Kamis, 11/6/26 | 01:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Beban Tidak Kasat Mata Anak Perempuan Pertama

Minggu, 08/6/25 | 08:17 WIB
Ilustrasi: Meta AI

Oleh: Ratu Julia Putri
(Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia 32 & Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)

 

“Kamu harus mengerti semuanya ya. Kamu kan kakak!”

Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, bahkan biasa saja. Namun, bagi sebagian anak perempuan pertama, kalimat tersebut merupakan label tidak terlihat yang melekat sepanjang hidup dalam pikiran mereka. Anak perempuan pertama sering berhadapan dengan ekspektasi tinggi yang datang dari lingkungan sosial dan dari orang-orang di sekitarnya.

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Dalam banyak budaya timur, seperti Indonesia salah satunya, masyarakat menempatkan anak perempuan pertama pada posisi “serba bisa” sehingga diharapkan mampu menjadi panutan bagi adik-adiknya. Tidak hanya itu, mereka diharapkan untuk membantu pekerjaan rumah, memahami perasaan orang tua, bahkan turut memikirkan urusan keluarga sejak usia remaja. Di balik seluruh peran yang mulia tersebut, tersimpan tekanan dan beban emosional yang dapat membatasi ruang gerak mereka untuk mengeksplorasi diri. Mereka harus terus-menerus mengorbankan keinginan pribadi demi memenuhi tuntutan keluarga dan harapan masyarakat. Padahal, di balik “kerapian” dan “kedewasaan” yang ditampilkan, tidak sedikit anak perempuan pertama yang menyimpan tekanan yang berdampak signifikan pada kesehatan mental mereka.

Penelitian Smith (2019) tentang Eldest Daughter Syndrome menunjukkan bahwa anak perempuan pertama cenderung merasa lebih bertanggung jawab dan tertekan dibandingkan dengan anak-anak lainnya dalam keluarga. Mereka belajar untuk tidak merepotkan, terbiasa menahan diri, dan memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan pribadi. Beban emosional ini berlanjut hingga dewasa yang memengaruhi pilihan karier dan hubungan pribadi mereka dengan yang lain. Tidak heran jika banyak dari mereka mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi tanpa disadari. Psikolog keluarga juga menyebut kondisi ini sebagai parentification, yaitu ketika anak mengambil alih peran dan tanggung jawab orang tua, baik secara emosional maupun praktis.

Karena konstruksi gender yang melekatkan perempuan pada peran pengasuh dan pengatur sejak kecil, anak perempuan pertama lebih rentan mengalaminya kondisi parentification. Yang lebih kompleks, semua ekspektasi yang diberikan orang sekitarnya seringkali datang tanpa sadar. Anak perempuan pertama dianggap “lebih kuat”. Padahal, sejatinya mereka hanya tidak diberi ruang untuk menunjukkan kelemahannya. Bahkan, ironisnya, ketika mereka tumbuh dewasa, kemampuan dan kelebihan yang mereka miliki, dianggap “standar”, bukan keistimewaan. Karena sejak kecil terbiasa tahu segalanya, orang-orang pun menganggap mereka akan baik[1]baik saja. Bahkan, mereka, anak Perempuan pertama sering lupa bagaimana rasanya ditanya: “Kamu lelah atau tidak?” ”Butuh bantuan atau tidak?”

Sudah saatnya masyarakat mulai mengubah narasi dan pola pikir tentang anak perempuan pertama. Mereka tidak dilahirkan untuk menjadi ibu kedua, guru mini, atau manajer keluarga. Mereka berhak menjadi anak dan mendapatkan perlakuan seperti anak lain, berhak bersalah, berhak kebingungan, serta berhak tidak harus mengetahui segalanya. Penting bagi setiap orang tua untuk menyadari masalah ini dan menyediakan komunikasi terbuka dengan anak perempuan pertama.

Dengan memberi ruang bagi anak Perempuan pertama, orang tua dapat membantu mengurangi tekanan, beban, dan memberikan dukungan paling nyata pada anak perempuan pertama dalam keluarga. Masyarakat juga harus mulai berpikir untuk mewujudkan lingkungan yang mendukung, bagi setiap anak perempuan pertama agar mereka merasa dihargai dan diperhatikan. Hal itu merupakan langkah penting untuk membantuk mereka tumbuh menjadi individu yang tidak hanya kuat, tetapi juga bahagia lahir dan batin serta tidak memiliki tekanan secara emosional dan sosial.

Tags: #Ratu Julia Putri
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Elfa Edriwati

Berita Sesudah

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara dan Ulasannya oleh Azwar

POPULER

  • PT Selago Makmur Plantation Diduga Tidak Salurkan Dana CSR ke Nagari Abai Siat

    PT Selago Makmur Plantation Diduga Tidak Salurkan Dana CSR ke Nagari Abai Siat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TRADISI LAGHOUK DAN BAHASA PERJODOHAN MASYARAKAT TRADISIONAL PADANG PARIAMAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Ke Hadirat” dan “Kehadiran”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026