
Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai media pendidikan karakter dan moral. Dalam konteks Indonesia, pendidikan karakter dipandang sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kurikulum 2013 juga menempatkan sebagai pembelajaran sastra sebagai penanaman nilai-nilai seperti sopan santun, gotong royong, dan toleransi, sehingga diharapkan dapat berkontribusi pada pembentukan karakter siswa (Sagala, dkk., 2022; Nofitasari, 2025).
Walaupun peran sastra anak sebagai media pendidikan karakter memiliki dasar yang kuat, hal itu sesungguhnya belum menyentuh potensi sastra anak secara keseluruhan. Sastra anak juga memiliki potensi sebagai media pengenalan berbagai emosi. Dalam konteks budaya populer, hal ini diperlihatkan melalui Film Inside Out (2015) bahwa emosi memiliki keberagaman bentuk; bahagia, sedih, marah, cemas, dan jijik. Dengan demikian, cerita anak harus selalu berakhir bahagia atau menghadirkan tokoh secara hitam dan putih, baik dan buruk. Sebaliknya, karya seni dan sastra anak mengajak penonton dan pembaca anak untuk belajar mengenali emosi.
Dalam hal ini, seri Lessons of Little Anxious Creature (selanjutnya disebut sebagai Lessons of LAC) hadir sebagai bentuk karya sastra anak hasil kolaborasi psikolog dan penulis Lynn Jenkins, dan ilustrator Kirrili Lonergan asal Australia. Seri ini mengangkat tema kecemasan melalui dua tokoh simbolik, bukan merupakan manusia maupun hewan, melainkan makhluk yang merepresentasikan keadaan mental. Tokoh pertama adalah Loppy yang sebagai wujud dari little anxious creature. Ia digambarkan bertubuh kecil dengan telinga panjang yang terkulai. Dengan posturnya yang bungkuk, Loppy merepresentasikan kecemasan dan ketakutan anak. Tokoh kedua bernama Curly yang merepresentasikan Calmster. Ia merupakan simbol dari regulasi emosi dan pengelolaan kecemasan. Curly digambarkan berwatak tenang, supportif, dan tidak menghakimi. Kehadirannya berfungsi mendampingi Loppy dalam menenangkan kecemasannya melalui pengembangan imajinasi, pengaturan postur tubuh, serta afirmasi positif.
Salah satu judul yang terdapat dalam seri Lessons of LAC adalah adalah buku berjudul Brave (2018) atau Baju Berani Loppy. Buku ini mencertiakan tokoh Loppy yang merasa ketakutan untuk pergi ke sekolah. Melihat kegelisahan Loppy, Curly memberinya “kostum keberanian” yang berbentuk baju kodok. Awalnya Loppy ragu untuk mengenakannya, tetapi Curly menuntunnya untuk menutup mata dan membayangkan seperti apa sosok yang memakai kostum keberanian: bagaimana mereka berdiri, bagaimana mereka terlihat, dan apa yang mereka pikirkan. Ketika Loppy menuruti arahan Curly, posturnya berubah. Ia menjadi lebih tinggi dan tegak, leher dan kepalanya menjadi lurus, wajahnya menjadi lebih tenang, dan Loppy pun menjadi lebih berani. Namun demikian, kecemasan Loppy tetap tidak hilang. Pikiran negatifnya terus muncul: bagaimana kalau nanti turun hujan? Apakah ia membawa jas hujan? Bagiana kalau ia lupa cara menulis namanya? Bagaimana kalau ia jatuh dari tangga? Ketakutan-ketakutan tersebut kemudian mengubah Loppy kembali menjadi sosok aslinya sebelum memakai kostum keberanian. Lalu Curly mengajarkan Loppy untuk kembali berimajinasi agar keajaiban terjadi. Dengan berimajinasi, Loppy mampu menghadapi ketakutan dan mengelola kecemasannya, sehingga ia menjadi berani untuk pergi ke sekolah.
Dapat dikatakan, kostum keberanian tidak hanya sekedar berfungsi sebagai pakaian, tetapi juga berperan sebagai alat regulasi emosi untuk mengubah kecemasan menjadi keberanian. Melalui buku Brave, Jenkins dan Lonergan tidak mengatakan bahwa emosi negatif tidak lantas hilang sepenuhnya. Seri Lessons of LAC justru mengajak anak untuk mengenali berbagai jenis emosi, memahami bahwa emosi negatif tidak harus dihindari tetapi dihadapi, serta menyadari bahwa emosi merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat dikelola dan diregulasikan. Dengan cara inilah anak belajar hidup berdampingan dari emosinya sendiri, dan juga mengembangkan keberanian.
Melalui seri Lesson of LAC, kita dapat melihat bahwa peran sastra anak telah melampaui sekedar pendidikan karakter. Dalam paradigma ini, tokoh dalam sastra anak cenderung digambarkan sebagai dikotomi hitam dan putih, baik dan buruk. Namun, paradigma kontemporer justru menempatkan tokoh dalam sastra anak bukan lagi sebagai hitam dan putih atau baik dan buruk, melainkan menghadirkan tokoh yang memiliki kompleksitas emosi. Pendekatan ini memungkinkan anak untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi sendiri. Sastra anak tidak sekedar media pengajaran karakter dan moral, tetapi juga memiliki relevansi dengan isu kontemporer seperti kesehatan mental yang kerap ditemui di kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter tetap penting, karena nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab dan kemandirian merupakan fondasi perilaku yang baik. Namun, pendidikan karakter saja tidak cukup tanpa pendidikan emosi. Anak yang terlihat baik, tapi tidak mampu mengenali dan mengelola emosinya berisiko mengalami konflik batin yang tidak tersampaikan. Sebaliknya, anak yang diajarkan untuk mengenali dan memahami semosi sendiri akan lebih mampu mengembangkan resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit, bertahan, dan menyesuaikan diri ketika menghadapi tekanan, tantangan, dan situasi sulit. Dalam konteks buku Brave, resiliensi muncul ketika tokoh Loppy berhasil menghadapi emosi negatif seperti kecemasan, ketimbang menghindarinya. Dengan demikian, melalui Loppy dan kostum beraninya, sastra anak mengajarkan bahwa keberanian bukan berarti menghilangkan rasa takut, melainkan kemampuan untuk melangkah meskipun rasa takut itu masih ada.






