oleh

That Dazzling Day

    

Oleh :

(Maharani Putri/ Universitas Andalas)

Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Festival Budaya Korea 2019 UPT Pusat Bahasa Universitas Andalas

“Nal neomu neomu neomu johahamyeon geuttae malhaejwo.”

“Naega jakku jakku jakku tteoorumyeon geuttae bulleojwo.”

Suara Somi dan kawan-kawan bernyanyi dengan semangat memenuhi ruangan kamarku. telepon genggamku memainkan lagu mereka dengan leluasa di pemutar musik yang kusetel acak. Setengah meringis aku beranjak dari kasurku yang nyaman ke meja belajar sekedar untuk mematikan musik yang tadinya kusetel sebagai penyemangat saat memutuskan untuk membereskan kamarku yang mulai terasa pengap. Malas-malasan kuseret kembali kakiku menuju ranjang untuk kemudian menjatuhkan diri dan membenamkan kepala di bantal. Bukan aku membenci IOI. Kalau saja aku benci, tidak mungkin aku membiarkan lagu girlband itu menghiasi playlist-ku. Hanya saja setiap mendengarkan lagu mereka barusan aku selalu teringat kembali padanya, terbawa kembali kepada suasana dan rasa sakit saat itu.  Selang beberapa saat sebelum aku mengangkat kepalaku dan menyandarkan dagu di bantal. Pandangan mataku menerawang mengenang kembali 18 Desember dua tahun silam.

“Dua tahun berlalu dan kepergianmu tetap mengusikku”, pikirku dalam diam yang perlahan menyesakkan. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Tidak ingin membiarkan perasaan itu berlarut-larut.

Jam dinding menunjukkan pukul lima sore. Waktu yang tepat untuk berkutat dengan seluruh jurnal, buku, dan atribut perkuliahan lainnya bagi mahasiswa yang sudah mendekati semester akhir sepertiku. Hampir saja aku memulai kesibukanku saat salah satu buku bersampul biru laut yang terselip di antara jajaran buku lainnya menarik perhatianku. Iseng tanganku menggapainya dan aku mulai mematut-matut buku tersebut. Buku ini setebal kitab. Pinggirannya mulai memudar seakan mencerminkan betapa sering aku dulu menggunakannya. Entah akan menyesal atau tidak, yang jelas tanganku sudah mulai membalik halaman demi halaman buku yang kesemuanya berisikan tulisan tangan. Sesekali aku berhenti untuk sekedar mengingat sekilas kejadian di masa lalu yang kuceritakan di sana. Entah mulai sejak kapan – aku yakin sudah cukup lama, setiap tulisan disana mulai diawali dengan sapaan terhadap seseorang. Mataku terpaku pada tulisan di salah satu halaman yang kubuka :

20 Mei 2015

Dear J, hari ini aku datang ke festival internasional yang diadakan di sekolahku. Lila yang mengajak- ah, maksudnya menyeretku. Dasar bocah itu selalu seenaknya-_- Tapi kuakui sesekali datang ke acara-acara semacam ini menyenangkan juga. Dari begitu banyak kebudayaan yang diperkenalkan, Korea selalu bisa menyita perhatianku. Yah, mungkin sudah bisa ditebak, aku ini kan fangirl garis keras walaupun tidak sudi disebut Koreaboo. Duh, aku kan fangirl elegan *laugh*. Anyway sepertinya kesukaanku padamu melebar menjadi kesukaanku terhadap budaya negaramu. Eonnie yang sedang memperagakan Hanbok itu terlihat sangat cantik di mataku. Oh, bukan eonnienya, tapi Hanbok itu sendiri. Potongannya yang seperti gaun dengan atasan rompi berlengan panjang dan aksen pita semakin cantik dengan padu-padan berbagai warna. Kegagumanku semakin bertambah saat mengetahui bahwa setiap warna pada pakaian tradisional itu memiliki arti-arti tersendiri. Sedikit memalukan, tapi aku membayangkan diriku yang berdiri disana dan memakai pakaian ituㅋㅋㅋㅋ

Aku tersenyum kecil membaca tulisan itu. Teringat bagaimana antusias diriku saat melihat berbagai konten yang dipamerkan di stand Korea sementara Lila di sampingku nyengir setengah mengejek “katanya tadi mager ga mau ikut..?”. Tapi tidak berlebihan kalau kukatakan aku sangat terpesona dengan banyak hal dalam kebudayaan Korea. Salah satunya pakaian tradisional mereka, Hanbok. Ditambah lagi saat dulu eonnie (sebutan untuk kakak perempuan yang lebih tua) itu mengizinkanku menyentuhnya. Kainnya sangat lembut di tanganku. Sudah pasti terbuat dari bahan yang bagus. Aku tak akan mengingkari. Aku menyukainya. Menyukai kebudayaan lain tak membuatku menjadi tidak nasionalis kan?

Yang namanya buku harian memang tidak akan melulu berisi peristiwa menyenangkan saja. Sesekali, akan ada masanya saat gadis yang suka menulis buku harian sepertiku mengadu dengan tulisan ke dalamnya. Seperti kejadian buruk saat itu ketika teman sekelasku “bercanda” mengenai kondisi kakiku yang agak abnormal. Ya, aku terlahir dengan kaki yang kecil sebelah. Tidak sampai membuatku harus memakai alat bantu berjalan, namun memang membuatku sedikit pincang. Dari apa yang tertulis di sana selain melakukan body shaming mereka juga mengolok-olok seolah gadis sepertiku tidak berhak menyukai k-pop atau semacamnya. Lila yang saat itu sudah berteman denganku memelototi mereka dengan galak sehingga mereka berlalu sambil masih saja menyindir seakan tidak puas dengan “candaan” mereka. “Kuy gaes cabut, gue mau mukbeng dulu nih biar terkenal, biar nanti dapat duit buat nonton oppa-oppa Korea” kata mereka sebelum pergi. Meokneun bangsong (meokbang/먹방) memang merupakan fenomena dari Korea yang sedang populer saat itu, dimana seorang pemandu acara yang disebut BJ (Broadcast Jockey) menyantap makanan dalam jumlah besar di depan kamera dan disiarkan melalui siaran langsung. Lucunya aku masih sempat mengkritik mereka yang bertingkah seolah paham betul apa itu meokbang padahal pelafalannya saja mereka salah. “Mukbeng? Apa itu? Sejenis wafer?” ejekku di buku harianku tentunya. Lembaran itu sedikit bergelombang. Mungkin saat itu aku menulisnya sambil menangis. Ah, aku memang cengeng. Maklum masih anak sekolahan.

Beberapa halaman berikutnya dalam diary itu kulewatkan begitu saja. Beberapa memang hanya berisikan coretan tidak penting atau aku tidak ingat kejadiannya. Tanganku sibuk membalik-balik lembaran yang ternyata banyak terisi, sedikit kagum dengan diriku yang dulu rajin mengisinya. Mendadak aku berhenti pada tanggal 11 September 2016

11 September 2016

My beloved J, senang sekali akhirnya aku berhasil membeli gayageum yang selama ini kuimpikan dengan uang tabunganku. Yah meskipun harus merengek pada ibu untuk menutupi sedikit kekurangan danaku. Yang jelas aku sudah tidak sabar belajar memainkannya. Aku harap suatu saat ketika aku sudah mahir, aku akan diberi kesempatan untuk memainkannya langsung di negeri asalnya, Korea. Atau kita bisa berkolaborasi, aku akan memainkan gayageum dan kau mengiringinya degan kazoo kesukaanmu 😀

Gayageum. Pandanganku terarah pada alat musik petik yang kini menghiasi salah satu sisi ruanganku. Secara tidak sengaja, aku melihat alat musik itu saat menonton salah satu acara ragam di televisi. Tertarik dengan performa seniman yang memainkannya. Akupun mencari dan mulai mengenali alat musik satu ini sampai kepada tahap ingin dapat memainkannya. Semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas aku selalu mengimpikan memiliki gayageumku sendiri. Impian ini baru bisa terwujud ketika aku sudah menginjak jenjang perkuliahan karena memang harganya tidak murah untuk ukuran perekonomian keluargaku dan alat itu sendiri tidak mudah untuk didapatkan. Untuk dapat memainkannya aku hanya belajar secara otodidak dari video-video yang beredar di internet. Sebenarnya aku bisa ikut les gayageum bersama guru yang langsung didatangkan dari Korea, namun kesadaranku mengatakan untuk tidak ikut les itu karena tidak ingin membebani orang tuaku.

Kesunyian membuat helaan napasku terdengar jelas dan berat.

“Bahkan saat membahas hobiku saja, aku harus teringat padamu” desahku. Rasa sedihku memang berkurang seiring waktu. Namun tetap saja, bukan berarti ia hilang. Gayageum ini misalnya, membuatku kembali teringat pada..

Tunggu dulu. Aku merasa mengingat sesuatu yang lain. Aku menyambar kalender di meja, melihat tanggal-tanggal penting yang tertera di sana. Mataku tertuju pada tanggal 29 Maret 2019, enam hari dari hari ini. Tanggal itu dilingkari menandakan ada sesuatu yang penting di sana. Ternyata benar pada 29 Maret adalah hari pengumuman hasil seleksi beasiswa yang kuikuti. Aku tertawa kecil, merasa tergelitik dengan diriku yang seakan tidak antusias terhadap hasilnya. Well, mungkin memang tidak. Aku rasa aku sudah pasrah dan rendah diri, pesimis akan diterima.

Beasiswa yang bicarakan adalah beasiswa untuk melanjutkan perkuliahan di Negeri Ginseng, Korea. Terdengar sangat mustahil bukan? Terutama untuk gadis sepertiku dengan kemampuan pas-pasan ditambah lagi kepribadianku yang sering dibilang introvert. Entah setan atau malaikat apa yang membuatku tiba-tiba mengajukan lamaran terhadap beasiswa yang aku lihat di mading kampus itu. Entah karena aku sudah terlalu lama kecanduan hal-hal berbau Korea atau apa, yang jelas aku mengikuti seleksinya sampai tahap wawancara. Aku kembali teringat pada wawancara hari itu. Aku memang mempersiapkan hal-hal yang aku rasa perlu, tapi tetap saja sebagai seorang amatir aku tidak punya kepercayaan diri. Sebelum wawancara, seperti peserta lainnya aku diminta menampilkan salah satu bakat. Memainkan gayageum adalah satu-satunya yang bisa kuandalkan saat itu. Meski gugup setidaknya aku bisa menyelesaikan lagu penyanyi favoritku, Jonghyun SHINee yang bertajuk “Lonely”.

Setelah itu, aku tidak ingat lagi apa yang kulakukan dan apa pertanyaan yang diberikan kecuali satu: “Apa stereotype yang sering anda dengar tentang Korea dan seperti apa pandangan anda mengenai hal itu?”. Pertanyaan itu membuatku sedikit bingung karena aku tidak memikirkan dan mempersiapkan hal demikian. “Santai saja, tentang bunuh diri misalnya” Salah satu pewawancara menyeletuk. Aku masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas dan menjawab, “Ya, saya sering mendengar bahwa Korea memiliki tingkat kematian akibat bunuh diri yang tinggi. Pandangan saya sederhana, hal itu adalah pilihan yang dimiliki orang itu masing-masing. Saya bukan orang yang tepat untuk menilai atau mengkritik tindakan yang diambil seseorang berdasarkan pilihannya. Karena itu adalah hidupnya, dan setiap orang memiliki hak penuh atas dirinya. Saya sendiri tentunya tidak ingin orang yang saya sayangi mengambil pilihan tersebut, tapi sekali lagi siapa saya untuk mengadili. Jalan keluar yang dapat saya pikirkan saat ini mungkin hanyalah memberikan dukungan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita dan jangan pernah membuatnya merasa sendirian. Mungkin hanya itu saja”. Para pewawancara itu kemudian menutup wawancara dan mengucapkan terima kasih setelah sebelumnya sempat saling pandang. Entah karena jawaban yang kuberikan atau karena ekspresi dan suaraku yang bergetar saat menjawabnya. Entahlah, yang pasti aku hanya ingin cepat menyingkir dari sana.

Segera setelah wawancara itu aku berlari ke toilet wanita sekedar melepaskan sesak yang sedaritadi kurasakan. Kalau saja saat itu tidak ada orang lain di sana mungkin tangisanku sudah membuncah. Sudah kubilang kan, aku memang cengeng. Bukan salah mereka, tapi mengapa pula pertanyaannya harus demikian. Ya, pertanyaan terakhir itu seakan mengoyak kembali luka yang mulai mengering. Luka atas kehilangan sosok idolaku, yang selalu menjadi penyemangat dalam kehidupan, meskipun dia bahkan tidak tahu aku hidup karena jarak yang terbentang diantara kami. Meski begitu aku selalu berterima kasih padanya. Pada dirinya yang memilih pergi untuk selamanya di 18 Desember 2017. Yang ironisnya berita itu kudengar saat datang saat moodku sedang dalam keadaan bagus, beraktivitas sambil sesekali bersenandung kecil mengiringi lagu IOI “very-very” – sekarang kau tau apa kaitan semua ini dengan lagu yang ceria itu. Disela perasaan tidak menyenangkan itu aku sempat menertawakan diriku karena jawaban wawancara yang kuberikan. Wawancara macam apa yang terkesan seperti curhat begitu. Mungkin karena inilah aku berniat melupakannya dan malah benar-benar lupa soal beasiswa itu sampai sore ini. Tidak lama, panggilan ibuku yang mengajak makan malam membuyarkan lamunanku.

***

Alarm pengingat di handphoneku berdering. Pagi hari tanggal 29 Maret. Di layar bertuliskan “Pengumuman hasil seleksi beasiswa”. Antara niat dan tidak, aku membuka website pengumuman tersebut, menunggu browserku mengunduh informasi sebelum bisa membacanya. Hening. Sepersekian detik kemudian aku melesat mencari ibuku  seolah lupa dengan keterbatasan yang kumiliki. “Ibu, Ibu, aku akan ke Korea!!” seruku. Ibuku yang sedang sibuk dengan cah kangkung andalannya hanya melongo, mungkin mengira anaknya satu ini masih berhalusinasi sehabis bangun tidur. Setelah kuberikan info lebih lanjut barulah ia memelukku dengan bulir bening mulai jatuh di pipinya. “Selamat ya, nak”.

J, Aku akan ke Korea!

 

 

 

 

Komentar