Sabtu, 24/10/26 | 17:26 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Kaidah Peluluhan KTSP pada Awalan Me- untuk Gugus Konsonan

Rabu, 05/6/24 | 12:19 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

Beberapa proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dapat dirumuskan kaidahnya secara teoretis. Rumus tersebut mempunyai pola yang tetap dan dapat dipedomani sebagai sebuah kaidah yang sudah pasti. Salah rumus yang ditetapkan untuk proses pembentukan kata adalah rumus yang berlaku pada afiksasi atau proses penggabungan afiks pada bentuk dasar atau kata dasar. Proses ini menghasilkan beberapa rumus, salah satunya peluluhan atau peleburan huruf pertama kata yang berawalan KTSP saat bergabung dengan awalan me-.

Contoh-contoh peluluhan huruf diawali KTSP dapat kita lihat dari huruf k pada kata kopi. Huruf tersebut akan luluh saat bergabung dengan awalan me- atau afiks me-. Peluluhan tersebut menghasilkan kata mengopi. Demikian juga kata tunjuk yang diawali dengan huruf t yang meluluh saat bergabung dengan awalan me- sehingga menjadi menunjuk. Hal ini juga berlaku untuk kata yang diawali dengan huruf s seperti kata sontek saat bergabung dengan awalan me- akan meluluh dan berubah menjadi menyontek. Demikian juga dengan kata yang diawali oleh huruf p seperti pukul menjadi memukul setelah bergabung dengan awalan me-

Namun, selalu ada pengecualian untuk proses bentukan yang bergabung dengan kata-kata tertentu. Rumus tersebut tidak berlaku mutlak untuk semua kata yang berawalan KTSP. Salah satu yang tidak luluh saat bergabung dengan awalan me- adalah gugus konsonan atau kluster. Gugus konsonan atau kluster adalah dua konsonan yang berderet dan dibaca sebagai satu kesatuan. Moeliono (1988) menyebut gugus konsonan sebagai deretan dua konsonan atau lebih yang tergabung ke dalam silabel atau suku kata yang sama.

Gugus konsonan juga dikenal sebagai konsonan rangkap. Contoh gugus kosonan yang diawa huruf KTSP, yaitu kr pada kata kritik, tr pada kata transformasi, pr pada kata produksi, dan str pada kata struktur. Kata-kata tersebut tetap utuh dan tidak luluh saat bergabung dengan awalan me-, yaitu menjadi mengkritik, mentransformasikan, memproduksi, dan menstrukturalisasikan.

BACAJUGA

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Proses pembentukan kata seperti di atas dalam bidang linguistik disebut dengan morfofonemik. Kridalaksana (2001) menyebut morfofonemik atau morfonologi sebagai struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dari sebuah morfem termasuk peluluhan (peleburan), penambahan, pengurangan, penggantian, dan perubahan tekanan bangun morfem atau pola morfem.

Kajian atau penelitian terhadap morfofonemik merupakan kajian yang menarik karena dapat menjelaskan proses pembentukan kata secara konkret, detail, dan mendalam. Namun, faktanya topik ini masih jarang dipilih oleh peneliti ataupun mahasiswa bidang linguistik karena cukup rumit. Akhirnya, hanya satu atau dua orang saja mahasiswa bidang linguistik yang berani membahas topik ini dalam skripsi, tesis, ataupun disertasi mereka.

Kembali pada kaidah penggabungan awalan me- dengan kata yang berawalan huruf KTSP. Beberapa media massa juga sudah patuh pada hukum atau kaidah peluluhan KTSP yang bergabung dengan awalan me- ini. Sebagian media lainnya masih bertahan dengan pola lama yang acak. Ada yang ditulis luluh dan ada yang tidak. Beberapa media besar di Indonesia mempunyai pandangan yang berbeda soal kaidah peluluhan kata yang berawalan KTSP ini dalam bahasa Indonesia, misalnya Kompas mengikuti pola peluluhan KTSP saat bergabung dengan awalan me-, sedangkan Koran Tempo tidak terikat pada hukum atau kaidah tersebut. Redaksi setiap media massa mempunyai pilihan masing-masing dalam menerapkan kaidah peluluhan KTSP yang bergabung dengan awalan me- ini. Namun, alangkah baiknya jika media massa mulai mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang benar dalam penulisan beritanya. Salah satunya meluluhkan KTSP saat bergabung dengan awalan me- yang disertai dengan huruf vokal dan tidak meluluhkan KTSP yang berupa gugus konsonan atau kluster.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Yogyakarta Dulu dan Kini: Refleksi Sebuah Perubahan

Berita Sesudah

Menjadi Orang Tua Tidak Sempurna

Berita Terkait

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pengeluaran di dalam Bahasa Indonesia (Bagian 1)

Minggu, 18/10/26 | 11:14 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Pada kolom Klinik...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Satir Frasa “Lari dari Kenyataan”

Senin, 12/10/26 | 08:45 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Kemarin pagi, saat matahari masih memproduksi vitamin...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dunia Online dan Kosakata Baru

Minggu, 04/10/26 | 22:11 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Manajer Akademik dan Dosen Linguistik FIB UNAND) Kehadiran ojek online merupakan sebuah fase baru...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Istilah Uang Pemasukan

Minggu, 27/9/26 | 10:16 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Forein Studies, Korea Selatan) Di dalam kehidupan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

“Nominalisasi” dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis

Minggu, 20/9/26 | 18:23 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Nominalisasi adalah proses mengubah kata kerja menjadi kata...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Humor Profesor Linguistik

Minggu, 13/9/26 | 21:55 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Linguistik dan Manajer Akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) “Mengapa orang yang pensiun...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Menjadi Orang Tua Tidak Sempurna

Discussion about this post

POPULER

  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026