Minggu, 22/2/26 | 12:48 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Perbedaan Frasa “Sepatu Baru” dan “Sepatu yang Baru”

Minggu, 21/12/25 | 08:22 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Dari judul artikel ini, terdapat dua frasa yang menjadi sorotan. Pertama, frasa sepatu baru. Kedua, frasa sepatu yang baru. Apa yang membedakan dua frasa ini? Tentu saja kata yang. Frasa pertama tidak memiliki kata yang, sedangkan frasa kedua memiliki kata yang. Lalu, apakah dua frasa ini berbeda? Atau mungkin sebenarnya sama saja, tetapi hanya berbeda gaya dan tidak mempengaruhi konteks. Untuk lebih jelasnya, mari amati penjelasan berikut.

Kata yang di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) termasuk ke dalam tiga kelas kata, tergantung konteksnya. Kelas kata yang pertama adalah partikel. Akan tetapi, kata yang sebagai partikel juga dibedakan secara penggunaannya yang formal atau hanya terdapat di dalam percakapan (informal). Kata yang sebagai partikel (baik secara formal, maupun informal) memiliki empat makna, yaitu:

  1. kata untuk menyatakan bahwa kata atau kalimat yang berikutnya diutamakan atau dibedakan dari yang lain.
  2. kata yang menyatakan bahwa bagian kalimat yang berikutnya menjelaskan kata yang di depan
  3. bahwa
  4. dengan; secara

Kata yang sebagai pronomina memiliki makna: kata yang dipakai sebagai kata pembeda. Kata yang sebagai nomina (di dalam KBBI dilabeli dengan kode “n kl” yang berarti nomina klasik) bermakna: adapun; akan. Setelah mengamati makna kata yang di dalam KBBI, dapat disimpulkan bahwa kata yang berfungsi sebagai “penanda” sesuatu yang dilekatkannya. Di dalam bahasa Indonesia, kata yang cenderung dilekatkan dengan nomina atau pronomina. Kita bisa mengambil contoh di dalam kalimat sederhana berikut: Dia mamakai tas. Kalimat ini bisa dikembangkan lagi jika ditambah dengan kata yang, seperti:

  1. Dia memakai tas yang mahal.
  2. Dia memakai tas yang besar.
  3. Dia memakai tas yang kecil.
  4. Dia memakai tas yang unik.

Kata yang dilekatkan pada kata tas yang merupakan nomina (kata benda). Kata yang di dalam empat kalimat tersebut berfungsi sebagai penanda tas sehingga tas yang dirujuk terkesan lebih spesifik. Jika diamati lebih saksama, dari empat kalimat tersebut, setelah kata yang selalu diikuti oleh adjektiva (kata sifat). Lalu, muncul pertanyaan, apakah setelah kata yang memang selalu diikuti oleh kata sifat? Jawabannya tidak. Penanda yang dibawa oleh kata yang tidak hanya kata sifat, tetapi juga bisa kata kerja (verba), seperti di dalam contoh berikut:

BACAJUGA

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB
Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB
  1. Dia memakai tas yang berwarna hitam.
  2. Dia memakai tas yang dibeli oleh ibunya.
  3. Dia memakai tas yang didesain oleh kakak saya.
  4. Dia memakai tas yang tidak memiliki ritsleting.

Dari penejelasan ini, tentunya sudah bisa dipahami fungsi dari kata yang tersebut. Oleh sebab itu, kata-kata yang ditempel kata yang tidak bisa menjadi sebuah klausa lain, induk kalimat, atau anak kalimat. Kata-kata yang diberi yang hanya menjadi satu frasa. Untuk lebih jelasnya, mari kita amati gabungan kata berikut: laki-laki yang sedang bernyanyi. Apakah gabungan kata ini adalah kalimat? Jawabnnya tidak. Hal ini disebabkan di dalam kata-kata tersebut belum ada predikat, meskipun dari tuturan itu ada kata bernyanyi yang merupakan verba (kata kerja). Kata bernyanyi di dalam tuturan tersebut bukan berfungsi sebagai predikat, melainkan penanda untuk nomina laki-laki. Untuk lebih jelasnya, mari lihat gabungan tuturan tersebut dengan informasi yang lebih rinci:

  1. Laki-laki yang sedang bernyanyi itu adalah kakak saya.
  2. Laki-laki yang sedang bernyanyi itu berasal dari Malaysia.
  3. Laki-laki yang sedang bernyanyi itu akan merilis lagunya bulan depan.
  4. Laki-laki yang sedang bernyanyi itu belum pernah mengadakan konsernya di Indonesia.
  5. Laki-laki yang sedang bernyanyi itu sangat dermawan. Dia selalu memberi bantuan makanan untuk orang-orang yang terkena bencana alam.

Dari lima contoh di atas, dapat dipahami bahwa semuanya adalah kalimat. Mengapa semuanya bisa dikatakan sebagai kalimat? Karena memiliki predikat, yaitu adalah (kalimat 1), berasal (kalimat 2), akan merilis (kalimat 3), belum pernah mengadakan (kalimat 4), dan sangat dermawan (kalimat 5). Oleh sebab itu, gabungan kata laki-laki yang sedang bernyanyi itu hanya sebuah frasa yang menempati satu unsur saja di dalam kalimat, yaitu subjek. Untuk lebih jelasnya, amati lagi perubahan kalimat berikut:

  1. Saya suka laki-laki yang sedang bernyanyi itu.
  2. Saya sering mendengar lagu laki-laki yang sedang bernyanyi itu.
  3. Teman saya akan menikah dengan laki-laki yang sedang bernyanyi itu.
  4. Saya sering melihat laki-laki yang sedang bernyanyi itu di televisi. Apakah dia seorang penyanyi profesional?

Dari empat kalimat ini, frasa laki-laki yang sedang bernyanyi itu juga hanya menempati satu unsur di dalam kalimat, yaitu objek. Oleh sebab itu, kata-kata yang diikuti oleh kata yang hanya berfungsi sebagai frasa yang menempati salah satu unsur di dalam kalimat. Lalu bagaimana dengan kata yang dengan adjektiva (kata sifat)? Hal ini juga berlaku sama dengan adjektiva. Kata yang dengan adjektiva juga berfungsi sebagai frasa di dalam sebuah kalimat. Untuk lebih jelasnya, mari amati kalimat berikut: Tas ini mahal. Di dalam kalimat ini, tidak ada kata yang. Dengan demikian, kata mahal yang merupakan adjektiva menempati unsur predikat di dalam kalimat tersebut. Akan tetapi, jika kata mahal diawali dengan kata yang, akan menjadi:

  1. Dia membeli tas yang mahal.
  2. Dia selalu memakai tas yang mahal.
  3. Jangan beli tas yang mahal!

Namun demikian, persoalan yang dengan adjektiva ternyata lebih rumit jika dibandingkan kata yang dengan verba. Hal ini disebabkan beberapa situasi atau konteks kalimat yang memiliki adjektiva sebagai penandanya, ternyata tidak memerlukan kata yang. Akan tetapi, ini hanya berlaku untuk beberapa konteks (tidak untuk semua adjektiva). Dengan demikian, mari masuk ke dalam pembahasan judul: sepatu baru dan sepatu yang baru. Sebelum masuk ke dalam contoh judul ini, mari amati kata yang yang tidak bisa dihilangkan, yaitu:

  1. Dia adalah mahasiswa yang pintar (tidak bisa: Dia adalah mahasiswa pintar).
  2. Dia adalah teman yang baik hati (tidak bisa: Dia adalah teman baik hati).

Akan tetapi, ada juga kata yang yang bisa dihilangkan, seperti:

  1. Dia memakai sepatu baru.
  2. Dia memakai sepatu yang baru.
  3. Dia tidak suka minuman dingin.
  4. Dia tidak suka minuman yang dingin.

Kembali ke pertanyaan di awal artikel ini, apakah kalimat dengan kata yang maknanya berbeda dengan kalimat yang tidak pakai kata yang? Jawabannya adalah, secara detail, konteksnya berbeda. Kita bisa mengambil kalimat 1 dan 2. Apa perbedaan kalimat dia memakai sepatu baru dengan dia memakai sepatu yang baru? Mengapa dua kalimat ini bisa berbeda konteks hanya karena kata yang? Berikut ini adalah penjelasannya. Kata baru dan dingin (dari empat contoh kalimat di atas) adalah kata sifat yang sudah memiliki makna tertentu. Akan tetapi, frasa yang baru dan yang dingin memiliki konteks spesifik atau identitas dari suatu benda yang dilekatkan oleh yang.

1. Dia memakai sepatu baru.

Makna dari sepatu baru adalah sepatu yang sebelumnya tidak pernah digunakan oleh orang tersebut. Artinya, kondisi sepatu tersebut benar-benar benda yang hari ini dipakai pertama kali oleh orang tersebut. Mari simak percakapan berikut:

A         : Wah, sepatu baru ya!
B         : Iya, ini hadiah ulang tahun dari temanku.

2. Dia memakai sepatu yang baru.

Makna dari sepatu yang baru di dalam kalimat ini bisa jadi model atau merek yang benar-benar baru keluar atau dipasarkan saat ini. Mari simak percakapan berikut:

A         : Mau cari sepatu model apa, Kak?
B         : Hmm… ini model yang lama ya? Kalau model yang baru di mana, Kak?
A         : Oh, di bagian depan. Itu semua keluaran terbaru, Kak.

Selain konteks ini, sepatu yang baru juga bermakna sepatu yang bukan secondhand. Seperti dalam tuturan beirkut:
A         : Kalau produk ini secondhand. Kalau kakak mau sepatu yang baru ada di sebelah sana.
B         : Terima kasih

Kata yang di dalam kalimat kedua menjadi identitas khusus atau spesifik untuk benda tersebut. Lalu, bagaimana kalau di dalam kalimat pertama, sepatu yang digunakan adalah model lama atau secondhand? Itu tetap akan menjadi sepatu baru bagi orang yang menggunakannya pertama kali. Oleh sebab itu tuturannya “Wah, sepatu baru ya!” (meskipun modelnya model lama atau secondhand, tetapi bagi orang memakainya, itu pertama kali, atau bagi orang yang melihatnya, itu juga pertama kali), bukan “Wah sepatu yang baru ya!” Ekspresi kedua terasa aneh diucapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh lainnya, “Cieeee HP baru!” Ekspresi ini digunakan ketika orang lain melihat seseorang menggunakan ponsel tersebut pertama kali, terlepas apakah produk itu merek terbaru atau lama, model terbaru atau lama, tipe terbaru atau lama, serta secondhand atau tidak. Dengan demikian, kata yang di dalam situasi ini bisa memberi konteks lain di dalam kalimat meskipun perbedaannya terasa sangat tipis.

Kata yang yang bisa dihilangkan tidak berlaku untuk semua adjektiva karena kasus yang serupa tidak dimiliki oleh semua adjektiva. Kita bisa kembali mengamati salah satu makna kata yang di dalam KBBI, yaitu “kata untuk menyatakan bahwa kata atau kalimat yang berikutnya diutamakan atau dibedakan dari yang lain”. Semoga penjelasan ini bisa memberi manfaat kepada semua pembaca mengapa di dalam tuturan bahasa Indonesia ada frasa baju baru dan baju yang baru, buku baru dan buku yang baru, HP baru dan HP yang baru, dan sebagainya.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Dari FIB Unand untuk Anak Nagari: Mendongeng dan Menguatkan Anak Korban Bencana di Bayang Utara 

Berita Sesudah

Bencana Alam atau Bencana Komunikasi?

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Berita Sesudah
Bencana Alam atau Bencana Komunikasi?

Bencana Alam atau Bencana Komunikasi?

POPULER

  • Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkembangan Hukum Islam di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Klarifikasi Direktur RSUD Sungai Dareh Terkait Poli Jantung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 13 Prodi FISIP UNAND Berhasil Raih Predikat “Unconditional” Akreditasi Internasional ACQUIN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Hal yang Berkaitan dengan “-nya”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024