, Rekonstruksi Peredaran Sabu di Bukittinggi Terungkap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024