
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi hari, tetapi karena terlalu santai. Istirahat yang niatnya sebentar sering kebablasan. Satu gelas jus jeruk disusul minuman lainnya, satu kali membuka ponsel berubah jadi lama. Tanpa disadari waktu sudah bergeser. Dari situ saya sadar, terlambat tidak selalu datang dari kekacauan, tapi justru dari rasa nyaman yang tidak dijaga.
Berbeda dengan pagi yang gaduh, siang datang dengan tipu daya ketenangan. Tidak ada alarm yang berisik, tidak ada rasa panik karena bangun kesiangan. Namun di balik ketenangan itu, waktu berjalan diam-diam. Tanpa disadari, jadwal bergeser sedikit demi sedikit. Janji yang terasa masih lama ternyata sudah di depan mata. Dan saya kembali datang dengan napas terengah, membawa penyesalan yang sama.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa disiplin waktu bukan hanya perkara memulai hari, tetapi juga mengelola jeda di antaranya. Waktu luang sering saya anggap tidak penting, padahal justru di sanalah kebiasaan dibentuk. Menunda lima menit, lalu sepuluh menit, hingga akhirnya kehilangan kendali. Keterlambatan pun hadir bukan sebagai kejutan, melainkan hasil dari rangkaian pilihan kecil yang dianggap remeh.
Ada satu pengalaman sederhana yang mengubah cara pandang saya. Suatu hari saya datang lebih awal ke sebuah pertemuan. Ruangan masih sepi, kursi belum terisi penuh. Di situ saya punya waktu untuk menarik napas, menyusun pikiran, dan menyiapkan diri. Ketika pertemuan dimulai, saya tidak lagi gelisah. Saya hadir sepenuhnya, bukan sekadar secara fisik, tetapi juga mental. Rasanya berbeda, jadi lebih utuh dan lebih siap.
Sejak saat itu, saya mulai belajar memberi batas pada waktu santai dan waktu tanggung jawab. Tidak selalu berhasil, tentu saja. Namun setiap usaha kecil memberi hasil. Saya mulai menyadari bahwa tepat waktu bukan soal menjadi kaku atau kehilangan kebebasan, melainkan tentang memilih kapan harus berhenti dan kapan harus melangkah.
Pada akhirnya, mengelola waktu adalah bentuk dialog dengan diri sendiri. Tentang kejujuran, kesadaran, dan keberanian untuk berubah. Ketika waktu tidak lagi diperlakukan sebagai lawan, melainkan sebagai teman, hidup berjalan lebih selaras. Dan di sanalah saya menemukan ketenangan baru, bukan karena waktu melambat, tetapi karena saya belajar berjalan seirama dengannya.






