Sabtu, 14/3/26 | 10:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Minggu, 07/12/25 | 16:00 WIB

 

Oleh: Derry Sanjaya
(Mahasiswa Departemen Adminsitrasi Publik Universitas Andalas)

Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk untuk menjadi lembaga pusat yang mengoordinasikan kebijakan gizi nasional, menetapkan standar nutrisi, serta mengawasi implementasi program besar seperti Makan Gizi Gratis (MBG). Sebagai lembaga teknokratik, BGN seharusnya berisi para ahli nutrisi, epidemiolog, pakar pangan, peneliti kesehatan masyarakat, dan birokrat sipil yang memiliki kompetensi teknis. Namun, masuknya figur-figur berlatar belakang militer dalam struktur lembaga ini memunculkan pertanyaan besar mengenai urgensi dan motif di balik keputusan tersebut.

BACAJUGA

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB
Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Pemerintah mungkin berargumen bahwa TNI memiliki kemampuan manajerial, kedisiplinan, serta pengalaman mengelola operasi skala nasional. Namun, konteks kerja BGN sangat berbeda dengan operasi militer. Pengelolaan gizi bukanlah persoalan keamanan negara, melainkan persoalan teknis kesehatan masyarakat yang memerlukan keahlian berbasis riset dan ilmu. Oleh karena itu, sulit menemukan dasar urgensi yang kuat bagi penempatan perwira aktif maupun purnawirawan TNI dalam jabatan strategis di BGN. Argumen kedisiplinan saja tidak cukup untuk menggantikan kebutuhan akan kompetensi ilmiah.

Alih-alih berbasis kebutuhan teknis dan pelibatan orang-orang TNI dalam BGN lebih tampak sebagai keputusan politis. BGN adalah lembaga baru dengan anggaran besar dan peran krusial dalam program unggulan pemerintah. Dalam dinamika politik Indonesia, lembaga besar seperti ini sering menjadi ruang penempatan figur yang dianggap perlu untuk diamankan oleh pemerintah. Dengan memasukkan unsur militer, pemerintah bisa memastikan kontrol yang lebih kuat atas lembaga dan program yang menjadi sorotan publik. Pendekatan seperti ini mengirimkan sinyal bahwa stabilitas politik dan kepentingan pemerintah mungkin lebih diutamakan dibandingkan kebutuhan teknokratis lembaga.

Keterlibatan TNI di BGN juga menimbulkan kekhawatiran melemahnya batas antara ranah sipil dan militer. Indonesia memiliki sejarah panjang pengaruh militer dalam institusi sipil. Ketika lembaga teknis seperti BGN diisi oleh aktor militer, ada risiko normalisasi kembali peran militer dalam pengambilan kebijakan sosial. Keadaan ini dapat memperlambat proses profesionalisasi birokrasi serta menghambat upaya memperkuat institusi sipil yang selama ini masih membutuhkan pembenahan.

Selain itu, penempatan personil TNI di BGN berpotensi mengurangi keterbukaan dan objektivitas dalam perumusan kebijakan gizi. Kebijakan gizi memerlukan pendekatan berbasis bukti, analisis ilmiah, dan riset nutrisi yang mendalam. Ketika jabatan-jabatan strategis ditempati oleh figur yang bukan berasal dari disiplin ilmu terkait, keputusan yang dihasilkan bisa dipengaruhi oleh pertimbangan politik dan kepentingan institusional, bukan lagi oleh data ilmiah. Hal ini berbahaya karena menyangkut hajat hidup masyarakat luas, terutama anak-anak yang menjadi sasaran program MBG.

Di sisi lain, kehadiran figur militer dalam BGN juga mereduksi ruang bagi para ahli sipil. Lembaga baru seperti BGN seharusnya menjadi wadah bagi para pakar nutrisi dan ahli kesehatan masyarakat untuk mendorong inovasi dan memperkuat bukti ilmiah dalam kebijakan. Ketika posisi penting justru diisi oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang keilmuan gizi, momentum penguatan institusi bisa terganggu. Kultur kerja ala militer yang hierarkis juga belum tentu cocok dengan dunia penelitian dan kebijakan gizi yang membutuhkan fleksibilitas dan pendekatan partisipatif.

Meski demikian, bukan berarti TNI tidak boleh terlibat sama sekali dalam pelaksanaan Program MBG. Peran mereka tetap sejalan dalam konteks tertentu, misalnya memperlancar distribusi logistik di wilayah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal) atau membantu pemerintah daerah yang mengalami keterbatasan infrastruktur. Peran tersebut semestinya berada di luar struktur inti BGN. Keterlibatan sebagai eksekutor lapangan tidak harus diterjemahkan menjadi penempatan figur militer di dalam lembaga perumus kebijakan.

Pada akhirnya, urgensi keterlibatan TNI dalam Badan Gizi Nasional perlu diuji secara terbuka. Apakah benar diperlukan untuk meningkatkan efektivitas lembaga atau sekadar pengisian posisi strategis demi kepentingan politik? Tanpa alasan yang jelas dan berbasis kebutuhan teknis, publik wajar meragukan keputusan ini. Jika tidak hati-hati, langkah ini justru dapat mengurangi kualitas kebijakan gizi nasional dan menghambat tujuan utama yang ingin dicapai oleh MBG itu sendiri.

Tags: #Derry Sanjaya
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemko Bukittinggi Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana di Tanah Datar

Berita Sesudah

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Berita Terkait

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Berita Sesudah
Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran berbuka puasa bersama, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang, Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinas PUPR, dan Petugas Lembaga Pengelola Sampah (LPS) se-Kota Padang, di Gedung Bagindo Aziz Chan Youth Center, Selasa (10/3/2026).(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Bakal Menggelar Lomba Kebersihan Tingkat RT se Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kementerian Kebudayaan Alokasikan Rp 2 Miliar Untuk Kegiatan Non Fisik Museum Adityawarman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aspirasi Warga Bayang Berbuah Listrik Gratis, 67 Rumah Teraliri BPBL

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebanyak 314 KK Korban Terdampak Bencana Hidrometeorologi Terima Bantuan dari PMI Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagas Panyusunan Nasution Ajak Masyarakat Sumbar Perangi Narkoba Lewat Sosialisasi Perda No. 9 Tahun 2018

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026