Jumat, 20/3/26 | 04:12 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Mengenal Tata Cara Penulisan Partikel tak, pun, -lah, -kah, dan -tah

Minggu, 10/4/22 | 07:35 WIB
Oleh: Elly Delfia, S.S., M.Hum. (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Sebagai penutur bahasa Indonesia, sudah selayaknya kita mengenal dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik sampai unsur-unsur terkecil. Tindakan ini juga mendukung petisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim baru-baru ini yang mengajukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di wilayah ASEAN. Kemendikburistek disebut sebagai lembaga pemerintah diberi amanat untuk mengembangkan, membina, dan melindungi bahasa dan sastra Indonesia serta meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional (Detik.com, 08 April 2022). Untuk itu, sudah selayaknya kita memahami penggunaan bahasa Indonesia sampai unsur terkecil sebagai salah satu upaya mendukung petisi tersebut.

Salah satu unsur terkecil dalam bahasa Indonesia adalah partikel. Partikel merupakan salah satu unsur lingual atau unsur bahasa terkecil yang membentuk kalimat dalam bahasa Indonesia. Kridalaksana (2008:174) mendefinisikan partikel (particle, grammatical word) dengan kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan yang mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, misalnya preposisi di, dari, konjungsi, seperti dan, atau, dsb. dan ia membagi partikel atas tiga, yaitu 1) Partikel ingkar (negative word) merupakan bentuk yang berfungsi mengubah klausa menjadi klausa ingkar, contoh tak dalam bahasa Indonesia, 2) partikel penegas (emphatic word) merupakan bentuk yang berfungsi untuk mengungkapkan penegasan, contohnya –lah dan partikel -pun. 3) partikel tanya merupakan partikel yang digunakan untuk menandai kalimat tanya, contohnya -kah dan –tah.

Masing-masing partikel sudah diatur tata cara penulisannya dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Pertama, tata cara penulisan partikel tak penanda negasi, Contohnya:

  1. Ia tak menganalisis wacana “Presiden Tiga Periode” dengan benar.
  2. Nenek sudah lama tak makan gula.
  3. Presiden Jokowi tak datang ke Padang.
  4. Bu Ani tak memberikan PR hari ini.
  5. Adik semalam tak pulang ke rumah.

Kedua, tata cara penulisan partikel pun. Tata cara penulisan partikel ini terbagi lagi atas dua, yaitu 1) Penulisan partikel -pun yang digabung dengan kata yang mendahuluinya dan partikel pun yang dipisah dengan kata mendahuluinya. Partikel -pun yang digabung dengan kata yang mendahuluinya berfungsi sebagai kata penghubung atau konjungsi. Partikel -pun tersebut ada tujuh, yaitu adapun, andaipun, ataupun, sungguhpun, sekalipun, biarpun, dan bagaimanapun. contohnya :

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB
  1. Adapun hasil keputusan rapat hari ini adalah memutuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua ASEAN.
  2. Andaipun kau tidak datang hari itu, aku tetap akan menemuimu.
  3. Saya ataupun dia sama-sama keras kepala.
  4. Sungguhpun wacana pemindahan ibu kota baru beredar di masyarakat, hal itu tidak memengaruhi kesibukan di ibu kota Jakarta.
  5. Sekalipun hujan turun membasahi tanah, sawah tetap belum berair.
  6. Dia tetap tidak mengindahkan nasihat orang tua biarpun sudah dinasihati.
  7. Semua anggota dalam organisasi harus tetap solid bagaimanapun keadaannya.

Contoh penulisan partikel pun yang dipisah dengan kata yang mendahuluinya.

  1. Di mana pun kau berada saat ini, ingatlah jalan pulang.
  2. Setinggi apa pun terbang bangau, pulangnya pasti ke kubangan juga.
  3. Tidak pun kau katakan isi hatimu, aku sudah mengetahuinya.
  4. Dalam masa ujian pun, mahasiswa tetap berdemonstrasi.
  5. Panggilan telepon tidak dijawabnya satu kali pun saking kecewanya.

Ketiga, partikel -lah berfungsi sebagai penegas dan sebagian berfungsi menegaskan kalimat perintah. Penulisan partikel -lah yang benar adalah digabung dengan kata yang mendahuluinya, contohnya:

  1. Sudahlah jangan menangis lagi!
  2. Pergilah kamu ke sekolah!
  3. Cepatlah selesaikan makanmu!
  4. Berpuasalah dengan menahan lapar dan haus.
  5. Menabunglah dari sekarang demi masa depan!

Keempat, partikel -kah dan -tah merupakan partikel penyerta kata tanya. Penulisan partikel -tah dan -kah juga digabung dengan kata yang mendahuluinya, contohnya:

  1. Apakah pesan yang tersirat dalam roman Siti Nurbaya?
  2. Benarkah ibu kota negara baru lebih baik daripada Jakarta?
  3. Sudahkah Anda sahur hari ini?
  4. Apatah jadinya negara ini jika banyak orang melakukan korupsi?
  5. Apatah gunanya menyebut-nyebut keburukan orang lain?

Partikel tanya -kah dan -tah juga mengalami sedikit perbedaan dari segi frekuensi penggunaannya. Partikel -kah lebih sering digunakan untuk menyertai kata tanya dibandingkan dengan partikel -tah. Artinya, dari segi produktivitas pemakaian, partikel -kah lebih produktif daripada partikel -tah saat menyertai kata tanya dalam bahasa Indonesia.

Demikian ulasan singkat mengenai partikel dalam bahasa Indonesia. Dengan mengenal definisi partikel, mengetahui tata cara penulisannya, dan menggunakan dengan benar saat menulis, kita turut menjaga kelestarian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan turut mendukung petisi bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua yang digunakan di wilayah ASEAN. Semoga.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Surya Hafizh dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Sisi Lain Pengguna Kacamata

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Di laman Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Berita Sesudah
Yang Istimewa dan Khas Itu Namanya Kusuih

Sisi Lain Pengguna Kacamata

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Hari Raya Idulfitri dan Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengulangan Makna dalam Penggunaan Kata Berimbuhan Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasangan Kata “Bukan” dan “Tidak” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026