Kamis, 22/10/26 | 06:39 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB


Oleh: Hasbi Witir
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang pernah menggunakannya, misalnya ketika mengatakan “aku pulang dulu” atau “kapan kamu pulang?” Kalau dipikir-pikir, kata pulang sebenarnya sangatlah sederhana. Kita biasanya langsung membayangkan seseorang yang kembali ke rumah setelah berpergian. Namun, apakah pulang selalu berarti kembali ke rumah saja? Ternyata tidak. Dalam beberapa keadaan, kata pulang dapat memiliki maksud yang berbeda dari arti dasarnya. Hal tersebut membuat kata pulang menarik untuk dilihat melalui kajian semantik dan pragmatik.

Untuk memahami kata pulang, terlebih dahulu dapat dilihat dari kajian semantik. Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna dalam bahasa. Berdasarkan bentuknya, pulang termasuk kata dasar karena tidak mengalami proses pengimbuhan, pengulangan, maupun pemajemukan. Dari segi kelas kata, pulang termasuk verba atau kata kerja karena menunjukkan suatu tindakan atau keadaan, yaitu kembali ke tempat asal atau tempat tinggal.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Secara leksikal, kata pulang mempunyai makna kembali ke tempat asal atau tempat tinggal setelah pergi dari tempat tersebut. Contohnya dalam kalimat, “Setelah selesai kuliah, saya pulang ke kos.” Pada kalimat tersebut, kata pulang masih digunakan sesuai dengan makna dasarnya. Penutur sebelumnya berada di kampus dan kemudian kembali ke tempat tinggalnya. Tidak ada makna lain yang perlu dicari karena apa yang dikatakan sesuai dengan apa yang dimaksudkan.

Namun, penggunaan kata pulang dapat menjadi berbeda ketika masuk ke dalam konteks tertentu. Misalnya seseorang mengatakan, “Aku ingin pulang.” Kalimat tersebut secara semantik dapat dipahami sebagai keinginan untuk kembali ke suatu tempat. Akan tetapi, tanpa mengetahui situasi penuturnya, kita belum tentu mengetahui apa yang sebenarnya dimaksudkan. Jika orang tersebut sedang berada jauh dari keluarganya, mungkin ia benar-benar ingin kembali ke rumah. Akan tetapi, jika ia sedang berada di rumah dan mengatakan hal yang sama, tentu maknanya tidak dapat dipahami hanya dari arti kata pulang saja.

Hal tersebut dapat dilihat juga dalam kalimat, “Kalau sudah capek, pulang saja.” Secara semantik, pulang tetap memiliki arti kembali. Akan tetapi, secara pragmatik, maksud kalimat tersebut bisa lebih luas. Kata pulang dapat menjadi bentuk ajakan untuk kembali kepada seseorang atau suatu tempat yang dianggap nyaman. Jadi, untuk memahami maksud penutur, kita perlu mengetahui siapa yang berbicara, kepada siapa kalimat itu ditujukan, serta dalam keadaan seperti apa kalimat tersebut diucapkan.

Contoh lain yang lebih menarik adalah kalimat “Aku ingin pulang ke kamu.” Secara harfiah, seseorang bukanlah sebuah tempat yang dapat didatangi untuk pulang. Namun, kita tetap dapat memahami maksud kalimat tersebut. Kata pulang dalam kalimat itu digunakan untuk menggambarkan keinginan kembali kepada seseorang yang dianggap sebagai tempat untuk mendapatkan kenyamanan. Makna seperti ini tidak cukup dijelaskan hanya melalui makna leksikal. Kita membutuhkan konteks dan pengetahuan mengenai hubungan antara penutur dan lawan tutur untuk memahami maksudnya.

Di sinilah hubungan semantik dan pragmatik terlihat. Semantik membantu menjelaskan makna kata pulang secara bahasa, sedangkan pragmatik membantu melihat bagaimana makna tersebut digunakan dan dipahami dalam konteks komunikasi. Semantik dapat menjawab pertanyaan “apa arti kata pulang?”, sedangkan pragmatik membantu menjawab “apa maksud seseorang ketika mengatakan pulang dalam situasi tertentu?”. Keduanya memang sama-sama berkaitan dengan makna, tetapi yang diperhatikan tidaklah sepenuhnya sama.

Menurut saya, perbedaan antara makna dan maksud inilah yang membuat kata pulang menarik. Jika hanya melihat maknanya di dalam kamus, kita mungkin hanya memahami pulang sebagai kegiatan kembali. Padahal, dalam percakapan sehari-hari, satu kata dapat membawa maksud yang lebih jauh. Kata pulang dapat digunakan untuk menyampaikan kerinduan, ajakan, rasa nyaman, atau keinginan untuk kembali kepada seseorang. Makna tersebut muncul karena adanya konteks yang menyertai penggunaan kata.

Dari satu kata pulang, kita akhirnya dapat melihat bahwa bahasa tidak dapat dilepaskan dari penggunaannya dalam komunikasi. Semantik dan pragmatik memiliki hubungan yang erat karena keduanya sama-sama membantu manusia memahami makna, tetapi dari sudut pandang yang berbeda. Semantik melihat makna yang dimiliki oleh bahasa, sedangkan pragmatik melihat makna yang muncul berdasarkan konteks dan maksud penutur.

Oleh karena itu, pulang tidak selalu sesederhana kembali ke rumah. Secara semantik, kata tersebut memang memiliki makna dasar sebagai tindakan kembali ke tempat asal atau tempat tinggal. Namun, secara pragmatik, maksud yang muncul dapat berubah sesuai dengan situasi penggunaannya.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa memahami bahasa bukan hanya tentang mengetahui arti sebuah kata, melainkan juga memahami bagaimana dan untuk apa kata tersebut digunakan sebab terkadang seseorang mengatakan “ingin pulang” bukan karena ingin kembali ke suatu tempat, melainkan karena ingin kembali kepada sesuatu yang membuatnya merasa “pulang”.

Tags: #Hasbi Witir
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Berita Sesudah

Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Berita Sesudah
Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

POPULER

  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Asap Karhutla, Nakes di Dharmasraya Diminta Jemput Bola Tangani Pasien ISPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bagikan Masker di Lubuk Alung, Firdaus: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Evaluasi Kinerja Perumda Tirta Solok Nan Indah, Bupati Solok Bidik 30.000 Pelanggan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026