Padang, Scientia — Bagi warga yang datang ke Kota Padang untuk berobat, mengikuti seleksi TNI-Polri, melanjutkan pendidikan, atau bertanding olahraga, persoalan tidak selalu selesai setelah tiba di ibu kota Sumatera Barat itu. Ketika urusan berlangsung berhari-hari, mereka harus memikirkan tempat menginap, biaya makan, dan ongkos transportasi di tengah keterbatasan keuangan.
Bagi keluarga pasien, misalnya, pengeluaran tidak hanya tersedot untuk kebutuhan pengobatan. Mereka juga harus memiliki tenaga dan biaya untuk mendampingi orang tercinta selama menjalani perawatan. Sementara bagi peserta seleksi dan atlet dari daerah, biaya akomodasi bisa menjadi beban tambahan sebelum perjuangan mereka benar-benar dimulai.
Persoalan itulah yang coba dijawab Rumah Singgah Sahabat Donizar, sebuah rumah persinggahan yang dirintis anggota DPRD Sumatera Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Donizar, sejak 2018.
Rumah singgah yang ditujukan bagi warga Pasaman dan Pasaman Barat tersebut menyediakan tempat beristirahat sementara bagi masyarakat yang membutuhkan selama berada di Padang. Penghuninya dapat memanfaatkan kamar tidur, memasak, dan memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus sepenuhnya bergantung pada penginapan berbayar.
Bagi warga dengan anggaran terbatas, fasilitas semacam ini bukan sekadar tempat untuk melepas lelah. Rumah singgah dapat membantu menekan pengeluaran agar kebutuhan utama, seperti pengobatan, pendidikan, dan persiapan mengikuti seleksi, tetap menjadi prioritas.
Berawal dari Kesulitan Warga
Donizar mengatakan, gagasan mendirikan rumah singgah muncul setelah melihat kesulitan masyarakat dari daerah yang tidak memiliki kerabat atau tempat menginap ketika datang ke Padang. Persoalan tersebut terutama dirasakan warga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Saat berbincang dengan awak media, Donizar menyebut rumah singgah itu telah mencatat lebih dari 3.000 kunjungan hingga 2023. Angka tersebut merupakan jumlah kunjungan yang disampaikannya, bukan jumlah individu berbeda yang telah memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Paling sekitar 3.000 kunjungan. Dari yang sekadar istirahat, ganti pakaian sampai mereka yang butuh menginap, kita layani di rumah ini,” kata Donizar.
Pada awal pendiriannya, rumah singgah banyak dimanfaatkan warga Pasaman dan Pasaman Barat pemegang Kartu Sahabat Donizar. Seiring waktu, pelayanan diperluas dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan nilai kemanusiaan.
Warga yang datang untuk berobat, mendampingi anggota keluarga yang sakit, mengurus pendaftaran perguruan tinggi, hingga mengikuti seleksi penerimaan anggota TNI dan Polri dapat memanfaatkan rumah tersebut.
Bagi keluarga pasien, keberadaan tempat menginap sementara memungkinkan mereka beristirahat tanpa harus terus memikirkan biaya kamar hotel atau penginapan. Mereka juga dapat menyiapkan makanan sendiri sebelum kembali mendampingi anggota keluarga yang menjalani perawatan.
Enam Kamar untuk Berbagai Kebutuhan
Pengurus Rumah Singgah Sahabat Donizar, Robbi, mengatakan fasilitas tersebut memiliki enam kamar tidur, ruang tamu, dan ruang terbuka untuk pertemuan. Tersedia pula kamar mandi, sajadah, peralatan memasak, serta perlengkapan makan dan minum.
Kebutuhan dapur juga menjadi bagian dari fasilitas rumah singgah. Beras, telur, kopi, teh, dan gula tersedia untuk membantu penghuni memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akses internet atau Wi-Fi turut disediakan.
Fasilitas itu memungkinkan warga menyiapkan makanan secara mandiri dan mengurangi pengeluaran selama berada jauh dari kampung halaman. Bagi mereka yang harus tinggal beberapa hari, penghematan biaya makan dan penginapan dapat memberikan ruang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan lain.
Namun, rumah singgah tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh warga yang berurusan dengan layanan kesehatan.
Pada Juni 2026, rombongan Perguruan Silat Benteng Murni dari Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, memanfaatkan fasilitas itu ketika mengikuti kejuaraan pencak silat di Gelanggang Olahraga Universitas Negeri Padang (UNP).
Bagi rombongan atlet dari daerah, kebutuhan akomodasi merupakan salah satu komponen biaya yang harus diperhitungkan sebelum bertanding. Dengan adanya tempat menginap, pengeluaran rombongan dapat ditekan sehingga peserta memiliki kesempatan lebih besar untuk berkonsentrasi menghadapi pertandingan.
Perwakilan rombongan menyampaikan apresiasi atas fasilitas yang mereka peroleh.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Donizar yang telah menyediakan rumah singgah sehingga kami bisa lebih fokus mengikuti pertandingan,” ujar perwakilan rombongan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan akan tempat singgah tidak hanya berkaitan dengan kondisi darurat. Warga yang datang untuk pendidikan, mengikuti seleksi, maupun membawa nama daerah dalam kompetisi olahraga juga membutuhkan dukungan akomodasi yang terjangkau.
Akses Kemanusiaan Melampaui Pilihan Politik
Persoalan rumah singgah bagi warga Pasaman dan Pasaman Barat di Padang sempat menjadi perhatian publik pada Januari 2026, setelah muncul pemberitaan mengenai penghuni rumah singgah di Jalan Haji Abdullah Ahmad, Kecamatan Padang Timur, yang diusir dari tempat tersebut.
Peristiwa itu sempat dikaitkan dengan Rumah Singgah Sahabat Donizar. Namun, Donizar menegaskan bahwa rumah singgah di lokasi tersebut bukan miliknya dan tidak memiliki hubungan dengan rumah singgah yang dikelolanya.
Ia juga menjelaskan bahwa ketentuan pemanfaatan rumah singgah yang semula diprioritaskan bagi pemegang Kartu Sahabat Donizar telah berkembang seiring kebutuhan masyarakat.
“Tidak mungkin orang sakit kami suruh pergi atau tidak kami izinkan menginap hanya karena tidak punya kartu atau tidak memilih saya saat pileg,” ujar Donizar.
Pernyataan tersebut menegaskan prinsip bahwa pertolongan kemanusiaan semestinya tidak bergantung pada pilihan politik seseorang. Warga yang membutuhkan tempat beristirahat ketika mendampingi pasien, misalnya, menghadapi persoalan yang harus ditangani tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan afiliasi politiknya.
Meski demikian, keberadaan rumah singgah yang dikelola secara sosial belum menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap tempat tinggal sementara yang aman, layak, dan terjangkau di kota tujuan.
Keluarga pasien tetap membutuhkan dukungan ketika pengobatan berlangsung lama. Begitu pula warga dari daerah yang harus datang ke Padang untuk memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, atau mengikuti berbagai seleksi.
Dalam konteks itu, rumah singgah menjadi salah satu bentuk dukungan sosial untuk membantu masyarakat melewati masa sulit selama berada jauh dari rumah.
Tempat Beristirahat Sebelum Kembali Berjuang
Sejak dirintis pada 2018, Rumah Singgah Sahabat Donizar telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masyarakat. Mulai dari sekadar beristirahat dan berganti pakaian hingga menginap selama menyelesaikan urusan di Padang.
Donizar berharap rumah tersebut dapat terus menjadi tempat bernaung sementara bagi warga yang membutuhkan.
“Kami ingin rumah ini menjadi tempat bernaung sementara bagi saudara-saudara kita dari berbagai daerah. Bukan hanya sekadar tempat tidur, tapi juga tempat berbagi semangat dan harapan,” kata Donizar.
Nilai sebuah rumah singgah tidak hanya ditentukan oleh jumlah kamar atau kelengkapan fasilitasnya. Lebih dari itu, keberadaannya memberi kesempatan kepada warga untuk menghemat biaya, memulihkan tenaga, dan melanjutkan urusan yang membawa mereka meninggalkan kampung halaman.
Bagi keluarga pasien, tempat beristirahat dapat membantu menjaga tenaga selama mendampingi orang tercinta. Bagi peserta seleksi, rumah singgah memberi ruang untuk mempersiapkan diri. Sementara bagi atlet, fasilitas itu membantu mereka memusatkan perhatian pada pertandingan.
Mereka datang dengan tujuan berbeda, tetapi menghadapi kebutuhan yang sama: tempat untuk berhenti sejenak sebelum kembali melangkah.
Di tengah mahalnya kebutuhan hidup di kota, rumah singgah menjadi pengingat bahwa dukungan kepada masyarakat tidak selalu harus hadir dalam bentuk bantuan besar. Terkadang, menyediakan tempat untuk tidur, memasak, dan memulihkan tenaga sudah menjadi pertolongan berarti bagi mereka yang sedang berjuang jauh dari kampung halaman.(*)








