Senin, 06/7/26 | 22:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Mengenal Keigo, Ragam Hormat dalam Bahasa Jepang

Minggu, 24/4/22 | 07:00 WIB

Oleh: Dini Maulia, S.S., M.Hum.
(Dosen Sastra Jepang Unand dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora UGM)

 

Masyarakat Jepang memiliki karakteristik sangat berhati-hati dalam berkomunikasi dengan lawan bicara.  Mereka memiliki sensitivitas yang tinggi dan memperhatikan hubungan sosial dengan lawan bicara dalam berkomunikasi. Reischauer (2004: 8) menyatakan bahwa bentuk sensitivitas bahasa bangsa Jepang berkaitan dengan letak geografis daerah Jepang yang terpisah dengan negara lain.  Faktor ini kemudian membentuk ideologi masyarakat Jepang.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Salah satu ideologi masyarakat Jepang dapat dilihat melalui bentuk bahasa yang mereka miliki. Duff (2019) menyatakan bahwa ideologi bahasa merupakan seperangkat keyakinan atau pandangan mengenai bahasa mencakup pembicara dan bagaimana suatu bahasa digunakan untuk berbicara. Ini kemudian dikaitkan dengan bagaimana bahasa kemudian dinilai lebih benar atau lebih tepat secara bentuk yang tercakup dalam ideologi dan legitimasi pengguna bahasa sebagaimana yang dikemukakan oleh Bourdieu (1991) dan O’Rourke dan Walsh ( 2015).

Shindo (2015: 94) menyatakan bahwa dalam budaya Jepang dikenal istilah herikudaru yang berarti berinteraksi dengan bersikap menghormati orang lain. Interaksi tersebut ditunjukkan dengan sikap bahwa lawan bicara merupakan pihak yang posisinya untuk dihormati dan salah satu penghormatan dapat dilakukan dengan cara merendahkan posisi diri sendiri sebagai pembicara.

Bentuk penghormatan ini banyak jenisnya dan dapat dilihat dari bahasa verbal maupun nonverbal. Budaya ojigi salah satunya. Ojigi berarti membungkuk yang dikenal sebagai bentuk penghormatan khas budaya Jepang dalam menghadapi lawan bicaranya. Ojigi sebagai satu bentuk komunikasi nonverbal dalam bahasa Jepang yang digunakan dalam menyampaikan salam kepada lawan bicara.

Bentuk sudut ojigi akan berbeda antara satu dan lainnya tergantung kepada tingkat sosial lawan bicara (Amri, 2019). Semakin membungkuk bentuk ojigi yang dilakukan menandakan semakin tinggi bentuk penghormatan yang dilakukan pembicara kepada lawan bicaranya.

Begitu pun dalam bentuk bahasa verbal. Salah satu bentuk penghormatan yang dilakukan masyarakat Jepang yang disampaikan dalam bentuk bahasa dapat dilihat dari pemilihan ragam bahasa yang digunakan. Melalui pemilihan ragam dalam bahasa Jepang, kita dapat mengetahui status sosial pembicara maupun lawan bicara yang telibat dalam sebuah percakapan. Hal ini disebut dengan istilah keigo, yaitu salah satu ragam bahasa sopan dalam bahasa Jepang yang dapat dilihat dari pilihan maupun bentuk kata yang digunakan.

Ragam bahasa keigo terbagi atas dua bagian, yaitu sonkeigo ‘bahasa menghormati’ dan kenjyougo ‘bahasa merendahkan diri’ (Ogawa, 2001:149). Sonkeigo adalah ragam bahasa yang digunakan untuk menghormati lawan bicara atau orang yang dibicarakan yang berkaitan dengan kegiatan atau keadaan lawan bicara dan orang yang dibicarakan. Kemudian, kenjyougo adalah bahasa untuk menunjukkan rasa hormat pembicara kepada lawan bicara maupun orang yang menjadi topik pembicaraan dengan merendahkan perilakunya sendiri (Ogawa, 2001: 152).

Sonkeigo

Menurut Makino dan Tsutsui (2002), sonkeigo terbagi atas beberapa bentuk. Pertama, dalam bentuk afiks. Salah satu afiks penanda ragam hormat dalam bahasa Jepang ditandai dengan imbuhan berupa awalan. Terdapat dua jenis afiks yang menjadi pembentuk struktur ragam hormat, yaitu (1) awalan go dan (2) awalan o. Perbedaan keduanya dibedakan atas jenis kata yang dilekati.

Awalan o akan melekat pada kata yang merupakan bahasa asli Jepang, sedangkan awalan go melekat pada kata yang berasal dari bahasa China. Dalam penggunaannya, awalan ini dapat melekat pada kelas kata nomina, adjektiva, dan adverbia, misalnya ohashi  ‘sumpit’, gohan ‘nasi’, dan goyukkuri ‘perlahan-lahan’

Kedua, dalam bentuk verba. Verba yang digolongkan dalam ragam bahasa sonkeigo memiliki bentuk kata tersendiri yang berbeda dengan kata dalam ragam bahasa biasa. Verba ini dapat dilihat dari beberapa contoh, seperti irasshaimasu yang merupakan verba ragam hormat sonkeigo yang memiliki makna yang sama dari verba ragam biasa ikimasu ‘pergi’, kimasu ‘datang’, dan  imasu ‘ada’. Juga ada meshi agarimasu merupakan verba ragam sonkeigo yang memiliki makna yang sama dari verba biasa tabemasu  ‘makan’ dan nomimasu ‘minum’.

Ketiga, dalam bentuk pemajemukan. Hal ini dapat dilihat melalui contoh okaeri ni narimasu. Bentuk ini berasal dari verba kaerimasu yang berarti ‘pulang’, yang berubah dengan penambahan awalan o kemudian ditambah dengan bentuk ni narimasu. 

Keempat, dalam bentuk pasif. Perubahan verba dalam bentuk pasif juga sebagai tanda bahwa sebuah kalimat juga menggunakan struktur ragam hormat. Berikut contoh kalimatnya.

中村さんは7時にこられます

Nakamura san wa nana ji ni koraremasu

‘Tuan Nakamura datang pukul 7’

Kalimat (1) menggunakan bentuk pasif koraremasu yang berarti ‘datang’ sebagai penanda struktur ragam hormat.

Kenjyougo

Ragam kenjougo dibedakan oleh Makino dan Tsutsui (2002) dalam beberapa bentuk. Pertama, dalam bentuk afiks o- dan go-  yang merupakan penanda struktur kenjyougo dalam kalimat. Pertama, dalam bentuk verba. Seperti pada ragam sonkeigo, verba dalam ragam kenjougo juga memiliki beberapa bentuk tersendiri yang berbeda dengan ragam biasa, seperti haikenshimasu merupakan ragam kenjougo dari kata mimasu yang berarti ‘melihat’. Verba moushimasu yang memiliki arti yang sama dengan verba iimasu dalam ragam biasa yang berarti ‘mengatakan’.

Kedua, dalam bentuk pemajemukan. Pemajemukan dapat dilihat melalui contoh omachi shimasu yang berasal dari verba machimasu yang berarti ‘menunggu’ yang ditambah awalan o dan verba shimasu ‘melakukan’ di belakangnya.

Fungsi Ragam Sonkeigo dan Kenjougo

Selain memiliki klasifikasi bentuk yang berbeda, ragam sonkeigo dan kenjougo juga digunakan dengan cara yang berbeda. Seorang pembicara akan menggunakan ragam sonkeigo ‘meninggikan lawan bicara’ untuk menyatakan segala hal yang berhubungan dengan lawan bicara yang lebih tinggi status sosialnya.

Ragam sonkeigo juga digunakan untuk menyatakan hal yang ada pada seseorang yang tidak hadir di dalam percakapan (disebut dengan orang ketiga). Fungsi ragam sonkeigo di sini bukan menunjukkan penghormatan kepada yang dibicarakan, melainkan menunjukkan rasa hormat kepada status sosial lawan bicara (Niyekawa, 1991).

Sementara itu, ragam kenjougo akan digunakan untuk ‘merendahkan diri’ ketika menyampaikan segala hal yang berkaitan dengan dirinya kepada lawan bicara yang status sosialnya lebih tinggi.  Wujud serta bentuk penggunaan ragam keigo yang kompleks menimbulkan kesulitan bagi para penggunanya.

Bagi pembelajar bahasa asing, keigo menjadi salah satu aspek yang paling sulit dikuasai oleh para pembejar bahasa asing. Selain faktor kompleksitas penggunaannya, keigo juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat Jepang yang juga terkadang tidak percaya diri untuk menggunakan ragam keigo dalam berkomunikasi (Carroll, 2005).

Wetzel (2004) mengatakan bahwa dahulunya kehadiran konsep keigo digunakan sebagai bentuk ideologi yang menunjukkan adanya hierarki sosial dalam masyarakat Jepang. Namun, saat ini fungsi keigo telah bergeser. Masyarakat Jepang menggunakan ragam bahasa ini sebagai bentuk ekspresi rasa hormat dalam berkomunikasi.

Tags: #Dini Maulia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Reno Wulan Sari

Berita Sesudah

Hamper Lebaran

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Ria Febrina

Hamper Lebaran

Discussion about this post

POPULER

  • Politisasi SK di Tubuh Organisasi Garuda KPP-RI Sumbar

    Politisasi SK di Tubuh Organisasi Garuda KPP-RI Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Eliza Nuzul Fitria

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026