Jumat, 29/8/25 | 11:18 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Pick Me Girl

Minggu, 08/5/22 | 10:19 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id) 

 

Setelah diingat-ingat lagi, ternyata saya pernah menjadi seorang pick me girl. Ketika itu, saat membagikan sebuah gambar dua orang perempuan tengah mencuci muka. Perempuan pertama tengah mengaplikasikan rangkaian skincare. Perempuan kedua hanya mencuci wajah dengan air dari keran di kamar mandi. Lalu saya menunjuk perempuan kedua dan menyertakan takarir, “Aku banget!”.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Rumah dan Kenangan yang Abadi

Minggu, 24/8/25 | 21:15 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tuah Rumah

Minggu, 17/8/25 | 19:03 WIB

Melalui unggahan itu, saya tengah mencoba menunjukkan bahwa saya berbeda dengan perempuan lain. Saat itu, saya menilai perempuan yang memakai skincare adalah perempuan rempong yang ingin terlihat cantik. Padahal, itu amatlah wajar. Setiap orang mungkin menginginkannya. Perbedaannya, saya menjatuhkan perempuan lain untuk menunjukkan eksistensi saya. Belakangan, saya justru ikutan memakai beragam skincare. Nyatanya, itu bukanlah sebuah kerempongan, tetapi sebuah upaya untuk merawat kulit agar sehat. Dan tentu saja, terlihat glow up adalah keinginan yang wajar.

Pick me girl lain yang pernah saya lakoni ialah perkara make up. Ketika mengobrol dengan beberapa orang kawan, saya pernah berujar bahwa saya hanya memakai bedak bayi. Ketika itu, perempuan seusia saya mulai memoles wajah mereka dengan make up, tetapi di hadapan kawan-kawan itu saya justru mengaku tidak kenal make up. Padahal, sewaktu kecil pernah memakainya, bahkan dibelikan ibu make up khusus karena sering memakai punyanya diam-diam.

Perkara perempuan hijrah, saya juga pernah berlaku seperti dua hal di atas. Kalau tidak keliru, ketika menginjak semester dua di perkuliahan, saya mengubah penampilan. Ke kampus, saya mulai memakai rok, baju lengan panjang, dan kerudung dua lapis. Ketika itu, saya merasa lebih baik dari kawan-kawan, sepertinya saya juga melontarkan kata-kata yang merendahkan kawan-kawan. Keistiqomahan berhijrah hanya berlangsung selama satu semester. Semester berikutnya penampilan saya berubah seperti biasa. Di saat ini, muncul sikap pick me girl yang lain.

Saya merasa menjadi seorang kutu buku hanya karena membaca lebih banyak buku dari kawan-kawan perempuan lainnya. Padahal, belum tentu benar dan bisa saja dipastikan salah. Hanya karena kawan-kawan membawa tas salempang kecil ke dalam kelas, sedangkan saya membawa tas dengan beberapa buku, saya kira mereka tidak ada yang berniat belajar serius. Hal begini pun pernah saya lontarkan kepada saudara. Kira-kira saya berkata begini, “Kamu punya teman perempuan yang kalau ada kelas cuma bawa tas kecil nggak sih? Isinya kadang juga cuma hape, lipstik, dan tisu. Aku kok malah bawa tas yang isinya buku-buku semua, ya?” Aduh! Untuk kelakuan pick me girl ini, saya mohon maaf!

Tidak berhenti sampai di sini, mungkin saja tidak ada henti-hentinya tanpa saya sadari. Ketika kuliah, saya bergabung dengan organisasi mahasiswa pencinta alam. Perempuan-perempuan yang bergabung biasanya mereka yang tomboi dan minim kesan feminin. Saya pun mulai menilai perempuan lain (yang memakai skincare, make up, ke kelas bawa tas kecil) sebagai perempuan menye-menye, lemah, dan tidak peduli dengan isi kepala. Pick me girl ini, sungguh keterlaluan.

Akan tetapi, juga perlu diketahui pick me girl tidak hanya dilakoni perempuan, lelaki juga demikian. Fenomena itu bisa dilakoni oleh siapa pun. Bila diingat-ingat, saya juga pernah berjumpa pick me boy, yaitu membuat dirinya terlihat berbeda sembari menjatuhkan orang lain. Mungkin pula, tulisan ini juga bagian dari sikap pick me girl saya. Lebih baik disudahi saja.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Riza Mika Wijaya

Berita Sesudah

Sastra Australia Alternatif Bacaan Anak-Anak Indonesia

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Rumah dan Kenangan yang Abadi

Minggu, 24/8/25 | 21:15 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Minggu lalu, tepat pada 17 Agustus 2025, saya menulis sebuah catatan...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tuah Rumah

Minggu, 17/8/25 | 19:03 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Dalam dua tahun terakhir, rumah saya di kampung lebih sering sepi....

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Rahasia di Balik Semangkuk Mi Rebus

Minggu, 10/8/25 | 19:24 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Sore itu, hujan mengguyur tanpa henti sejak siang, menebar hawa dingin yang merayap masuk...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Melangkah Pelan dalam Dunia Pernaskahan: Catatan dari Masterclass Naskah Sumatera

Minggu, 03/8/25 | 21:28 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand)   Menjadi peserta Masterclass Naskah Sumatera yang diadakan oleh SOAS University of...

Suatu Hari di Sekolah

Fiksi dan Fakta: Dua Sayap Literasi

Minggu, 27/7/25 | 16:28 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Perdebatan soal bacaan fiksi dan nonfiksi kerap muncul di...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Ruang Bernama Kita

Minggu, 20/7/25 | 21:04 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Pada 16 Februari 2025, saya pernah menulis di rubrik...

Berita Sesudah
Sastra Australia Alternatif Bacaan Anak-Anak Indonesia

Sastra Australia Alternatif Bacaan Anak-Anak Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    Kominfo Dharmasraya Diduga Jadi Biang Kegaduhan Soal Pembahasan Asistensi APBD-P 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukittinggi Didorong Jadi Kota Beradat, Berbudaya, dan Ramah Pejalan Kaki

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Solok Tutup Safari Berburu Hama, Dorong Perlindungan Pertanian dan Silaturahmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 401 PPPK di Pesisir Selatan Resmi Dilantik, Bupati Ingatkan Jangan Gadaikan SK ke Bank

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buzzer, Kominfo, dan Tensi Politik Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Pelaku Narkoba Ditangkap, Rekonstruksi Peredaran Sabu di Bukittinggi Terungkap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024