Selasa, 03/11/26 | 03:37 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Ketika Paket Data Lebih Mengenyangkan: Sebuah Renungan

Minggu, 14/7/24 | 16:15 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Saya pernah melamun memikirkan dunia tanpa internet. Mungkin seperti sedang terombang-ambing di lautan tanpa kompas. Tak ada peta digital dan koneksi instan yang memudahkan. Atau bisa juga saat jaringan internet terputus sejenak, bisa berakibat status daring terhenti, pekerjaan terbengkalai, dan hiburan menguap seketika. Seperti kisah horor, kita berada di masa lalu gelap dan lambat.

Keadaan tanpa adanya akses internet bisa saja menjadi hal yang “menakutkan”. Tanpa disadari akses internet sudah menjadi kebutuhan primer. Buktinya, saat ada kendala jaringan internet, tak sedikit yang menggerutu, mengumpat, atau panik (stres). Ini tidak mengada-ada, lihat saja status, komen, atau untaian di media sosial saat terjadinya perbaikan kabel dan tiang pemancar jaringan yang mengakibatkan terputusnya akses internet, atau mungkin juga kendala lainnya.

Bisa saja keadaan itu terjadi hanya sebentar, tidak lebih dari tiga puluh menit. Bisa juga terjadi lebih dari sejam, atau bahkan berjam-jam. Tak terbayangkan betapa “menakutkannya” itu. Dampaknya mungkin saja merembas ke berbagai hal, seperti pekerjaan misalnya. Namun begitu, kita tetap harus bersabar menantinya. Satu hal yang pasti, pihak yang berwenang dalam perbaikan selalu memberikan yang terbaik bagi penggunana layanan internetnya.

Bukan persoalan kendala terputusnya akses internet, atau hal-hal yang mengakibatkannya menjadi pokok pembicaraan. Hal itu menjadi pengantar sekaligus pengingat, bahwa begitu primernya kebutuhan kita terhadap akses internet saat ini. Saya jadi ingat guyon seorang teman, ia menyandingkan paket data internet dengan makanan pokok sama pentingnya. “Paket data itu sebelas dua belas dengan nasi, tanpa paket data kepala pusing, tanpa nasi perut keroncongan” begitu kelakarnya.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Banyak hal dalam aktivitas keseharian bergantung terhadap layanan akses internet. Dalam lingkup pekerjaan, banyak hal yang harus dikerjakan bergantung  terhadap layanan internet. Bahkan, kebutuhan dunia kerja terhadap layanan internet begitu sangat tinggi. Selain itu, gaya hidup saat ini banyak melibatkan akses terhadap internet.

Pada suatu ketika saya pernah memberikan prioritas lebih terhadap ketersediaan layanan internet dibandingkan makanan. Dengan uang yang cukup untuk membeli paket data pemakaian bulanan padahal perut juga lapar, tanpa pikir panjang saya lebih mengisi pulsa untuk membeli paket data. Waktu itu yang ada dalam pikiran saya bagaimanapun saya harus terkoneksi dengan internet, urusan makanan bisa ditoleransi.

Kejadian serupa itu sering saya alami saat masih kuliah. Jika mengharapkan wifi, maka sulit untuk mendapat internet yang berkualitas. Padahal, paket data yang saya beli sering dihabiskan akses terhadap layanan game online. Saya kira mungkin ini menjadi awal-mula mulai merasakan gejala asam lambung yang belum kunjung sembuh hingga kini.

Begitulah pergulatan hidup di era digital, terkadang lebih memilih mengisi kuota daripada perut. Jangan-jangan begitu dilema hidup zaman modern, biarlah perut keroncongan dari pada tidak bisa streaming nonton drakor. Pada akhirnya, koneksi terbaik tetaplah lauk dan nasi. Jadi, saat akses internet terputus, jangan lupa makan, karena internet bisa menunggu, tetapi lambung yang kosong tak kenal kata sabar.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Antaro Amak jo Pitih” Karya Dilha Rahmanadia Putri dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Sebuah Filosofi Dibalik Pendirian Museum Memorial Jenderal Besar H. M. Soeharto

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Setelah Gelas Kosong

Minggu, 01/11/26 | 15:51 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya kira wawancara selesai ketika kopi susu di gelas...

Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Segelas kecil kopi susu ternyata bisa habis dalam satu...

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Berita Sesudah
Kata “dalem“ dan Pronomina Serapan dalam Bahasa Indonesia

Sebuah Filosofi Dibalik Pendirian Museum Memorial Jenderal Besar H. M. Soeharto

Discussion about this post

POPULER

  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komisi V DPRD Sumbar Matangkan Pembahasan Ranperda Keolahragaan 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan dan Kisah Tak Sampai pada “Gadis Kretek”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hujan Lebat Mengintai Sumbar hingga 10 November, Lima Daerah Masuk Kategori Siaga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026