Rabu, 23/9/26 | 12:09 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Kalimat “Mohon Maaf kalau Ada Salah”

Minggu, 14/6/20 | 07:25 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari

 

Penulis adalah Dosen Sastra Indonesia Unand dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies

Bulan suci Ramadan dan Idulfitri yang baru saja berlalu menjadi momen yang sangat dinantikan bagi seluruh umat muslim di dunia. Bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri selalu disambut dengan penuh sukacita dan dengan perasaan yang bahagia. Perasaan bahagia itu pun senantiasa selalu diiringi dengan berbagai aktivitas positif, mulai dari membersihkan diri, membersihkan hati, hingga membersihkan rumah. Semuanya dilakukan dengan harapan bisa menyambut dan melewati bulan suci Ramadan dengan perasaan yang tenang dan ikhlas agar bisa kembali fitrah. Kegiatan yang paling lazim dilakukan pada saat itu adalah bersilaturahmi bersama keluarga, kerabat, dan sahabat. Tujuan utama bersilaturahmi adalah bisa saling memaafkan karena akan menjalankan ibadah suci di bulan Ramadan. Permintaan maaf ini dihantarkan kepada keluarga, kerabat, rekan, dan teman secara bergantian dengan harapan bisa melewati bulan puasa dengan hati yang bersih. Maka, banyak umat muslim kemudian saling berinteraksi dan berkomunikasi untuk berucap maaf terhadap kesalahan yang pernah dilakukan.

Momen bersilaturahmi dan memohon maaf menjelang Ramadan ini bukan sesuatu yang baru bagi umat muslim, terutama di Indonesia. Permintaan maaf bisa dilakukan secara formal maupun nonformal, biasa dilakukan dari individu ke individu lain secara pribadi maupun disiarkan secara massal di dalam berbagai aplikasi grup komunikasi. Bahkan, sudah muncul pula dalam berbagai bentuk kreativitas, seperti menggunakan gambar, pantun, puisi, video, dan sebagainya. Momen permintaan maaf kemudian menjadi rutinitas lumrah dan langganan pada saat-saat seperti ini. Namun, ada beberapa hal yang menjadi menarik perhatian ketika permintaan maaf tersebut diucapkan dengan rakaian bahasa yang indah bahkan puitis. Kerap kali, kita sering berujar, “Mohon maaf jika ada salah” atau “Mohon maaf kalau ada salah”. Sepintas, kalimat ini memang sering didengar dan sudah cukup akrab bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, ada hal yang menarik dengan penggunaan kata “kalau” dan “jika”. Pada kesempatan ini, saya hanya mengambil satu contoh kalimat saja, yaitu “Mohon maaf kalau ada salah”. Saya akan fokus pada kata “Kalau”. Kata “Kalau” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna, “1. Kata penghubung untuk menandai syarat; 2. Seandainya; 3. Bagi, adapun; 4. Bahwa”. Keterangan yang ada di dalam KBBI, ketika dimaknai dalam kalimat “Mohon maaf kalau ada salah” maka kalimat itu akan bermakna, meminta maaf “senadainya” ada kesalahan. Kata “Kalau” menjadi hal untuk menandai syarat.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Dari pemahaman bahasa tersebut, saya beralih ke pemahaman religi bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap manusia tentu saja memiliki kesalahan (disadari atau tidak disadari; disengaja atau tidak disengaja). Oleh sebab itu, sebagai umat muslim yang menyadari bahwa kita sebagai manusia tentu memiliki keselahan, penggunaan kata “kalau” menjadikan kesadaran itu berada pada pemahaman yang berbeda. Sebab kita tidak akan bisa memastikan bahwa kita tidak pernah berbuat salah. Akan tetapi, yang paling pasti dari dalam diri manusia, setiap manusia pernah melakukan kesalahan sekecil apa pun. Ketika memohon maaf, kita tidak perlu menggunakan kata “kalau” karena berbuat salah bukan dalam tataran “seandainya” sehingga permintaan maaf berlaku sebagai “syarat jika memang ada”.  Sebagai opsi lain, kita bisa menggunakan kata, “Mohon maaf atas kesalahan saya”, “Maafkan segala kesalahan saya”, “Maafkan saya”, tanpa perlu berandai-andai karena tidak ada manusia yang sempurna, yang tidak pernah berbuat salah. Sebuah kesalahan adalah hal yang lumrah terjadi dalam setiap pergaulan manusia. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang sadar atas ketidaksempurnaan ini, kita perlu menyadari bahwa tidak mungkin tidak pernah melakukan kesalahan. Kita tidak memerlukan kata “kalau” untuk meminta maaf. Terlebih, permintaan maaf yang dihantarkan dengan kerendahan hati. Semoga kita semua bisa saling memaafkan.

 

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Eco Enzyme, Pemanfaatan Sampah Produktif

Berita Sesudah

Asal Mula dan Perkembangan Kata Kuliner

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Prompt AI dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 06/9/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat ini, AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Perbedaan kata Pas, Cocok, Sesuai, dan Relevan

Minggu, 30/8/26 | 16:13 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies) Kata pas, cocok, sesuai, dan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Psikologi Bahasa: Kompetisi dan Kolaborasi

Minggu, 16/8/26 | 22:38 WIB

Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Universitas Andalas baru saja menyambut...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Tele- dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan

Senin, 03/8/26 | 07:33 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kali ini, kita akan membahas bentuk terikat...

Berita Sesudah

Asal Mula dan Perkembangan Kata Kuliner

Discussion about this post

POPULER

  • Proses pencarian korban galodo Kecamatan Gunung Talang, Kabuptaen Solok oleh tim SAR. [foto:ist]

    Satu Korban Galodo Solok Ditemukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wabup Solok Minta Warga Tak Sebarkan Foto Korban Galodo: Duka Dunsanak Kita Bukan Konten

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026