Rabu, 11/2/26 | 14:12 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Mengenal Bentuk Terikat dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 28/3/21 | 09:43 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Banyak hal yang perlu dikenal dan dipelajari dalam bahasa Indonesia, di antaranya bentuk-bentuk lingual atau bentuk kebahasaan. Ada beberapa bentuk lingual dalam bahasa Indonesia selain kata, frasa, dan klausa. Bentuk tersebut di antaranya afiks atau imbuhan dan bentuk terikat. Bentuk terikat merupakan bentuk yang tidak bisa berdiri sendiri dan tidak mempunyai arti jika tidak bergabung dengan kata dasar. Bentuk terikat yang melekat pada kata dasar yang oleh beberapa ahli digolongkan ke dalam prefiks atau awalan (Mulyono, 2013:76). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga tahun 2000 (Mulyono, 2013:77) bentuk-bentuk terikat ini terdiri atas morfem a-, de-, nir-, pro-, pra-, maha, pasca, intra-, ekstra-, dan antar- yang mempunyai arti sebagai berikut:1) a artinya  tanpa, tidak ber- (asusila, asosial), 2) de- artinya menghilangkan, mengurangi (demoralisasi, dekameter), 3) nir- artinya  tanpa, tidak, bukan (nirlaba), 4) pro- artinya sebelum, di depan (proaktif, ), 5) pra- artinya sebelum, di depan (prasejarah, praseminar), 6) maha- artinya sangat, amat, teramat (mahakarya, mahasiswa), 7) pasca- artinya sesudah (pascagempa, pascasarjana), 8) intra- artinya dalam(intrakurikuler, intramolekuler), 9) ekstra– artinya di luar, sangat (ekstrakurikuler, esktrakerja), 10) antar- artinya jarak di antara (antarkota, antarprovinsi)

Selanjutnya, ada bentuk terikat yang lain, seperti non-, anti-, tele-, swa-, sub-, dwi-, semi-, tuna-, dan ultra- dengan contoh-contoh berikut: nonpribumi, antigempa, telewicara, swadaya, dwipurwa, semiprofesional, subbab, tunakarya, dan ultramodern yang penulisannya digabung dengan kata dasar (PUEBI, 2016). Semua bentuk terikat itu ditulis serangkai dengan  kata dasar yang memodifikasinya kecuali bergabung dengan kata dasar berupa nama orang, nama tempat, nama organisasi, dan nama peristiwa yang sudah tercatat dalam sejarah, penulisannya terpisah dan dibubuhi tanda hubung atau strip (-) di antara bentuk terikat dan nama-nama tersebut, contohnya: pasca-Perang Dunia II, pro-Pemerintahan Republik Indonesia, non-KPK, anti-PKI, dan sebagainya.

Selain bentuk terikat yang dijelaskan di atas, ada satu bentuk terikat yang istimewa karena kemampuan bergabung yang tinggi dengan kata dasar lain dan menghasilkan bentuk turunan yang lebih banyak dan lebih variatif. Bentuk terikat tersebut adalah “maha”. Bentuk “maha” setidaknya mempunyai tiga tata cara penulisan dalam bahasa Indonesia karena kemampuan bergabungnya yang lebih tinggi dengan kata dasar lain. Penulisan bentuk terikat ini mempunyai aturan tersendiri dalam bahasa Indonesia.  Ada tiga tata cara penulisan bentuk terikat “maha” seperti penjelasan di bawah ini.

1) Bentuk terikat “maha” ditulis gabung dan kata sesudahnya apabila bertemu kata dasar dan huruf awalnya  ditulis dengan huruf kecil. Contohnya dapat dilihat di bawah ini.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

a. maha- + siswa > mahasiswa: Panitia orasi ilmiah ulang tahun Unand merupakan mahasiswa tingkat akhir.

b. maha- + karya > mahakarya: Lukisan Monalisa merupakan mahakarya hebat dari Leonardo da Vinci.

2) Bentuk terikat “maha” ditulis terpisah dari kata dasar apabila bergabung dengan kata berimbuhan yang menyatakan sifat dan nama Tuhan. Huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital atau huruf besar. Pada posisi ini, bentuk terikat “maha” sekilas terlihat seperti frase dan kata majemuk (kompositum). Contohnya dapat dilihat di bawah ini.

a. Maha + Penyayang > Maha Penyayang: Mari berdoa kepada Tuhan Yang Maha Penyayang.

b. Maha + Pengasih > Maha Pengasih: Kita selalu menerima rezeki dari Tuhan Yang Maha Pengasih.

c. Maha + Melihat > Maha Melihat: Setiap aktivitas manusia diketahui oleh Yang Maha Melihat.

d. Maha + Mengabulkan > Maha Mengabulkan: Tuhan Maha Mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya.

3) Bentuk terikat “maha” ditulis gabung dengan kata dasar dan huruf awalnya ditulis kapital untuk menyebut sifat dan nama Tuhan kecuali kata dasar esa yang ditulis terpisah. Jika kata esa merujuk kepada sifat dan nama Tuhan, huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya ‘satu’. Contohnya dapat dilihat bawah ini.

a. Maha + kuasa > Mahakuasa : Orang-orang berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar Covid-19 menghilang.

b. Maha + besar  > Mahabesar : Saya percaya Allah Mahabesar yang menentukan takdir setiap anak manusia.

c. Maha + luas  > Mahaluas : Kakakku, Andi mempunyai cita-cita menjelajahi bumi Allah Yang Mahaluas?

d. Kakek meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi umur panjang.

Demikian ulasan sederhana tentang bentuk terikat dalam bahasa Indonesia. Semoga mencerahkan dan dapat dijadikan pedoman dalam praktik tulis-menulis sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salam.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Urgensi Mempelajari Bahasa Inggris bagi Masyarakat Zamrud Khatulistiwa

Berita Sesudah

Mengenal Bentuk Terikat dalam Bahasa Indonesia

Berita Terkait

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Minggu, 04/1/26 | 21:16 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih (Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)    Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan...

Berita Sesudah

Mengenal Bentuk Terikat dalam Bahasa Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kamus-kamus sebelum Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lampu Jalan Padam di Dharmasraya, Reviu BPKP Ada Potensi Ketidakwajaran Proyek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Personifikasi dalam Puisi “Lukisan Berwarna” Karya Joko Pinurbo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024