
Agam, Scientia.id – Tidak ada hujan deras, tidak pula tanda alam yang mencurigakan pada sore di Kampung Pili, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan. Aktivitas warga berjalan seperti biasa, hingga sebuah kabar darurat datang lewat sambungan telepon dari Kampung Tangah. Galodo dilaporkan melaju dari hulu, dan warga diminta menyelamatkan diri secepat mungkin.
Sandria Milka Ratna Sari mengaku semula sulit mempercayai kabar tersebut. Namun kepanikan segera menyebar ketika suara arus lumpur mulai terdengar dari kejauhan.
“Telepon itu singkat, tapi nadanya serius. Kami langsung panik karena katanya galodo sudah turun,” ujar Sandria saat menceritakan kembali peristiwa tersebut.
Bersama keluarga dan warga sekitar, Sandria berusaha mengungsi ke arah Kampung Chaniago. Namun kecepatan galodo melampaui kemampuan mereka untuk menyelamatkan diri. Arus lumpur semakin deras, sementara kedua orang tua Sandria sempat tertahan karena mencoba mengamankan mobil.
“Orang tua saya masih berharap mobil bisa diselamatkan, tapi arus sudah terlalu kuat,” katanya.
Situasi semakin genting ketika sebuah tiang listrik roboh dan menutup akses jalan. Tidak ada pilihan lain selain kembali ke arah kampung. Dalam kepanikan, Sandria dan keluarganya masuk ke rumah kerabat terdekat dan naik ke loteng untuk mencari tempat paling aman.
Di saat itulah listrik dan jaringan komunikasi terputus. Gelap menyelimuti malam, hanya tersisa suara galodo yang terus bergemuruh.
“Kami benar-benar terisolasi. Tidak tahu kondisi di luar, tidak tahu siapa yang selamat,” tutur Sandria.
Loteng rumah menjadi ruang sempit tempat bertahan hidup. Dari celah-celah kayu, Sandria melihat lumpur menggenang hingga setinggi pinggang orang dewasa. Bangunan di sekitar rumah satu per satu runtuh dan hanyut, menyisakan puing-puing yang terseret arus.
Berjam-jam mereka bertahan dalam ketakutan, hingga menjelang tengah malam terdengar suara warga yang selamat menyusuri kampung dengan senter, memanggil nama-nama keluarga. Sandria segera memberi tanda keberadaan mereka dari dalam rumah.
“Kami teriak sekuat mungkin, berharap ada yang dengar. Itu momen paling menegangkan,” ujarnya.
Proses evakuasi berlangsung sulit karena lumpur masih tebal dan arus belum sepenuhnya surut. Namun akhirnya Sandria dan keluarganya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Tak satu pun harta benda tersisa. Rumah-rumah di Kampung Pili hancur diterjang galodo. Lebih dari itu, duka mendalam menyelimuti keluarga Sandria. Dari kalangan dunsanaknya, 15 orang menjadi korban. Sebanyak 12 orang ditemukan meninggal dunia, sementara tiga lainnya hingga kini masih dalam pencarian.
Bagi Sandria, malam galodo Palembayan bukan hanya kisah selamat dari bencana, tetapi pengalaman traumatis yang akan selalu melekat.
“Kami hidup, tapi kehilangan banyak orang dan tempat pulang. Luka ini tidak akan hilang begitu saja,” katanya lirih.
Baca Juga: Abdurrachman Syafiq dan Detik-detik yang Menguji Nyawa di Banjir Bandang Palembayan
Peristiwa tersebut menjadi pengingat keras bahwa wilayah rawan bencana membutuhkan sistem peringatan dan mitigasi yang lebih serius, agar keselamatan warga tidak lagi bergantung pada kabar mendadak dan keberuntungan semata. (tmi)









