
Tanpa Ingin Menjadi Utama
Oleh: Arza Kailla Chaerani
Kau hadir tanpa gegap gempita
Seperti lagu yang tak mencari sorak
Nada-nadamu mengalun pelan
Menyentuh ruang yang sunyi
Tanpa pernah meminta lebih
Di tiap petikan yang kau lepaskan
Dunia terasa lebih jinak
Tidak ada suara yang saling menindih
Hanya keheningan yang hangat
Tempat perasaanku belajar tenang,
Dan diam-diam aku berharap
Menjadi bagian kecil dari melodimu
Bukan nada utama
Cukup irama sederhana
Yang selalu kau ulang karena terasa pulang
2025
Nada yang Kubiarkan Diam
Oleh: Arza Kailla Chaerani
Aku menyukai satu nada,
Yang terdengar utuh meski tak pernah kupetik
Bahasanya rapi,
Lagunya begitu sendu hingga ku terlelap
Sementara aku hanya jeda
Di antara bait yang ia mainkan
Aku tahu,
Aku bukan bagian dari nadanya
Aku terlalu sunyi
Untuk irama yang begitu terang.
Saat aku memilih diam,
Nada itu justru kembali berbunyi,
Meninggalkan suara-suara yang indah
Antara kebiasaan
Dan rasa yang terlanjur tumbuh
Maka aku belajar merapikan perasaan
Tidak semua bunyi adalah panggilan,
Dan tidak semua nada
Ditakdirkan menjadi lagu
2025
Jejak yang Tak Menemukan Pulang
Oleh: Arza Kailla Chaerani
Dua cahaya telah lama padam
Waktu berjalan tanpa menoleh
Aku tertinggal di persimpangan
Menunggu arah yang tak datang
Rumah berubah menjadi ingatan
Suara asal perlahan menghilang
Nama-nama tinggal dalam doa
Rindu menua tanpa alamat
Malam memanjang tanpa pelukan
Langit asing tak mengenalku
Aku mencari pulang ke mana
Tak ada peta selain luka
Jalan-jalan berakhir sunyi
Langkah terus membawa kehilangan
Yang tak pernah menemukan rumah
2025
Gelap yang Tak Mengenal Cahaya
Oleh: Arza Kailla Chaerani
Kehilangan ini gelap yang utuh
Bukan malam menunggu pagi
Melainkan gelap tanpa kelahiran
Cahaya tak pernah menemukan jalan
Bahkan bayangan enggan tinggal
Aku berjalan tanpa arah pulang
Langit menutup seluruh namaku
Sunyi tumbuh menjadi rumah
Tempat rindu kehilangan suara
Dan doa jatuh tanpa jawaban
Rasa ini air tanpa wadah
Mengalir lepas dari genggaman
Menyentuh dunia tanpa menetap
Tak tahu harus berhenti
Tak tahu harus kembali
Yang paling pilu dari kehilangan
Bukan perginya yang lama
Melainkan hidup yang tersisa
Menanggung gelap tanpa cahaya
Dan air tanpa tempat pulang
2025
Kota Tua dan Lampu Jalan
Oleh: Arza Kailla Chaerani
Di kota tua kita singgah
Bangunan menyimpan napas kenangan
Waktu berjalan tanpa tergesa
Jejak langkah pernah saling, dan diam terasa akrab
Lampu jalan menyala perlahan
Menghafal cerita yang berlalu
Tawa pernah jatuh lalu pulang tanpa suara
Menjadi kenangan tak kembali
Yang manis telah terlewati
Namun tak pernah benar hilang
Ia tinggal di sudut sunyi di cahaya yang setia
Menjaga kisah kita diam-diam
Kota tua tidak melupakan
Meski manusia belajar pergi
Lampu jalan tetap menyala
Seolah tahu siapa pernahDan siapa tak kembali
2025
Biodata Penulis:
Arza Kailla Chaerani kelahiran Jakarta, 08 September 2006. Ia merupakan seorang mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.







