Minggu, 22/2/26 | 17:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas)

Kata majemuk atau kompositum sering menjadi problem dalam proses kreatif tulis-menulis. Ada banyak penulis menggabungkan kata yang seharusnya ditulis terpisah atau malah memisahkan penulisan kata yang seharusnya digabung. Hal demikian sering terjadi pada kata majemuk. Kata majemuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai penggabungan dua kata yang maknanya berhubungan erat atau menjadi satu kesatuan. Contoh kata majemuk di antaranya jalan raya, sepakbola, saputangan, rumah makan, buku tulis, sering kali, tanggung jawab, dan sebagainya.

Nah, kata majemuk sering kali menjadi problema dalam penulisan karena kata majemuk tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga ada yang sudah bergabung dengan pemarkah lainnya dalam proses pembentukan kata, seperti bergabung dengan afiks atau imbuhan atau mengalami pengulangan atau reduplikasi atau sudah menyatu penulisannya sejak awal karena bendanya dianggap sudah satu.   Kata majemuk atau kompositum termasuk ke dalam bagian yang juga diatur penulisannya dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Kata majemuk berasal dari salah satu proses pembentukan kata yang dalam morfologi (cabang linguistik yang mempelajari pembetukkan kata) dikenal dengan kompositum. Proses pemajemukan atau kompositum adalah salah satu proses pembentuk kata yang memunculkan bentuk baru dan proses ini cukup produktif dalam bahasa Indonesia (Darnis, 2022).

Secara teoretis, setiap kata majemuk, terdiri atas dua kata, tiga kata, atau lebih. Setiap kata majemuk selalu memiliki dua bagian, yaitu bagian kepala (head) atau inti dan bagian pewatas atau penjelas (modifier). Bagian kepala atau inti merupakan kata majemuk yang berfungsi sebagai titik fokus makna kata yang merujuk pada benda, sifat, atau keterangan tertentu, sedangkan bagian  merupakan bagian yang menjelaskan atau memodifikasi bagian inti, misalnya jalan raya. Bagian kepala atau intinya adalah jalan dan bagian pewatasnya adalah raya sebagai komponen kata yang menjelaskan jalan.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Literasi Semiotika dan Hermeneutika untuk Bencana

Senin, 08/12/25 | 07:55 WIB

Hal yang sama juga berlaku untuk kata majemuk yang berjenis idiom. Idiom merupakan kata majemuk dalam KBBI diartikan sebagai konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna sebenarnya dari unsur-unsur pembentuknya. Contoh idiom di antaranya anak emas (orang kepercayaan/kesayangan) buah tangan (oleh-oleh), buah bibir (bahan pembicaraan), kambing hitam (orang yang disalahkan) buah hati (anak kesayangan), meja hijau (pengadilan), tangan kanan (orang kepercayaan), panjang tangan (suka mencuri), kembang desa (gadis cantik di desa), dan sejenisnya.

Idiom secara stuktur merupakan bagian dari kata majemuk yang memiliki posisi bagian kepala (inti) dan juga bagian pewatas (penjelas). Posisi inti bisa berada di bagian depan dan bisa juga di belakang, seperti buah tangan. Bagian inti adalah tangan dan bagian penjelasnya adalah buah, sedangkan meja hijau yang menjadi bagian inti adalah meja dan bagian penjelas terletak di belakang, yaitu kata hijau yang menjelaskan kata meja.

Kemudian, tata cara penulisannya kata majemuk terbagi atas dua. Pertama, kata majemuk bentuk dasar yang penulisanya digabung: sepakbola, saputangan, matahari, olahraga, kacamata, dan kasatmata. Kata-kata tersebut terbentuk dari pemajemukan dua kata yang berbeda yang sudah mengalami proses penyatuan mutlak karena bendanya dianggap sudah menyatu sedemikian rupa dalam persepsi makna yang diberikan oleh masyarakat.

Kedua, kata majemuk yang diapit oleh dua afiks (imbuhan) di depan dan di belakang kata yang penulisannya digabungkan atau dirapatkan tanpa spasi, contohnya afiks memper-kan digabung dengan kata majemuk tanggung jawab menjadi mempertanggungjawabkan, afiks me-kan digabung dengan kata kambing hitam menjadi mengambinghitamkan, afiks di-kan digabung dengan meja hijau menjadi dimejahijaukan.

Ketiga, kata majemuk yang penulisannya dipisahkan, yaitu kata majemuk berdiri sendiri tanpa afiks dan juga bukan bentuk penyatuan mutlak, contohnya rumah makan, jalan raya, buah bibir, buku tulis, sarapan pagi, rumah sakit, kucing belang, Pasar Baru, dan sejenisnya.

Jika kita berbicara struktur kalimat, masing-masing kata majemuk  dapat berfungsi menjadi salah satu unsur pengisi dari bagian struktur kalimat, seperti pengisi posisi subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel.), atau keterangan (K). Untuk melihat fungsi tersebut, dapat kita lihat pada contoh kalimat berikut.

(1) Rumah makan itu terletak di Pasar Baru.

(2) Pak Budi menjadi anak emas kepala desa di kampung halamannya.

(3) Sore hari anak-anak bermain sepakbola di lapangan sepakbola.

Pada kalimat (1) bagian subjek diisi oleh kata majemuk rumah makan dan bagian keterangan diisi oleh kata majemuk Pasar Baru, sedangkan pada kalimat (2) posisi subjek diisi oleh kata majemuk Pak Budi dan posisi pelengkap diisi oleh anak emas dan kepala desa serta bagian keterangan diisi oleh kata majemuk kampung halaman. Lalu pada kalimat (3), kata majemuk dapat mengisi keterangan waktu yang digunakan di awal kalimat, yaitu kata majemuk sore hari dan posisi pelengkap diisi oleh kata majemuk sepak bola, dan posisi keterangan tempat yang terdapat di akhir kalimat, yaitu kata lapangan sepakbola. Demikian uraian mengenai tata cara penulisan kata majemuk dan juga posisinya di dalam kalimat. Semoga bermanfaat.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Berita Sesudah

Dialog dengan Seniman Sumbar, Menteri Kebudayaan Dorong Penguatan Ekosistem Seni Rupa dan Warisan Budaya Rentan Bencana

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Berita Sesudah
Menteri Kebudayaan Fadli Zon bersama seniman, perupa, peneliti dan budayawan Sumatera Barat di Aie Angek Cottage (Foto: Ist)

Dialog dengan Seniman Sumbar, Menteri Kebudayaan Dorong Penguatan Ekosistem Seni Rupa dan Warisan Budaya Rentan Bencana

POPULER

  • Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Klarifikasi Direktur RSUD Sungai Dareh Terkait Poli Jantung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasangan Kata “Bukan” dan “Tidak” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Krisis Air Meluas, Nagari IV Koto Pulau Punjung Mulai Disuplai Tangki Air

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024