Pariaman, Scientia — Peristiwa dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 86 siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Pariaman menyisakan persoalan soal kehadiran penanggung jawab dapur penyedia makanan. Saat para siswa menjalani perawatan di rumah sakit, kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pauh Barat justru tidak berada di lokasi.
Dapur SPPG Pauh Barat yang memasok makanan MBG ke MTsN 1 Pariaman tersebut dikelola Yayasan Duta Cahaya Bangsa. Berdasarkan informasi yang diperoleh Scientia.id, kepala SPPG yang baru diketahui sedang berada di Banten ketika peristiwa dugaan keracunan terjadi.
Mantan Kepala SPPG Pauh Barat, Mutiara Ihsani, membenarkan bahwa dirinya telah menyerahkan jabatan kepada kepala SPPG yang baru. Setelah serah terima, Mutiara masih menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas (Plt) hingga Jumat lalu.
“Saya sudah serah terima jabatan dan menjadi Plt sampai Jumat kemarin,” kata Mutiara.
Menurut dia, kepala SPPG yang baru belum berada di Pariaman karena masih melaksanakan tugas di Banten. Kepala SPPG tersebut, kata Mutiara, baru akan berangkat dari Banten pada Selasa, (14/9).
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena dugaan keracunan terjadi ketika layanan MBG tengah berjalan dan puluhan siswa harus mendapatkan penanganan medis.
Sebanyak 86 siswa MTsN 1 Kota Pariaman dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Para siswa kemudian dilarikan dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit M. Yamin dan Rumah Sakit Dr. Sadikin.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala seperti mual, pusing, hingga muntah. Dugaan keracunan tersebut kini menjadi perhatian karena menyangkut keamanan makanan yang diberikan kepada peserta program MBG.
Scientia.id juga berupaya meminta konfirmasi kepada Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) untuk wilayah Kota Pariaman, Inggrid Saumi, terkait peristiwa tersebut, termasuk mengenai pengawasan terhadap SPPG dan ketidakhadiran kepala SPPG.
Namun, hingga berita ini ditulis, Inggrid belum merespons ketika dibubungi. Saat dihubungi melalui sambungan telepon melalui whatsapp, nomor yang bersangkutan berada dalam status memanggil atau tidak aktif.
Belum ada penjelasan resmi dari BGN mengenai dugaan keracunan tersebut maupun langkah yang akan dilakukan terhadap SPPG yang memasok makanan ke MTsN 1 Pariaman.
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan dan penanggungjawaban SPPG ketika terjadi persoalan dalam pelaksanaan program MBG. Apalagi, makanan yang didistribusikan menyasar pelajar yang membutuhkan jaminan keamanan dan kualitas pangan.
Hingga kini, penyebab pasti siswa mengalami gejala keracunan belum diketahui. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah gangguan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi para siswa.
Scientia.id masih berupaya mendapatkan konfirmasi dari BGN dan pihak Yayasan Putra Cahaya Bangsa terkait dugaan keracunan tersebut.(yrp)







