Senin, 16/2/26 | 17:40 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Susyi, Kimci, Piza, dan Kuliner Khas dari Negara Lain

Minggu, 26/5/24 | 12:24 WIB
Oleh: Ria Febrina (Dosen Program Studi Sastra Indonesia Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada)

Saat jalan-jalan ke mal, kita pasti dengan mudah menemukan sushi, kimchi, pizza, dan sejumlah makanan khas dari negara lain. Hampir semua nama makanan asing tersebut ditulis sama persis dengan bahasa asalnya. Namun, pernahkah teman-teman penasaran, seperti apa KBBI merekam kosakata mengenai makanan dari negara-negara tersebut?

Saya mencoba membuka KBBI daring. Saya mengetikkan kata sushi, tetapi nama tersebut tidak ada. Saya coba mengetikkan susi, kok seperti mirip nama pebulu tangkis Indonesia ya dan hasilnya tentu juga tidak ada. Akhirnya saya coba menelusuri KBBI Edisi V (2018) yang masih berupa edisi cetak. Ternyata dalam bahasa Indonesia, makanan khas Jepang ini diserap dengan nama susyi.

Susyi merupakan ‘makanan khas Jepang dengan dua bahan utama, yaitu nasi yang dicampur cuka dan makanan laut seperti udang, kepiting, dan ikan’. Namun, kita sudah terlanjur lebih dulu mengenal nama dan makanan ini dari bahasa Jepang daripada namanya dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, ketika melihat seluruh gerai makanan Jepang di Indonesia, pasti tidak ada yang menulis susyi. Tulisan tersebut terasa janggal dan membuat identitas negara Jepang sebagai negara asal makanan tersebut menjadi hilang. Namun, akan berbeda ketika kita menulis kata pergedel. Kita sudah terlanjur mengenal nama dan makanan ini dengan pergedel sehingga kata ini tidak asing dan justru terdengar seperti nama makanan Indonesia asli. Padahal, jika ditelusuri asal-usulnya, pergedel merupakan makanan yang berasal dari negara lain.

Dalam buku Rijstaffel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870—1942, Fadly Rahman yang merupakan sejarawan kuliner Indonesia menyatakan bahwa perkedel merupakan makanan yang tercipta akibat percampuran budaya Nusantara dengan budaya dari negara Belanda dan Cina. Makanan tersebut berasal dari kata frikadel yang merupakan makanan asal Belanda. Makanan ini berbahan dasar kentang yang dihaluskan, serta ditambahkan dengan kandungan daging cincang. Jika ditelusuri di mesin pencari Google, frikadel tidak hanya menjadi makanan khas Belanda, tetapi juga makanan khas dari negara lain, seperti Belgia, Jerman, Austria, Denmark, dan Swedia. Namun, masyarakat Indonesia mengenal makanan ini melalui kedatangan bangsa Belanda dan diolah sedemikian rupa dengan mendapat pengaruh dari bangsa Cina.

BACAJUGA

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB
Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Lalu, mengapa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia mengubah sushi menjadi susyi ke dalam bahasa Indonesia? Perubahan bunyi pada kosakata tersebut terjadi karena bahasa Indonesia tidak memiliki sejumlah bunyi dari bahasa Jepang. Dengan memperhatikan International Phonetic Alphabet (IPA), padanan yang mirip dengan bahasa Indonesia adalah [ʃ] atau /sy/ sehingga sushi ditulis dengan susyi. Hal yang sama juga terjadi pada kimchi yang berasal dari bahasa Korea. Dalam bahasa Indonesia, ditemukan padanan bunyi berupa [ʨ] atau /c/ sehingga kimchi menjadi kimci. Sementara itu, kata pizza dalam bahasa Indonesia menjadi piza karena masyarakat Indonesia tidak memiliki kosakata dengan konsonan ganda.

Jika menelusuri KBBI, banyak makanan asing dari negara lain. Di antaranya ada dari Cina, yaitu makanan berupa bakmi, mi ayam, pangsit, kwetiau, cah (sawi, jamur, udang, hati ayam), capcai, cakwe, dan angsio. Dari negara Jepang, ada cikuwa, ikura, ayam katsu, okonomiyaki, onigiri, miso, moci, moci daifuku, ramen, soba, tempura, yakisoba, wagyu, teriyaki, udon, wasabi, sasyimi, tamagoyaki, tofu, dan yakiniku. Dari negara Italia, ada piza, spageti, dan spagetini. Dari negara Korea, ada kimci, bancan, bibimbap, dan mandu. Dari negara Belanda, ada pergedel, kastengel, nastar, panekuk, bistik, lapis legit, kroket, semur, bolen, pai apel, roti bluder, dan klapertar.

Jika melihat nama-nama makanan tersebut, tampak bahwa makanan dari Cina dan Belanda sudah lama berasimilasi ke dalam bahasa Indonesia sehingga kita tidak menganggapnya sebagai makanan yang berasal dari negara lain. Sementara itu, nama makanan dari Jepang, Italia, dan Korea baru dikenalkan dalam beberapa tahun terakhir dan juga masih menggunakan nama asli dari negara tersebut sehingga perlu dipadankan ke dalam bahasa Indonesia.

Salah satu padanan yang perlu diperhatikan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia adalah makanan-makanan yang berasal dari negara Korea. Saat ini jumlah makanan Korea yang diterima oleh masyarakat Indonesia secara terbuka sudah banyak. Ada tteokbokki, gimbap, odeng, hotteok, dan bungeoeppang. Nama makanan tersebut belum ada dalam KBBI. Di antara makanan tersebut, ada nama-nama yang akan mengalami perubahan sehingga akan tampak asing ketika dipadankan ke dalam bahasa Indonesia, seperti tteokbokki, hotteok, dan bungeoeppang. Beberapa kosakata yang sudah dipakai oleh masyarakat Indonesia adalah topoki, hoteok, dan bungopang. Namun, untuk menetapkan makanan tersebut sebagai kosakata bahasa Indonesia perlu mempertimbangkan kaidah kebahasaan.

Jika ditelusuri lagi makanan-makanan negara lain dalam KBBI, masih ada sejumlah makanan dari India, Arab, dan Turki. Kehadiran sejumlah makanan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat terbuka terhadap kuliner yang masuk dari negara lain. Masyarakat Indonesia sangat mudah menyesuaikan cita rasa dan selera, serta dengan mudah mengolah makanan tersebut sehingga dapat ditemukan pada pedagang kaki lima hingga pedagang restoran. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia terus berkembang menjadi masyarakat modern dengan menerima sejumlah perubahan sosial, termasuk di bidang kuliner.

Tags: #Ria Febrina
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Batik, Hati, dan Komunikasi: Pengalaman Bersama Teman Tuli

Berita Sesudah

Disiplin Sehat: Menuntaskan Obat untuk Sembuh Sempurna

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Berita Sesudah
Satu Tikungan Lagi

Disiplin Sehat: Menuntaskan Obat untuk Sembuh Sempurna

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024