Selasa, 13/1/26 | 20:04 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI PUISI

Puisi-puisi Mhd. Irfan

Minggu, 10/10/21 | 07:00 WIB

Kepada Yepeye

Aku melihat mata bertangga
menuju sebuah kolam pecah di rantau angin
di sana bunga-bunga merayap di bawah lumut
dan seekor buaya menggenggam telur ayam

Aku melihat perca-perca mata tangga
jatuh membedak ke lantai kayu
dihinggapi lalat hijau, dikerubungi semut merah
dan awan menggenang di sana

Aku melihat tangga mata
turun dari lereng bersaga—pembiasan
memulangkan yang tertinggal dalam pengulangan tahun
air membeku di lantai utama

Aku melihat mata bertangga pada cinta yang patah
tangga matanya ialah mata tangga yang tajam
tuan lain—rumah baginya
yang tersenyum dalam pagutan entah ke berapa

BACAJUGA

Puisi-Puisi Mhd. Irfan

Puisi-Puisi Mhd. Irfan

Minggu, 05/6/22 | 07:00 WIB

Puisi-Puisi Mhd. Irfan

Minggu, 05/9/21 | 07:00 WIB

Kandang Pedati, 2021

 

Kepada Yepeye II

Jantungku berdetak sesak
pertanda resah berkepanjangan di ulu hati
setajam sembilu menyayat-nyayat
tak bisa kusebut lagi tentang damai sebelumnya kusimpan di tubuhmu
yang kian biru, dan menjadi tuba di detikku

Aku salah memberikan alamat kepadamu
tiada terkata oleh lidah
seolah mulutku telah dililit ular
dada tipis, telinga selembar kapuk
aku memberi tinggal pada rumah tuan lain
seperti gelombang pasang menghantamku berkali-kali
seperti dipiyuh angin kusut sepanjang jaga
harap tak menemu sua
tak berbalas genggaman

Menggenggam yang lain
pada sajak ini, aku melepas resah
melepas segala yang pilu
merawat sakit
sebagai ingatan kekecewaan

Kandang Pedati, 2021

 

Kepada Yepeya III

Selain sakit yang menyansam di tubuhku
ada rindu yang berpintalan di hati
bertuan, tak berbalas

Aku serupa dendang iba di sepanjang ingatan
namun kau telah mematahkan harap
sayap yang kukepakkan kepadamu
kau putus dengan sekali tebasan
pedang bermata dua

Potret itu menjadi duri di jantungku
menjadi remuk di lubuk terdalam
bagaikan aku kau bawa terbang setinggi aras
dan kau hempaskan ke dasar bumi

Kandang Pedati, 2021

 

 Kepada Yepeye IV

Hidangan hari ini, bukan lagi perperangan
revolusi, dan perjuangan
namun mental sakit dari harap yang ditebas
seperti puisi ini tentang penanggalan habis

Telah aku pancang, telah aku beri batas
Cukup!
Pergilah!

Tuba yang kau selipkan di potret itu
menjelma demam lain di badan
obat jerih pelerai demam, sudah tamat
sekali berbuat, lantas esok kau akan mati
meski aku terus mengingat
dan seperti menelan batu cadas
mengoyak-ngoyak tubuhku

Aku menjadi bagian yang hilang di tiap halamanmu
menjadi kertas buram yang kau pakai sesekali
ketika dekapnya tak lagi menuankan dirimu
itulah kebodohan yang tak pernah kupintari darimu beberapa minggu ini!

Kandang Pedati, 2021

 

Kepada Yepeye V

Hanya sajak yang bisa kucumbui
dari tinggam yang kau tancapkan di tubuhku
mulutku seketika terkunci

Aku membatu, tiada menemu sandar
cintaku telah luruh dan hanyut ke muara
ingatan itu seperti bekas yang ingin aku tebus
tapi tiap-tiap tangan akan menggenggam
jiwaku kau kubur dengan kepolosan
sakit lain itu kujumpai kembali
saat aku telah mengenal diri
mengenal kesetiaan

O, renungan,
O, perigi mata,

Dihantam bulan purnama
tapi kau mengungkit ingatan itu

Aku tak ingin kembali ke sana
sebab kau bukanlah cinta yang dulu
pergilah,
biarkan aku di sini memelihara sakit lain

Kandang Pedati, 2021

 

Kepada Yepeya VI

Jika ingatan merasuk tajam ke kepala
maka bersiaplah untuk pergi
sebab ini bukanlah permainan ular tangga
sekali datang, sekali itu menjadi bisa

Aih, sungguh kepulangan yang benar-benar pulang
masih kucari di antara lekuk-lekuk hati yang kau karati
—bukan kau terlalu jenius terhadap kepolosan
antara kejujuran dan simbol pembatasan
sebab mulutku telah berhenti bergerak
dan hati serasa lerak

Lewat sajak ini, aku berpamit!
ruang kosong telah diisi, kosongkanlah kembali
terima dengan kasih kubelasungkawakan kepadamu

Kandang Pedati, 2021

 

Biodata Penulis: 

Mhd. Irfan lahir di Pariaman, 26 September. Ia sedang menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Ia juga aktif menulis esai, puisi, dan cerpen  dan bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Lab. Pauh9. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan elektronik.

Tags: #Mhd. Irfan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Bilingual pada Anak Usia Dini

Berita Terkait

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Minggu, 11/1/26 | 09:26 WIB

  Sumber: Google GeminiAI Di Kota yang Berbeda Oleh: Aliftia Nabila Putri Di sini aku masih sibuk dengan hariku, Sama...

Puisi-puisi Furkon Patani

Puisi-puisi Furkon Patani

Minggu, 28/12/25 | 14:15 WIB

Gambar: Meta AI Jadikanlah Aku Perindu Oleh: Furkon Patani Aku adalah pemabuk cinta Dan aku juga perindu setia Banyak yang...

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Minggu, 07/12/25 | 17:48 WIB

Sumber Gambar: Meta AI Rumah Tanpa Pintu Oleh Indri Rahmadani Di kota ini yang jauh dari ragamu Aku belajar berhitung...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Minggu, 30/11/25 | 15:51 WIB

Sumber: Meta AI Sehangat Kepulan Kopi Oleh Wulan Darma Putri Dalam getaran cinta Kau mengukir hati yang luka Memberiku segala...

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Minggu, 16/11/25 | 19:38 WIB

Menebak Pikiran Amir Oleh: Afny Dwi Sahira Sendu mata Amir rindu Buya Mengingat Buya semasa hidup Peninggalan Buya memenuhi memori...

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Minggu, 02/11/25 | 18:34 WIB

Sumber: Meta AI Penjara Air Oleh: Delivia Nazwa Syafiariza Air pernah jadi kebebasan Sirip pernah menari tanpa batas Lalu datang...

Berita Sesudah
Bilingual pada Anak Usia Dini

Bilingual pada Anak Usia Dini

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tuntut Hak Plasma 20 Persen, Ribuan Warga Asam Jujuhan Unjuk Rasa ke PT TKA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Rimbo Nan Tak Luko” Karya Tasya Syafa Kamila dan Ulasannya Oleh Azwar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Tinjau Jalan Berlubang di Ampang Kuranji, Gerak Cepat dengan PU Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024