
Oleh: Gilang Nindra
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antarunsur bahasa dalam membentuk satuan yang lebih besar, terutama kalimat. Secara umum, sintaksis membahas bagaimana kata-kata disusun secara teratur, linier, dan bermakna sehingga dapat membentuk frasa, klausa, hingga kalimat. Dalam tata bahasa, sintaksis memiliki keterkaitan erat dengan morfologi, tetapi keduanya memiliki fokus yang berbeda.
Morfologi membahas pembentukan kata, sedangkan sintaksis membahas hubungan antarkata dan antarsatuan bahasa dalam suatu konstruksi. Selain itu, sintaksis juga menunjukkan adanya hierarki dalam satuan bahasa, mulai dari kata, frasa, klausa, kalimat, hingga wacana sebagai satuan tertinggi. Dengan demikian, sintaksis tidak hanya mempelajari susunan bahasa secara struktural, tetapi juga menjelaskan fungsi dan makna hubungan antarsatuan tersebut. Pendapat para ahli seperti Zaenal Arifin dan Abdul Chaer menegaskan bahwa sintaksis berperan penting dalam memahami bagaimana bahasa tersusun secara sistematis agar dapat digunakan secara tepat dalam komunikasi.
Berdasarkan teks tersebut, sintaksis dapat dipahami sebagai cabang linguistik yang membahas hubungan antarunsur bahasa dalam membentuk frasa, klausa, kalimat, hingga wacana. Jika dilihat lebih jauh, pembahasan ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena setiap orang menggunakan susunan kata untuk menyampaikan maksudnya. Sintaksis tidak hanya menjadi bagian dari teori kebahasaan, tetapi juga menjadi dasar agar komunikasi berlangsung dengan jelas, runtut, dan mudah dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari, orang mungkin tidak menyadari bahwa saat berbicara, menulis pesan, atau menyusun kalimat, mereka sebenarnya sedang menerapkan prinsip-prinsip sintaksis.
Peran sintaksis dalam kehidupan sehari-hari sangat penting karena susunan kata yang tepat dapat menentukan kejelasan makna. Kalimat yang sama-sama terdiri atas kata yang benar belum tentu menghasilkan makna yang tepat jika susunannya kacau. Misalnya, kalimat “Saya memotret bunga di taman” memiliki makna yang jelas, sedangkan susunan yang tidak tepat dapat menimbulkan kebingungan atau salah tafsir. Hal ini menunjukkan bahwa sintaksis membantu seseorang menyampaikan pikiran secara teratur. Dalam percakapan sehari-hari, dalam menulis tugas, dalam membuat unggahan media sosial, bahkan saat mengirim pesan kepada dosen atau teman, kemampuan menyusun kalimat yang baik sangat dibutuhkan agar maksud yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Sintaksis juga berperan dalam membentuk cara berpikir yang sistematis. Satuan bahasa tersusun secara bertingkat, mulai dari kata, frasa, klausa, kalimat, hingga wacana. Susunan ini menunjukkan bahwa bahasa mengajarkan manusia untuk berpikir secara runtut. Ketika seseorang mampu menyusun kalimat dengan baik, sebenarnya ia juga sedang melatih dirinya untuk menyusun gagasan dengan jelas. Oleh karena itu, sintaksis bukan hanya penting dalam kajian linguistik, tetapi juga sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari sebagai dasar komunikasi yang efektif dan terarah.
Sintaksis dalam Mahajani, dkk. (2021: 1) merupakan salah satu cabang dalam tata bahasa yang membahas berbagai hal yang berkaitan dengan susunan dan hubungan antarsatuan bahasa, khususnya frasa, klausa, dan kalimat. Kajian sintaksis berfokus pada bagaimana unsur-unsur bahasa tersebut disusun secara teratur sehingga menghasilkan makna yang jelas dan dapat dipahami. Dalam hierarki satuan bahasa, kalimat menempati posisi yang paling tinggi karena menjadi bentuk bahasa yang lebih lengkap dalam menyampaikan gagasan. Sebuah kalimat dapat dibentuk oleh klausa, sedangkan klausa sendiri dapat tersusun atas frasa-frasa yang saling berhubungan. Oleh sebab itu, sintaksis memiliki peran penting dalam menjelaskan bagaimana struktur bahasa bekerja dalam membentuk ujaran yang utuh dan bermakna.
Dalam kehidupan sehari-hari, peran sintaksis dapat dilihat dari cara seseorang menyusun kata-kata ketika berbicara maupun menulis. Komunikasi yang baik tidak hanya bergantung pada banyaknya kosakata yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan menyusun kosakata tersebut menjadi kalimat yang jelas, runtut, dan mudah dipahami. Misalnya, saat berbicara dengan dosen, menulis pesan, membuat unggahan media sosial, atau menyusun tugas kuliah, seseorang memerlukan susunan kalimat yang tepat agar maksud yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dengan demikian, sintaksis bukan hanya penting dalam kajian linguistik, tetapi juga sangat berguna dalam aktivitas komunikasi sehari-hari karena membantu seseorang menyampaikan gagasan secara lebih efektif dan terarah.
Referensi:
Tarmini, Wini & Sulistyawati. (2019). Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Uhamka. Mahajni, Tri, dkk. (2021). Sintaksis Bahasa Indonesia. Bogor: Lindan Bestari.









