
Cagak Sastra dirancang tidak sekadar sebagai rangkaian diskusi, tetapi sebagai upaya membuka kembali ruang perjumpaan antara karya sastra, pembaca, dan generasi muda. Kegiatan berlangsung di Sanggar Kilau Aksara, Kawasan Kota Tua, dan Gunung Padang.
Ketua Pendiri Yayasan Cagak Inti Kultura, Yusrizal KW, mengatakan Cagak Sastra merupakan upaya memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi muda untuk berkarya dan terlibat dalam kehidupan sastra.
“Cagak Sastra adalah upaya untuk tidak berebut panggung dengan anak muda,” demikian gagasan yang disampaikan Yusrizal KW dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, sastra dapat menjadi kekuatan untuk saling mendukung dan menjaga keberlanjutan literasi.
Cagak Sastra dibuka pada Sabtu (26/9) melalui kegiatan Bincang Buku yang membahas novel Tersesat Setelah Terlahir Kembali karya Yoga Zen dan buku puisi Suatu Hari di Batas Ilmu Pengetahuan karya Heru Joni Putra. Diskusi menghadirkan Dr. Ivan Adilla dan Bunga Suci Pertiwi sebagai narasumber.
Bunga Suci Pertiwi, jurnalis budaya dan naratolog membahas novel Yoga Zen dengan menyoroti persoalan maskulinitas, budaya Minangkabau, identitas, serta hubungan antartokoh.
Anggi Oktvia mengungkapkan setuju dengan pernyataan bunga bahwa novel ini mengangkat isu maskulinitas. Akan tetapi, Anggi menemukan realitas filsafat-psikologi, unsur absurditas, yaitu eksistensial tokoh aku yang lebih ditonjolkan, dibandingkan tokoh Leman yang diungkapkan sebelumnya menjadi penggerak cerita oleh Bunga Suci Pertiwi.
Sementara itu, Dr. Ivan Adilla mengangkat perubahan warna kepenyairan, pengalaman spiritual, lingkungan, persoalan sosial, dan renungan diri dalam karya Heru Joni Putra. Menurut Ivan Adilla, setidaknya ada tiga tema dalam puisi Suatu Hari di batas Ilmu Pengetahuan, yaitu isu lingkungan dan kepeduliaan sosial, renungan diri, dan pengalaman spritual. Puisi-puisi naratif Heru, semakin terasa terbuka karena memberikan kesan, pengalaman, dan kesaksian spritual, tanpa memberikan kesimpulan. Artinya, pembaca diberikan peluang untuk menafsirkan puisinya. Narasi yang ringkas, efektif, dan penuh kejutan.
Pada hari yang sama, Cagak Sastra dilanjutkan dengan Orasi Sastra yang menghadirkan sastrawan Gus tf Sakai. Dalam orasinya, Gus tf Sakai membicarakan persoalan “Disrupsi dan Distraksi dalam Sastra”. Ia menyoroti perubahan pola konsumsi informasi dan perkembangan sastra di ruang digital. Dalam konteks tersebut, pembacaan mendalam, kedalaman emosi, dan kemampuan imajinatif pembaca menjadi bagian penting yang perlu dipertahankan.
“Kembalilah menulis dengan benar!” menjadi salah satu seruan Gus tf Sakai dalam orasi tersebut. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga aktivitas membaca dan menulis di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Minggu (27/9) melalui “Menelusuri Setting Novel Siti Nurbaya”. Sebanyak 56 pelajar dan mahasiswa mengikuti perjalanan literasi dengan mengunjungi sejumlah lokasi yang berkaitan dengan lanskap cerita Siti Nurbaya, termasuk Alang Lawas, Pasar Mudiak, Pasar Gadang, kawasan Kota Tua, dan Gunung Padang.
Kegiatan tersebut membawa peserta keluar dari ruang diskusi untuk melihat hubungan antara teks sastra, ruang kota, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Peserta tidak hanya diajak mengunjungi lokasi, tetapi juga membaca kembali bagian-bagian karya yang berkaitan dengan ruang tersebut.
Telusur sastra ini juga membuka pembicaraan mengenai mitos yang lahir dari Novel Sitti Nurbaya. Jembatan dan makam Sitti Nurbaya dibangun kemudian sebagai kepercayaan masyarakat di sekitarnya, padahal Sitti Nurbaya adalah karya sastra novel yang ditulis oleh Marah Rusli. Artinya, produk fiksi satu orang, bukan legenda tradisional. Artinya, masyarakat dapat digerakkan oleh karya sastra tersebut.
Selain telusur Siti Nurbaya, Cagak Sastra menghadirkan Diskusi Sastra Zaman Perang yang membicarakan karya-karya sastra pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Deddy Arsya, sejarawan yang menjadi narasumber dalam penelitian ini menegaskan bahwa sastra zaman perang yang dimaksud dalam diskusi kali ini adalah sastra angkatan 45 yang ditulis dari tahun 1945—1950. Dari periodesasi tersebut, menjadi tonggak pembatas antara angkatan lama dan baru. Angkatan ini yang melahirkan sastra Indonesia modern dan meninggalkan sastra tradisional. Sampai hari ini, bahkan karya sastra angkatan 45 inilah yang diperkenalkan di ruang-ruang sekolah. Lahirlah karya-karya untuk menunjukkan perang-perang sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Hal menarik yang terjadi adalah puisi-puisi yang lahir pada zaman perang itu tidak memotret kondisi perang, tetapi secara gamblang malah cenderung memotret kondisi mental atau pikiran. Bahkan, Chairil Anwar dengan keakuannya berbicara tentang cinta-cintaan. Barangkali itu adalah bentuk pelarian diri dari dunia perang yang pahit, angan-angan untuk merdeka secara mental dan pikiran menjadi cita-cita. Dalam dunia perpuisian, setidaknya lahir tiga penyair besar, yaitu Chairil Anwar dengan puisinya yang paling terkenal Aku dan Kerawang Bekasi, lalu ada Asrul Sani seorang esais dan sastrawan, dan Rivai Apin juga merupakan penyair angkatan 45. Ketiga penyair ini banyak berbicara tentang kapal dan laut, barangkali ini adalah representasi dari revolusi, yaitu sesuatu menyangkut idiologis dan psikis yang tidak jelas di depan sana. Hal itu adalah upaya untuk melupakan realitas perang yang pelik.
Rangkaian apresiasi juga dilengkapi pertunjukan seni, termasuk pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan monolog yang mengangkat tokoh perjuangan Khatib Sulaiman. Kehadiran pertunjukan ditempatkan di antara sesi kegiatan sebagai bagian dari pengalaman apresiasi sastra, bukan sekadar hiburan.
Cagak Sastra sekaligus menjadi ruang awal pembentukan komunitas muda pembaca sastra. Komunitas tersebut diarahkan menjadi ruang berkelanjutan bagi pelajar, mahasiswa, penulis, pegiat sastra, dan masyarakat untuk membaca, berdiskusi, bertukar gagasan, serta mengembangkan kegiatan literasi.
Melalui Cagak Sastra, Yayasan Cagak Inti Kultura berupaya memperluas jaringan pegiat sastra sekaligus menciptakan ruang yang lebih dekat dengan generasi muda. Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, jurnalis, sastrawan, sejarawan, seniman, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Ria Febrina, Ketua Pelaksana Cagak Sastra menyatakan bahwa regenerasi sastra tidak hanya berkaitan dengan lahirnya penulis baru, tetapi juga dengan keberadaan pembaca. Sastra membutuhkan pembaca agar karya terus dibaca, ditafsirkan, dibicarakan, dan diwariskan. Karena itu, Cagak Sastra tidak berhenti pada kegiatan dua hari. Pembentukan komunitas pembaca menjadi bagian penting dari rangkaian tersebut, dengan harapan ruang perjumpaan antara pembaca, penulis, sastrawan, dan masyarakat dapat terus berkembang di Kota Padang. (*)









