Selasa, 16/6/26 | 16:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI

Bonus Demografi dan Peranan Pemuda dalam Pendidikan

Kamis, 21/5/20 | 10:34 WIB

Oleh:

Yulenri Arief Hidayat
Mahasiwa Ilmu Administrasi Negara UNP

p
Holaaa…. Tahukah teman-teman ditahun 2030 Indonesia bakal menikmati suatu periode dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk usia non produktif, dilansir dari BAPPENAS bahwa di tahun 2030 bakal ada kurang lebih 64% penduduk Indonesia yang berusia rentang umur 16-40 tahun, yang mana artinya Indonesia bakal menikmati bonus-bonus keproduktifan dari anak-anak muda ini, kita kenal ini dengan Bonus Demografi.

Kondisi Bonus Demografi tersebut bukan tanpa resiko, dengan bertambahnya jumlah penduduk usia muda, namun tidak diiringi dengan kualitas sumber daya, tidak terbukanya lapangan kerja, etos kerja yang lemah, dapat menjadikan kondisi tersebut sebagai bumerang bagi bangsa ini.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Timbul pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita sebagai pemuda Indonesia untuk dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun indonesia yang lebih maju?

Untuk dapat memaksimalkan Bonus Demografi yang indonesia miliki, Indonesia memerlukan pemuda-pemuda yang berkualitas, mampu menciptakan lapangan kerja baru, memiliki etos kerja tinggi, dan dapat berjejaring baik Internasional dan juga Nasional.Ada tiga solusi yang penulis tawarkan dalam permasalahan ini…
1. Pendidikan
2. Pendidikan
3. Pendidikan

Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting.

Kita dididik menjadi orang yang berguna baik bagi Negara,Nusa dan Bangsa.Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga (Pendidikan Informal), lingkungan sekolah(Pendidikan Formal),dan lingkungan masyarakat (Pendidikan Nonformal).

Pendidikan Informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar,sejak seseorang lahir sampai mati.Proses pendidikan ini berlangsung seumur hidup.

Sehingga peranan keluarga itu sangat penting bagi anak terutama orang tua (Azra, 2002).Orang tua mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang.Kasih sayang yang diberikan orang tua tidak ada habisnya dan terhitung nilainya.

Orang tua mengajarkan kepada kita hal-hal yang baik misalnya, bagaimana kita bersikap sopan-santun terhadap orang lain, menghormati sesama,dan berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Kenapa Pendidikan? “Pendidikan menerangkan pikiran dan penetapan hati. Ia membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita daripada pengaruh tempat dan waktu.

Dalam pergaulan hidup, yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul, keamanan perasaan itu perlu ada”.

kutipan dari bung hatta mencoba menyadarkan kita betapa pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa, dengan pendidikan setiap individu mampu memberikan penerangan bagi pemikiran, mampu memberikan ketetapan hati guna menjadi berintegritas, pengaruh pendidikan terhadap mentalitas dan internal individu bangsa ini jelas mampu menciptakan , individu individu yang berkualitas sejak dalam fikiran dan mental.

Lalu pendidikan itu juga memberikan pelajaran dalam pergaulan, dengan pendidikan menciptakan individu yang mampu menciptakan jejaring kerjasama yang baik, dengan tidak selalu mengedepankan ego pribadi dan golongan, selalu mampu menciptakan sinergi untuk bangsa.

Banyak sebenarnya yang perlu kita kritisi dari sistim pendidikan kita saat ini, evaluasi terkait kebijakan kurikulum, peningkatan kualitas guru, distribusi tenaga pengajar, fasilitas pendidikan, motivasi mengikuti sekolah bagi siswa, dan banyak lainnya.

Sebagai pemuda kita haruslah mampu memberikan kontribusi dalam penciptaan iklim pendidikan yang baik bagi bangsa, bagaimana cara?.

Bisa kita mulai dengan diri sendiri, menciptakan niatan dalam hati diawal untuk memberikan semangat dalam menempuh pendidikan, baik formal ataupun nonformal.

Selanjutnya, membantu pemerintah dalam hal advokasi kebijakan wajib belajar 12 tahun, bersama komunitas-komunitas, organisasi-organisasi yang kita ikuti, sebarkan pesan-pesan wajib belajar kepada masyarakat sekitar, baik disetiap kegiatan, ataupun program yang dilakukan oleh komunitas dan organisasi teman-teman.

Mengabdikan diri sebagai tenaga didik voluntering untuk beberapa daerah tertinggal di indonesia, dengan ini kita juga membantu pemerintah dalam upaya pemenuhan tenaga didik yang berniat untuk mengabdi didaerah 3T.

Generasi muda memiliki posisi dan peran yang sangat vital dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Hal ini didasarkan pada peran pemuda seperti yang dimuat dalam UU RI No. 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan yang berbunyi pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.

Selain itu dengan adanya individu-individu muda, produktif, bangsa ini seharusnya kelak dapat menghadirkan suatu perubahan bagi peradaban bangsa ini.

Sehingga BONUS DEMOGRAFI bukanlah menjadi sebuah ancaman, namun momentum bagi bangsa ini untuk terus maju kedepan dan membawa perubahan baik bagi peradaban dunia.

Jelas bahwasannya harapan besar dititipkan dipundak para pemuda, dengan tetap terus menempuh pendidikan dan memaksimalkan manfaat yang diberikan pendidikan tersebut.

Lalu mengaplikasikannya pada setiap lini kehidupan, sehingga kedepannya mampu memeberikan damak baik bagi di sendiri dan masyarakat pada umumnya, sehingga momentum BONUS DEMOGRAFI menjadi solusi atas permasalahan bangsa ini. (*)

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Berdamai Setengah Hati

Berita Sesudah

Istilah-istilah Khusus dalam Mazhab Syafi’i

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kesalahan Bahasa yang Diproduksi AI

Minggu, 07/6/26 | 22:48 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa waktu lalu, saya menyunting beberapa buku....

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Berita Sesudah

Istilah-istilah Khusus dalam Mazhab Syafi’i

Discussion about this post

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ke Hadirat” dan “Kehadiran”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026