Kamis, 16/4/26 | 14:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Minggu, 01/3/26 | 14:29 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Di laman Klinik Bahasa Scientia ini, sudah banyak artikel yang memberikan informasi tentang imbuhan di dalam bahasa Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, pada edisi kali ini, kita akan menambah wawasan atau memahami kembali salah satu imbuhan yang juga cukup sering digunakan di dalam kehidupan, akan tetapi tidak terlalu banyak dibahas jika dibandingkan dengan imbuhan lainnya, seperti me- dan ber-.

Untuk memperkaya pemahaman kita dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, di dalam edisi Klinik Bahasa Scientia kali ini, penulis akan menjelaskan imbuhan memper-. Imbuhan memper- termasuk ke dalam jenis awalan karena posisinya di depan kata yang dilekatkannya, seperti memperbesar (memper- + besar), memperbanyak (memper- + banyak), mempersulit (memper- + sulit), dan memperistri (memper- + istri). Berbeda dengan imbuhan me- dan ber-, imbuhan memper- tidak memiliki alomorf atau variasi seperi me-, mem-, men-, meng-, menge-, dan meny- (alomorf dari awalan me-) serta ber-, bel-, dan be- (alomorf dari awalan ber-). Awalan memper- memiliki bentuk yang tetap, apa pun huruf yang mengikutinya setelah awalan tersebut. Karena tidak ada variasi alomorf dalam awalan memper-, maka kita akan masuk ke dalam pembahasan tentang makna yang ada di dalam awalan tersebut.

Pertama, awalan memper- memiliki makna “membuat lebih” atau “menjadikan lebih dibandingkan sebelumnya”. Karena maknanya “membuat lebih”, maka kata-kata yang pada umumnya dilekatkan dengan awalan ini adalah kata-kata yang tergolong ke dalam kelas kata adjektiva (kata sifat). Ini adalah contoh kata-kata yang sudah digabung dengan awalan memper- dan sesuai dengan makna yang dimaksud, yaitu mempercepat (cepat), memperlambat (lambat), mempersulit (sulit), mempermudah (mudah), memperpanjang (panjang), mempersingkat (singkat), mempercantik (cantik), memperkaya (kaya), mempermiskin (miskin), memperjauh (jauh), memperdekat (dekat), dan memperjelas (jelas). Semua kata yang ada di dalam contoh-contoh tersebut adalah adjektiva. Hal yang perlu ditekankan di dalam makna memper- yang pertama ini adalah adanya nuasa “lebih”. Artinya, ada suatu situasi yang awalnya sudah dalam kondisi tertentu, kemudian dibuat menjadi “lebih” daripada kondisi sebelumnya. Mari kita lihat contoh kalimat-kalimat berikut:

  1. Orang tua kami merasa nyaman liburan di kota ini. Oleh karena itu, kami memperpanjang liburan di sini.
  2. Kami masih harus memperkecil ukuran file ini. Sampai saat ini, kami belum berhasil mengirimnya kepada dosen.
  3. Pemerintah akan memperlebar jalan ini karena selalu terjadi macet pada saat-saat tertentu.
  4. Dia tidak hanya ingin mempercantik wajahnya, tetapi juga ingin mempercantik
  5. Selama bulan Ramadan ini, umat muslim selalu berusaha untuk memperbanyak

Dari lima contoh kalimat tersebut, awalan memper- membuat situasi yang sebelumnya sudah dalam kondisi tertentu, saat ini menjadi “lebih”. Untuk lebih mudahnya, kita bisa mengambil contoh kalimat pertama. Kata memperpanjang di dalam kalimat tersebut menandakan bahwa durasi sebelumnya sudah cukup panjang untuk digunakan sebagai masa liburan, tetapi awalan memper- membuat durasinya lebih panjang dari sebelumnya. Hal ini berbeda dengan imbuhan gabungan me-kan, yaitu memanjangkan. Kata memperpanjang dan memanjangkan memiliki konteks yang berbeda. Kata memanjangkan bermakna sesuatu hal yang sebelumnya “pendek” atau “singkat”, saat ini dibuat menjadi “panjang”. Contohnya kalimatnya: Adik saya ingin memanjangkan rambutnya agar terlihat lebih anggun. Di dalam situasi ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa rambut adik sebelumnya “tidak panjang” dan untuk masa yang akan datang, adik akan membuat rambutnya menjadi “panjang”.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Sejalan dengan penjelasan ini, ada hal unik yang terdapat di dalam awalan memper-. Jika kata mudah bisa dibentuk menjadi memudahkan atau mempermudah, kata sulit bisa dibentuk menjadi menyulitkan atau mempersulit, kata kecil bisa dibentuk menjadi mengecilkan dan memperkecil, tetapi berbeda dengan kata cantik. Meskipun secara tata bahasa baku ada kata mencantikkan dan mempercantik, tetapi secara praktiknya di dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih terbiasa menggunakan kata mempercantik. Berikut ini adalah contoh kalimatnya: Dia ingin mempercantik dirinya; Gaun ini bisa mempercantik semua perempuan; Jika ingin mempercantik diri, mulailah dari hatimu sendiri. Kita tidak biasa mendengar kata mencantikkan jika kata ini dimasukkan ke dalam kalimat-kalimat tersebut. Hal ini bisa dianggap sebagai nuansa sosial bahwa setiap perempuan pada dasarnya diyakini sudah cantik atau memiliki kecantikan masing-masing. Oleh sebab itu, kata mempercantik dianggap lebih baik digunakan di berbagai situasi, dibandingkan kata mencantikkan. Karena itulah, kita jarang mendengar kata mencantikkan.

Kedua, awalan memper- memiliki makna “menganggap”, “merepresentasikan”, “melabelkan” atau “menjadikan sesuatu sebagai”. Di dalam makna kedua ini, awalan memper- lebih dominan dilekatkan dengan nomina (kata benda), seperti memperistri (istri), memperbudak (budak), mempertuan (tuan), dan mempertuhan (tuhan). Berikut ini adalah contoh-contoh kalimatnya:

  1. Laki-laki itu akan memperistri kakak saya. (Di dalam kalimat ini, kakak saya akan “dijadikan sebagai istri” oleh laki-laki tersebut, yang artinya akan dinikahi).
  2. Laki-laki itu bukan atasan yang baik. Dia selalu memperbudak (Di dalam kalimat ini, pegawai “diperlakukan sebagai budak” yang bisa disuruh sesuka hati, bukan sebagai pegawai pada umumnya).
  3. Jangan mempertuhan Uang bukan segalanya. (Di dalam kalimat ini, uang “dianggap seperti Tuhan” yang melebihi dari apa pun di dunia ini).

Sama halnya dengan makna awalan memper- yang pertama, di dalam makna kedua ini juga terdapat keunikan. Kita akan fokus pada kata memperistri, yang bernuansa bahwa orang yang paling berperan di dalam konteks ini adalah laki-laki. Artinya, ada seorang laki-laki yang ingin menjadikan seorang perempuan sebagai istrinya, atau ingin menikahi seorang perempuan. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, juga ada kata mempersuami. Akan tetapi, secara praktiknya di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang berbudaya dan berbahasa Indonesia, kata mempersuami sangat jarang digunakan. Hal ini terjadi karena pada dasarnya di dalam kehidupan sehari-hari, sangat lumrah seorang laki-laki meminta seorang perempuan untuk menjadi istrinya. Meskipun juga ada situasi yang berbeda (perempuan yang meminta seorang laki-laki menjadi suaminya). Akan tetapi, dalam tradisi yang kebanyakan terjadi, laki-laki lebih banyak mengambil peran untuk melakukan hal tersebut. Oleh sebab itu, kata mempersuami sangat jarang digunakan.

Selain dari contoh-contoh yang disebutkan di dalam artikel ini, tentu saja masih banyak contoh lain dari kata-kata yang berawalan memper-. Artikel ini hanya membantu para pembaca untuk mengingat kembali atau menambah wawasan tentang awalan memper-. Semoga bermanfaat.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Safari Ramadan 1447 Hijriah, Osman Ayub Salurkan Bantuan Rp25 juta di Masjid Al Mujahidin Kurao Pagang

Berita Sesudah

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Idiom “keras kepala” menjadi viral karena diucapkan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

Minggu, 15/3/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Bahasa adalah representasi dari semiotika...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

Minggu, 08/3/26 | 23:23 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 & S3 Linguistik Universitas Andalas) Orang Minangkabau...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Berita Sesudah
Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Teks, Ko-teks, dan Konteks dalam Wacana Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Selenggarakan Pelatihan Literasi AI bagi 500 Kepsek se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026