Sabtu, 24/10/26 | 21:08 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Penggunaan Kata Sandang dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 31/1/21 | 10:35 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Kata sandang atau artikula adalah kata yang disandingkan dengan nama orang, nama Tuhan, dan nama binatang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sandang atau artikula atau artikel adalah kata yang digunakan untuk membatasi atau memodifikasi nomina. Kata sandang atau artikula berfungsi untuk mendampingi nomina (Widjono, 2012:174). Nomina di sini maksudnya adalah nama orang, nama atau sebutan untuk Tuhan, dan nama binatang. Kata sandang tidak memiliki arti jika berdiri sendiri. Kata sandang hanya memiliki arti jika bergabung dengan nomina setelahnya.

Kata sandang dalam bahasa Indonesia ada tujuh, yaitu si, sang, para, sri, hyang, hang, dan dang. Kata sandang si, sang, dan para berkembang dengan baik dalam bahasa Indonesia dan masih digunakan hingga kini dalam percakapan sehari-hari, tetapi kata sandang sri, hyang, hang, dan dang sudah jarang digunakan saat ini.

Untuk memahami masing-masing kata sandang, mari kita lihat ulasannya satu-persatu. Pertama, kata sandang si. Kata sandang ini digunakan untuk menyebut seseorang dengan derajat makna yang rendah dan netral, contohnya si kumbang, si kumis, si pencopet, dan sejenisnya. Contohnya dapat dilihat dalam kalimat berikut.

  1. Kami bertemu si kumis di pasar tadi siang.
  2. Warga mengejarsi pencopet itu karena mencuri televisi yang ada di rumah warga.
  3. Anjing peliharaan ayah bernama si kumbang.

Kedua, kata sandang sang. Kata ini digunakan untuk meninggikan derajat makna nomina yang didampinginya, tetapi kadang-kadang kata sandang ini juga digunakan untuk mengolok-olok tokoh binatang dalam cerita fabel (cerita binantang). Kata sandang ini bisa digunakan untuk menyebut manusia, binatang, dan Tuhan. Jika digunakan untuk menyebut nama Tuhan, menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), huruf-huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kapital.  Contohnya dapat dilihat pada kalimat berikut.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB
  1. Kami berdoa kepada Allah, Sang Pencipta.
  2. Hujan ini berasal dari Sang Maha Pemberi.
  3. Sang Hyang Widhi akan mengabulkan doa-doa baik.

Namun, jika kata sandang sang digunakan untuk menyebut manusia atau binatang, penulisan huruf awalnya dengan huruf kecil. Contohnya dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut.

  1. Jaka dijuluki sang demonstran.
  2. Rahasia hati sang panyair tertuang dalam puisi-puisi yang menyentuh hati.
  3. Karena berhasil menipu buaya, sang kancil berhasil menyeberangi sungai.
  4. Sang presiden menegur menteri yang kinerjanya masih rendah.
  5. Pengabdian sang gurumengubah anak-anak di daerah terpencil menjadi cerdas.

Ketiga, kata sandang para. Kata sandang ini digunakan untuk menyebut orang dalam jumlah banyak. Contohnya dapat dilihat pada kalimat-kalimat berikut.

  1. Pagi itu, para ibu berkumpul di aula puskemas.
  2. Para mahasiswa menyampaikan aspirasinya di depan kantor DPR.
  3. Malam pemberian penghargaan Festival Film Indonesia dihadiri oleh para artis.
  4. Lelaki muda itu tersenyum dan menyapa para gadis.
  5. Para cendekiawan mendiskusikan masalah kebangsaan.

Namun, kata sandang para tidak tepat digunakan untuk menyebut binatang, tumbuhan, atau benda dalam jumlah banyak, misalnya: *para harimau, *para kucing, *para pohon kelapa, dan *para tumbuh-tumbuhan. Bentuk-bentuk ini disebut bentuk yang tidak berterima atau bentuk yang tidak lazim dalam bahasa bahasa Indonesia. Untuk menyebut tumbuhan, binatang, dan benda dalam jumlah banyak, dapat digunakan kata ulang, seperti pohon-pohon, harimau-harimau, meja-meja, dan lain-lain.

Selanjutnya, empat kata sandang terakhir, yaitu sri, hyang, dang, dan hang. Keempat kata sandang ini tidak mengalami perkembangan dalam bahasa Indonesia karena hanya dapat digunakan dalam ruang lingkup yang terbatas. Kata sandang sri digunakan untuk menyebut dan meninggikan martabat raja atau pemimpin, contohnya Sri Baginda Raja, Sri Sultan Hamengkubuwono, dan Sri Dipertuan Agung. Kata sandang hyang digunakan untuk menyebut Tuhan, Dewa, dan Dewi dalam agama Hindu, contoh Hyang Widhi, Sang Hyang Wenang, Hyang Wisesaning Tunggal, dan lain-lain. Lalu, kata sandang dang biasanya digunakan untuk menyebut perempuan  yang dihormati dan  dimuliakan dalam hikayat sastra lama, contohnya Dang Merduwati, Dang Kirana, dan Dang Nilam Sari. Terakhir, kata sandang hang. Kata sandang ini digunakan untuk menyebut laki-laki yang dimuliakan atau dihormati dalam hikayat sastra lama, contohnya Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekir, dan lain-lain. Kata sandang dang dan hang digunakan untuk menyebut laki-laki dan perempuan dalam kebudayaan Melayu.

Demikian ulasan mengenai kata sandang dalam bahasa Indonesia. Semoga mencerahkan.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penggunaan Huruf Miring dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Berita Sesudah

Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

Discussion about this post

POPULER

  • Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026