Pariaman, Scientia — Puluhan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Pariaman diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Pauh Barat, Kota Pariaman. Senin, (14/9)
Para siswa mengalami sejumlah gejala, seperti mual, pusing hingga muntah. Mereka kemudian dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan medis, di antaranya Rumah Sakit Muhammad Yamin dan Rumah Sakit Sadikin.
Wali Kota Pariaman Yota Balad mengatakan, berdasarkan pendataan sementara, jumlah siswa yang mengalami gejala mencapai sekitar 86 orang. Sebagian siswa telah mendapatkan perawatan diperbolehkan pulang dan dijemput keluarganya.
“Jumlahnya sekitar 86 orang. Namun, beberapa di antaranya sudah dibawa pulang oleh keluarga,” kata Yota.
Menurut Yota, Pemerintah Kota Pariaman masih melakukan identifikasi untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Dari pemeriksaan awal, dugaan sementara mengarah pada salah satu menu MBG, yakni ayam crispy.
Namun, pemerintah belum menyimpulkan bahwa menu tersebut menjadi penyebab keracunan. Sampel makanan dan muntahan siswa saat ini dibawa untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
“Kita masih melakukan identifikasi. Sampel makanan dan muntah sudah dibawa untuk diuji di laboratorium,” ujarnya.
Yota mengatakan, pihaknya juga menyoroti fakta bahwa SPPG tersebut mendistribusikan makanan ke enam sekolah. Namun, laporan siswa mengalami gejala keracunan sejauh ini hanya ditemukan di MTsN 1 Kota Pariaman.
“Kita sudah cek semua sekolah, namun tidak terdapat keracunan, selain MTsN 1 ini,” kata dia.
Kondisi tersebut, menurut Yota, menjadi bagian penting dalam proses penelusuran untuk mengetahui sumber persoalan, termasuk kemungkinan yang berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi para siswa.
Sebagai langkah sementara, Pemerintah Kota Pariaman menutup operasional SPPG yang dikelola Yayasan Duta Cahaya Bangsa. Penutupan dilakukan sampai proses penyelidikan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) selesai.
Langkah itu diambil untuk mencegah persoalan serupa terjadi kembali sekaligus memberikan ruang bagi tim terkait melakukan pemeriksaan terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan MBG.
Pantauan Scientia.id di Rumah Sakit Muhammad Yamin menunjukkan puluhan siswa sempat memenuhi ruang instalasi gawat darurat. Sejumlah siswa mendapatkan perawatan medis, termasuk bantuan oksigen.
Hingga berita ini diturunkan, sebanyak 13 siswa masih menjalani perawatan di RS Muhammad Yamin. Sementara itu, 52 siswa lainnya masih mendapatkan perawatan di RS Sadikin.
Dengan demikian, sedikitnya 65 siswa masih berada di rumah sakit berdasarkan pendataan sementara pemerintah daerah.
Di sisi lain, SPPG yang dikelola Yayasan Duta Cahaya Bangsa belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut, termasuk mengenai proses penyediaan makanan yang diduga berkaitan dengan munculnya gejala pada siswa.
Scientia.id telah mencoba menghubungi Koordinator Wilayah Kota Pariaman, Inggrid Saumi, untuk meminta konfirmasi. Namun, hingga berita ini diturunkan, telepon yang bersangkutan tidak aktif.
Pemerintah Kota Pariaman bersama pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan itu akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap penyelenggaraan MBG di SPPG tersebut.(yrp)









