
Arosuka, Scientia.id — Di tengah suasana pemulihan pascabencana yang masih berlangsung, kepedulian terhadap warga terdampak terus mengalir. Salah satunya datang dari Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Solok, Lian Octavia Candra, yang memberikan bantuan kepada salah seorang korban bencana Arosuka, Rabu (30/9/2026).
Bantuan tersebut diserahkan di Rumah Dinas Wakil Bupati Solok. Adapun bantuan yang diberikan berupa peralatan mandi, peralatan dapur, beras 5 kilogram, selimut, bantal, pakaian serta bantuan uang tunai dalam amplop yang jumlahnya tidak disebutkan.
Bantuan itu diberikan kepada Silvia Handayani, salah seorang warga terdampak bencana di kawasan Perumahan Tahap 2 Arosuka.
Sebelumnya, Silvia menyampaikan kondisi yang dialaminya kepada Lian Octavia Candra. Ia mengaku bersama keluarga, termasuk anak-anak, harus mengungsi ke Talang Babungo di rumah keluarganya karena rumah mereka terdampak bencana.
Menurut Silvia, hingga saat itu keluarganya belum mendapatkan bantuan, sementara kondisi rumah mereka mengalami kerusakan. Pintu rumah hancur dan bagian dalam rumah dipenuhi material lumpur akibat bencana.
“Sebelumnya saya mengungsi ke Talang Babungo, di rumah keluarga. Saya belum mendapatkan bantuan sama sekali. Saya bersama keluarga dan anak-anak sangat membutuhkan bantuan karena rumah kami pintunya hancur dan bagian dalam rumah terkena lumpur,” ungkap Silvia.
Mendengar cerita tersebut, Lian Octavia Candra tidak tinggal diam.
Ia kemudian memberikan bantuan secara langsung kepada Silvia dan keluarganya sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi masa sulit pascabencana.
“Mohon diterima ya. Kalau satitiak di lawik an, tapi mudah-mudahan bantuan ini bermanfaat,” ujar Lian saat menyerahkan bantuan.
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran bahwa dalam situasi bencana, perhatian sekecil apa pun dapat memiliki arti yang besar bagi mereka yang sedang berjuang memulai kembali kehidupan.
Silvia yang menerima bantuan tersebut tampak tersenyum. Bantuan itu setidaknya memberikan sedikit ruang lega bagi dirinya dan keluarga di tengah kondisi rumah yang belum dapat ditempati seperti semula.
Bagi Lian, kepedulian terhadap korban bencana bukan semata-mata tentang seberapa besar bantuan yang diberikan. Lebih dari itu, ada pesan kemanusiaan bahwa masyarakat yang sedang tertimpa musibah tidak boleh merasa berjalan sendirian.
Bencana memang dapat merusak rumah, menghilangkan kenyamanan dan mengubah kehidupan dalam waktu singkat. Namun, perhatian, kepedulian dan gotong royong diharapkan dapat menjadi kekuatan bagi para korban untuk kembali bangkit.
Di tengah proses pemulihan Arosuka, bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian masyarakat dan organisasi sosial kepada warga yang masih membutuhkan uluran tangan. (*)








