Jumat, 16/1/26 | 21:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Kaidah Peluluhan KTSP pada Awalan Me- untuk Gugus Konsonan

Rabu, 05/6/24 | 12:19 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Beberapa proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dapat dirumuskan kaidahnya secara teoretis. Rumus tersebut mempunyai pola yang tetap dan dapat dipedomani sebagai sebuah kaidah yang sudah pasti. Salah rumus yang ditetapkan untuk proses pembentukan kata adalah rumus yang berlaku pada afiksasi atau proses penggabungan afiks pada bentuk dasar atau kata dasar. Proses ini menghasilkan beberapa rumus, salah satunya peluluhan atau peleburan huruf pertama kata yang berawalan KTSP saat bergabung dengan awalan me-.

Contoh-contoh peluluhan huruf diawali KTSP dapat kita lihat dari huruf k pada kata kopi. Huruf tersebut akan luluh saat bergabung dengan awalan me- atau afiks me-. Peluluhan tersebut menghasilkan kata mengopi. Demikian juga kata tunjuk yang diawali dengan huruf t yang meluluh saat bergabung dengan awalan me- sehingga menjadi menunjuk. Hal ini juga berlaku untuk kata yang diawali dengan huruf s seperti kata sontek saat bergabung dengan awalan me- akan meluluh dan berubah menjadi menyontek. Demikian juga dengan kata yang diawali oleh huruf p seperti pukul menjadi memukul setelah bergabung dengan awalan me-

Namun, selalu ada pengecualian untuk proses bentukan yang bergabung dengan kata-kata tertentu. Rumus tersebut tidak berlaku mutlak untuk semua kata yang berawalan KTSP. Salah satu yang tidak luluh saat bergabung dengan awalan me- adalah gugus konsonan atau kluster. Gugus konsonan atau kluster adalah dua konsonan yang berderet dan dibaca sebagai satu kesatuan. Moeliono (1988) menyebut gugus konsonan sebagai deretan dua konsonan atau lebih yang tergabung ke dalam silabel atau suku kata yang sama.

Gugus konsonan juga dikenal sebagai konsonan rangkap. Contoh gugus kosonan yang diawa huruf KTSP, yaitu kr pada kata kritik, tr pada kata transformasi, pr pada kata produksi, dan str pada kata struktur. Kata-kata tersebut tetap utuh dan tidak luluh saat bergabung dengan awalan me-, yaitu menjadi mengkritik, mentransformasikan, memproduksi, dan menstrukturalisasikan.

BACAJUGA

Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Literasi Semiotika dan Hermeneutika untuk Bencana

Senin, 08/12/25 | 07:55 WIB

Proses pembentukan kata seperti di atas dalam bidang linguistik disebut dengan morfofonemik. Kridalaksana (2001) menyebut morfofonemik atau morfonologi sebagai struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dari sebuah morfem termasuk peluluhan (peleburan), penambahan, pengurangan, penggantian, dan perubahan tekanan bangun morfem atau pola morfem.

Kajian atau penelitian terhadap morfofonemik merupakan kajian yang menarik karena dapat menjelaskan proses pembentukan kata secara konkret, detail, dan mendalam. Namun, faktanya topik ini masih jarang dipilih oleh peneliti ataupun mahasiswa bidang linguistik karena cukup rumit. Akhirnya, hanya satu atau dua orang saja mahasiswa bidang linguistik yang berani membahas topik ini dalam skripsi, tesis, ataupun disertasi mereka.

Kembali pada kaidah penggabungan awalan me- dengan kata yang berawalan huruf KTSP. Beberapa media massa juga sudah patuh pada hukum atau kaidah peluluhan KTSP yang bergabung dengan awalan me- ini. Sebagian media lainnya masih bertahan dengan pola lama yang acak. Ada yang ditulis luluh dan ada yang tidak. Beberapa media besar di Indonesia mempunyai pandangan yang berbeda soal kaidah peluluhan kata yang berawalan KTSP ini dalam bahasa Indonesia, misalnya Kompas mengikuti pola peluluhan KTSP saat bergabung dengan awalan me-, sedangkan Koran Tempo tidak terikat pada hukum atau kaidah tersebut. Redaksi setiap media massa mempunyai pilihan masing-masing dalam menerapkan kaidah peluluhan KTSP yang bergabung dengan awalan me- ini. Namun, alangkah baiknya jika media massa mulai mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang benar dalam penulisan beritanya. Salah satunya meluluhkan KTSP saat bergabung dengan awalan me- yang disertai dengan huruf vokal dan tidak meluluhkan KTSP yang berupa gugus konsonan atau kluster.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Yogyakarta Dulu dan Kini: Refleksi Sebuah Perubahan

Berita Sesudah

Menjadi Orang Tua Tidak Sempurna

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Dari Sawah ke Timeline: Kisah Kata “Ani-ani” yang Berubah Arti

Minggu, 04/1/26 | 21:16 WIB

Oleh: Arum Rindu Sekar Kasih (Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)    Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan...

Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Kata majemuk atau kompositum sering menjadi problem dalam...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Perbedaan Frasa “Sepatu Baru” dan “Sepatu yang Baru”

Minggu, 21/12/25 | 08:22 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Dari judul...

Serba-serbi Kritik Sosial Habis Lebaran

Penulisan Nama dalam Bahasa Asing

Minggu, 21/12/25 | 07:51 WIB

  Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu hari saya mendapat...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Menjadi Orang Tua Tidak Sempurna

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024