Sabtu, 26/9/26 | 12:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas
(Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)

 

Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia. Sejak era reformasi, pemilu dipandang sebagai mekanisme paling sah untuk menyalurkan kedaulatan rakyat. Namun, di balik gegap gempita pesta demokrasi, pertanyaan mendasar terus mengemuka adalah; apakah pemilu di Indonesia telah mencerminkan demokrasi yang substantif, atau sekadar berhenti pada demokrasi yang prosedural?

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB
Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Secara prosedural, Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan. Pemilu dilaksanakan secara periodik, melibatkan banyak partai politik, diawasi oleh lembaga independen, dan memberikan ruang partisipasi luas bagi masyarakat. Rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpin dan wakilnya secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Dari sisi ini, Indonesia patut diapresiasi sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia.

Namun, demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering pemilu diselenggarakan, melainkan juga dari kualitas proses dan hasilnya. Dalam praktiknya, pemilu masih diwarnai berbagai persoalan klasik seperti politik uang, politisasi identitas, penyebaran hoaks, hingga rendahnya literasi politik masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa pemilu sering kali dipahami sebatas ajang kompetisi merebut suara, bukan sebagai sarana pendidikan politik dan pembentukan kepemimpinan yang berintegritas.

Selain itu, dominasi elite politik dan oligarki ekonomi dalam kontestasi pemilu juga menjadi tantangan serius. Biaya politik yang tinggi membuat hanya segelintir orang dengan modal besar yang mampu bersaing. Akibatnya, representasi rakyat sering kali tereduksi menjadi representasi kepentingan elite. Demokrasi pun berisiko menjadi formalitas belaka, di mana rakyat hanya berperan sebagai pemberi suara tanpa memiliki pengaruh nyata dalam proses pengambilan kebijakan.

Di sisi lain, peran masyarakat sipil, media, dan lembaga pendidikan sangat krusial dalam memperkuat kualitas pemilu. Pendidikan politik harus diarahkan pada pembentukan pemilih rasional, kritis, dan beretika. Media massa dan media sosial perlu menjalankan fungsi edukatif, bukan sekadar sensasional. Sementara itu, penyelenggara pemilu harus terus meningkatkan integritas, transparansi, dan profesionalisme agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Pemilu sejatinya bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Demokrasi substantif hanya akan terwujud apabila pemilu melahirkan pemimpin yang responsif, kebijakan yang pro-rakyat, serta sistem politik yang adil dan inklusif. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi rutinitas lima tahunan yang kehilangan makna.

Akhirnya, pemilu di Indonesia harus dipandang sebagai proses berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas demokrasi. Tantangan yang ada tidak boleh membuat kita pesimis, melainkan menjadi dorongan untuk terus melakukan reformasi politik. Rakyat, partai politik, pemerintah, dan seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa pemilu benar-benar menjadi sarana perwujudan kedaulatan rakyat, bukan sekadar prosedur formal yang hampa substansi.

Tags: #Firnanda Amdimas
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dorong Kemajuan Peternakan Daerah, DPRD Sumbar Kaji Potensi Pakan Maggot

Berita Sesudah

Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Berita Sesudah
Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

Pemprov Sumbar Perkuat Layanan Pengaduan, OPD Diminta Buka Unit Mandiri

POPULER

  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Korban Galodo, Daffi Arrahman Ditemukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Telkomsel Gerak Cepat Pulihkan Jaringan Komunikasi di Kantor Bupati Solok Pascagalodo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Korban Galodo Solok Ditemukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Dinas Wabup Solok Dibuka untuk Pengungsi, Warga Diminta Hindari Lokasi Rawan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hasil Uji BBPOM: Nasi Putih dan Ayam Tepung Menu MBG Sebab Keracunan di Pariaman Tak Memenuhi Syarat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026