
Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin D terbaik, saya mengikuti kegiatan UNAND Run sebagai rangkaian dari kegiatan Dies Natalis UNAND. Peringatan ulang tahun Universitas Andalas ke-70 tahun ini terasa cukup panjang dan meriah. Ada banyak kegiatan yang dilaksanakan dalam memperingati dies natalis pada tahun ini. Ada penerbitan 70 buku karya dosen, ada UNAND Award yang diberikan kepada dosen, mahasiswa, alumni UNAND yang berprestasi, ada berbagai rangkaian kegiatan seminar akademik, UNAND Run, dan lainnya.
Namun, satu hal tiba-tiba mengusik hati saya. Ucapan-ucapan satir para peserta UNAND Run terdengar kocak dan lucu, tetapi seperti menggelitik hati. Ungkapan tersebut dilontarkan para peserta UNAND Run yang mengikuti ajang lomba lari dengan berbagai macam jarak tempuh serta peserta jalan sehat. Mereka mengungkapkan isi hati dengan bercanda. “Senang ikut lomba lari, apalagi lomba lari dari kenyataan!”, ucap salah seorang peserta sambil tertawa. Lalu, pada kesempatan lain, saya mendengar. “Saya ikut lomba lari, ini serasa lari dari kenyataan,” ujarnya sambil tersenyum.
Candaan-candaan tersebut merupakan ungkapan satir yang menertawakan diri sendiri. Satir merupakan salah satu gaya bahasa sindiran atau kritik tajam yang disampaikan dalam bentuk humor. Quintillian, ahli retorika Romawi menyatakan satir sebagai satura yang merupakan akar kata satir dan kata itu merupakan bentuk puisi campuran yang mengandung muatan ejekan, cemoohan, atau kritik tajam. Satir terbagi atas dua, yaitu horatian dan juvenalian (Hobert dalam Suciartini, 2019). Horatian merupakan satire yang lebih ringan, ramah, lucu, dan tidak menghakimi, tetapi menggelitik dan menggugah, sedangkan juvenalian satire yang bersifat tajam, sinis, dan kritis terhadap kerusakan moral atau politik.
Dalam masyarakat Indonesia saat ini, frasa lari dari kenyataan merupakan jenis satir horatian yang ringan dan lucu,tetapi menggelitik sisi terdalam hati nurani. Ada pula yang menyatakan bahwa tidak sanggup berlari, tetapi tetap ingin lari dari kenyataan. Ungkapan satir tersebut disampaikan dengan candaan ringan yang bermaksud menghibur, tetapi saat ini ungkapan tersebut seolah merepresentasikan isi hati para penutur. Banyak fakta di sekitar yang tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan. Ada banyak kekecewaan dan keputusasaan yang ditonton oleh kehidupan; satu frasa satir cukup untuk menyampaikannya.
Frasa lari dari kenyataan secara literal dan tradisional bermakna suatu tindakan pengecut dan tidak bertanggung jawab. Namun, di tengah banyaknya ketimpangan, ketidakadilan, keputusasaan, dan aspirasi masyarakat yang tidak tersalurkan, frasa ini menjelma menjadi mekanisme pertahanan diri atau self-care di kalangan Gen Milenial dan Gen Z. Mereka menganggap lari dari kenyataan sebagai jeda yang valid, healing, recharging, atau self-reward untuk diri sendiri demi menghindari tekanan dan rasa stres dunia kerja dan tekanan hidup. Frasa lari dari kenyataan juga merupakan representasi dari eskapisme kekinian atau cara modern yang khas untuk lari dari kenyataan, seperti berjam-jam dengan perangkat digital, ngopi atau nongkrong bareng teman sebaya, dan konsumerisme imersif, seperti staycation, membeli blind box atau membeli pernak-pernik budaya populer.
Dampak paling buruk dari frasa lari dari kenyataan adalah munculnya sisi ambivalen (dilema kekinian) generasi muda yang menyimpan jebakan antikritik dan mudah lari dari tanggung jawab. Ciri-ciri ini mulai terlihat pada generasi alfa yang dijuluki Gen Stroberi yang dididik oleh Gen Milenial dan Gen Z. Semoga frasa lari dari kenyataan hanya bersifat candaan-candaan yang bersifat sementara, setelah itu para penuturnya kembali tangguh dan menjadi generasi petarung yang kuat bagi kehidupan.






