Selasa, 16/12/25 | 18:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Es Krim dan Alasan “Renyahnya”

Minggu, 13/2/22 | 10:27 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

Bila ada yang menanyakan apakah makanan favorit anda? Maka akan secara spontan saya menjawab es krim. Jika pertanyaan itu ditujukan kepada pembaca, kuat dugaan banyak yang memiliki jawaban sama dengan saya. Aneka olahan es krim memang banyak digemari oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Hal yang membuat saya sangat gemar untuk mencicipi es krim adalah kombinasinya dengan makanan lain. Sepertinya makanan yang satu ini mengajarkan kita untuk selalu berpikir kreatif. Ada “rahasia” kelezatan yang tersimpan dari setiap perpaduannya.

Bagi saya jika hanya memakan es krim tanpa dipadukan dengan yang lain rasanya ada yang kurang, entah itu es krim vanila, coklat, alpukat, durian, atau aneka campurannya, mungkin juga rasa lainnya. Biasanya paling tidak saya selalu memadukan es krim dengan kue kering untuk menambah kelezatannya. Terkadang, saya juga memadukannya dengan minuman segar, seperti jus pokat, jus mangga, dan es cendol. “Yang penting bukan es krim tok aja”, kira-kira begitulah penjelasannya. Bukan berarti yang hanya hobi makan es krim saja tidak mendapat enaknya rasa makanan tersebut.

BACAJUGA

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Untuk mencari aneka perpaduan es krim pun tidak begitu sulit. Saya kira banyak tempat yang menjualnya, bahkan beberapa di antaranya menjadi menu spesial pula. Mulai dari restoran yang menjadi tempat tongkrongan favorit milenial dan instragamable, hingga yang berjualan keliling. Semuanya menyajikan keunikan tersendiri dengan aneka rasa yang menggugah selera.

Setidaknya ada dua alasan “renyah” yang ingin saya ungkapkan mengenai makanan satu ini. Alasan pertama, es krim merupakan makanan yang mengajarkan kita untuk dapat beradaptasi baik dengan lingkungan sekitar. Tidak begitu berlebihan kiranya kalau saya nyatakan bahwa makanan ini mengajari kita makna dan filosofi hidup. Bagi yang pernah mencoba minuman jus (jus buah naga, mangga, dan alpokat) atau aneka es cendol yang dipadukan dengan es krim, tentu dapat membayangkan betapa segar dan enaknya minuman tersebut.

Kehadiran es krim memberikan sensasi unik dalam menikmati aneka jus dan es cendol. Bahkan perpaduan es krim dengan aneka jus tersebut tanpa mengurangi rasa buahnya, justru rasa yang dihasilkan lebih enak. Selain itu, jika kita melihat daftar harga dan menus, harga yang ditawarkan dari minuman jus dengan campuran es krim pun lebih mahal. Bagi saya ini membuktikan bahwa kehadiran es krim memberi nilai lebih. Hal itu mengingatkan saya, bahwa kehadiran kita bagi lingkungan sekitar hendaklah dapat memberikan manfaat dan nilai lebih.

Alasan kedua, es krim mengajarkan saya untuk selalu kreatif dan inovatif. Bagi saya ada rasa lebih jika makan es krim dengan kue kering atau roti tawar. Tidak hanya itu, campuran aneka rasa es krim juga menjadi hal menarik untuk dilakukan. Setidaknya, bagi saya meramu aneka rasa es krim menjadi hal menarik untuk dilakukan. Namun begitu, terkadang saya juga berpikir apakah perlu alasan untuk menyukai sebuah makanan? Pada suatu kesempatan saya pernah diingatkan teman bahwa tidak perlu alasan untuk menyukai suatu hal. Begitupun tidak perlu alasan untuk menyukai sebuah makanan, karena rasa suka tidak butuh alasan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pertarungan Sosial dalam Kenduri Arwah, Sebuah Analisis Wacana Kritis

Berita Sesudah

Cerpen “Kesempatan Kedua” oleh Sakura Alvino dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Satu Lagu Untuk Pulang

Minggu, 19/10/25 | 20:11 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Minggu lalu, saya menulis tentang kebiasaan aneh tapi menyenangkan, mendengarkan satu lagu saja, berulang-ulang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Minggu, 12/10/25 | 19:23 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Entah mengapa, hari itu saya hanya ingin mendengarkan satu lagu. Satu lagu saja! Padahal...

Berita Sesudah
Cerpen “Kesempatan Kedua” oleh Sakura Alvino dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Cerpen "Kesempatan Kedua" oleh Sakura Alvino dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Perilaku Asusila Oknum Guru ASN, Donizar Desak Kadisdik Sumbar Lakukan Pemberhentikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indikasi Kelalaian Ditemukan di Limbah PT DL, Masyarakat Desak Pihak Berwenang Tuntaskan Kasus dan Tak “Main Mata”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Muswil PKB Sumbar Tetapkan Enam Calon Ketua Tanfidz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga Amankan Sampel Limbah Diduga Bocor dari PT Dharmasraya Lestarindo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024