Rabu, 15/4/26 | 12:38 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pameran Kekayaan Memicu Lahirnya Bandit Sosial

Minggu, 18/4/21 | 07:00 WIB

Oleh: Elfahmi Lubis
(Ketua Program Studi PPKN Universitas Muhammadiyah, Bengkulu)

Tulisan ini tidak mewakili mereka yang menjadi fans berat “pemuja” selebritis dan kaum “The Have” atau berpunya, tetapi hanya untuk mewakili lorong-lorong dan relung-relung hati serta rasa keadilan orang-orang miskin yang menjadi mayoritas di negara ini.

Saya menyadari kritikan “nakal” ini akan dilawan oleh para “lovers” selebritas dengan tudingan lebai, pansos, dan iri hati, tetapi saya pasti tidak sendiri. Saya punya teman, yaitu lorong-lorong dan relung-relung hati yang berharap datangnya keadilan dan kesejahteraan. Saya akan mewakili keresahan ini dengan menyajikan data orang miskin di Indonesia menurut  BPS. Menurut lembaga data ini, jumah orang miskin di Indonesia saat ini sekitar 10%-12% dari total jumlah penduduk. Indikator kemiskinan yang dipakai untuk menyatakan orang miskin adalah mereka yang berpenghasilan sekitar 400-500 ribu per bulan, sebenarnya rendah sekali. Jika indikator kemiskinan itu dinaikkan mereka yang berpengasilan sekitar 1-1,5 juta perbulan, dapat dipastikan penduduk miskin Indonesia bisa mencapai sekitar 30%-40% dari total jumlah penduduk.

BACAJUGA

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB
Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Namun, anehnya kita saban hari di berbagai fitur media sosial, media mainstream, dan YouTube menyaksikan ada segelintir orang di republik ini mempertontonkan gaya hidup glamour, hedonisme, umbar kekayaan, dan barang mewah impor di hadapan publik. Bahkan, pesta mahal bertabur simbol-simbol kemewahan diumbar secara “brutal” di ruang publik dengan menggunakan space dan saluran frekuensi milik publik dengan durasi waktu panjang. Ironisnya, pesta itu dilegitimasi oleh kehadiran simbol negara. Kita bukan “nyinyir” apalagi “iri hati” dengan keberhasilan seseorang dengan tumpakan kekayaan melimpah, tetapi hanya sekedar mengingatkan bahwa cara mengekploitasi kekayaan, hedonisme, dan gaya hidup glamour itu mencederai rasa keadilan orang-orang miskin dan marginal yang merupakan mayoritas “penghuni” republik ini.

Apakah tidak ada cara lain yang lebih “beradab” dan humanis yang bisa dilakukan daripada sekedar menampilkan “akrobatik” kemewahan yang sangat menyayat hati rakyat. Apakah tidak ada cara yang lebih edukatif untuk mengartikulasi kesuksesan, keberhasilan, dan kerja keras  selain dengan “mengumbar” kemewahan di ruang publik. Apalagi di tengah kondisi bangsa yang sedang “bergabung” sebagai dampak covid–19 yang telah meluluhlantakkan perekonomian masyarakat dan negara. Apakah tidak ada “proyek empati dam simpati” lain yang bisa dilakukan oleh orang yang “The Have”  atau  “The Rich” hanya untuk sekedar menghibur orang yang “Do Not Have”.

Katanya, negara kita negara Pancasila, tetapi kenapa praktik kapitalisasi dan hedonisme yang brutal yang ditonjolkan. Saya hanya mengkhawatirkan jika orang-orang kaya selalu mempertonton kemewahan dan gaya hidup glamour kepada ratusam juta penonton kanal media sosial dan mainstream, hal itu bisa berpotensi memicu terjadinya “revolusi sosial”  di masyarakat. Ingat, dalam banyak teori ilmu sosial,  salah satu faktor yang menyebabkan bangkitnya “anarkisme” dan kemarahan masyarakat kelas sosial rendah bukan karena semata-mata karena kemiskinan mereka, tetapi karena orang-orang yang membuat frustasi, depresi, dan marah. Jika mereka miskin, sudah bekerja keras (meminjam istilah Ade Armando yang sering bikin geram banyak orang), tetapi mereka melihat ada segelintir orang yang dengan mudah menghambur-hamburkan uang dan kekayaan di depan mata dan kepala sendiri setiap hari.

Itulah mengapa “pameran atau show” kekayaan menjadi berbahaya karena bisa menimbulkan “bandit sosial” yang bisa mengancam relasi sosial yang penuh dengan konflik di dalam masyarakat. Kita berharap orang kaya bisa menebar kebaikan pada banyak orang. Kisah sukses dan kerja keras mereka bisa menggerakkan dan menginspirasi banyak orang. Selamat malam. Jangan lupa bahagia

Tags: #Elfahmi Lubis
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Amalia Aris Saraswati

Berita Sesudah

Cerpen “Ketika Uni Lia Pergi” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya...

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Oleh: Gilang Nindra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis...

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Minggu, 12/4/26 | 15:41 WIB

Oleh: Febby Gusmelyyana (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Bahasa adalah sistem komunikasi paling sempurna yang...

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Puisi-puisi M. Subarkah

Konfigurasi Makna Leksikal dan Kontekstual Kata “Siap” dalam Kajian Semantik

Minggu, 05/4/26 | 10:54 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa merupakan sistem tanda yang tidak hanya berfungsi sebagai...

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Berita Sesudah
Cerpen “Ketika Uni Lia Pergi” Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Cerpen "Ketika Uni Lia Pergi" Karya Ali Usman dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sastra Pariwisata di Padang Panjang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandangan Kematian dalam Film Marry My Death Body

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Politisi ke Negarawan, Halim Iskandar Tekankan Arah Kaderisasi PKB di Muscab Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 114 Peserta Paskibraka Dharmasraya Jalani Tes Kesehatan dan Parade

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026