Selasa, 03/3/26 | 00:58 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kekeliruan Berbahasa pada Tulisan Perintah

Minggu, 30/5/21 | 07:00 WIB
Kekeliruan Berbahasa pada Tulisan Perintah

Oleh:
Yori Leo Saputra
(Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unand)

Jumat (21/04) lalu, saya mengantarkan bapak berobat ke rumah sakit Muhammad Zein, Painan. Bapak saya baru saja mengalami musibah. Mulanya, saya dan bapak siap-siap hendak pergi salat Jumat, seperti biasa bapak selalu menutup pintu tokoh terlebih dahulu.  Tanpa disadari, sekejap mata jari kaki bapak ditimpah oleh besi penutup toko hingga menyebabkan jari kaki tengah bapak pecah. Oleh sebab itu, bapak dioperasi dan dirawat di rumah sakit selama tiga hari.

Ceritanya sore itu, tiba-tiba saya dipanggil oleh perawat. Perawat meminta saya untuk menjemputkan obat ke apotek rumah sakit itu. Setelah itu, ia memberikan selembar kertas kepada saya. Kertas itu adalah nama-nama obat yang akan saya jemput ke apotek tersebut. Saya pun bergegas ke apotek itu. Tiba di sana, saya menyerahkan kertas itu kepada pegawai apotek tersebut. Selanjutnya, ia mengambilkan obat-obatan untuk keperluan bapak saya. Sementara itu, saya berdiri di luar sambil menunggu obat yang diambilkan oleh pegawai apotek tersebut.

BACAJUGA

Berbagai Istilah dan Kemubaziran Kata dalam Kalimat

Menghindari Sifat Benalu

Minggu, 31/8/25 | 13:20 WIB
Berbagai Istilah dan Kemubaziran Kata dalam Kalimat

Hukum Kawin Sesuku di Minangkabau

Minggu, 17/8/25 | 16:05 WIB

Tanpa sengaja, saya melihat dan membaca sebuah tulisan perintah yang tertempelkan pada kaca apotek itu. Tulisan perintah itu berisi “PERHATIAN! AMBIL NOMER ANTRIAN DISINI.” Kalau selintas melihat dan membaca tulisan ini, memang tidak ada yang aneh. Secara isi, tulisan tersebut dapat dimaknai bahwa untuk mengambil nomor antre di sini. Akan tetapi, secara kebahasaan tulisan tersebut merupakan penulisan yang keliru. Hal tersebut memang benar, lalu di mana saja kekeliruan pada tulisan tersebut?

Pertama, penulisan huruf kapital. Sebenarnya, saya tidak mengerti apa maksud si penulis menggunakan huruf kapital semua. Apa karena marah atau bagaimana? Padahal, perintah yang ditulis oleh penulis sudah jelas melanggar kaidah bahasa Indonesia. Namun, penulis tidak menyadari hal itu meskipun penulis menggunakan huruf kapital sebesar apa pun. Hal ini tidak akan dapat menyampaikan sebuah ungkapan kemarahan. Pembaca tetap saja tidak akan dapat memahami kemarahan tersebut. Mengapa penulis menuliskan dengan huruf kapital semua? Menurut saya, tulisan tersebut memberikan contoh yang keliru bagi masyarakat. Kemudian, bagaimana penulisan yang benar pada perintah tersebut? Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (2016:5), salah satu kaidah penulisan huruf kapital ialah dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat. Untuk memperbaiki perintah tersebut, cukup huruf kapital ditulis pada dua kata saja, yakni pada kata Perhatian! dan pada kata Ambil. Jadi, haruf kapital hanya ditulis pada huruf pertama saja. Contoh dari perbaikan tersebut ialah Perhatian! Ambil nomor antrean di sini.

Kedua, penggunaan kata tidak baku. Kata tidak baku adalah kata yang pengucapan atau penulisannya tidak sesuai dengan kaidah yang dibakukan. Kaidah yang dimaksud ialah tidak sesuai dengan penulisan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Hal ini tampak jelas pada kata nomer dan pada kata antrian yang digunakan dalam perintah tersebut. Kata nomer merupakan bentuk tidak baku dari nomor (Kamus Besar Bahasa Indonesia, V). Kemudian, kata antrian. Kata tersebut merupakan kata berafiks. Kata antri merupakan kata dasar yang tidak baku dari antre. Kata antre bermakna 1) berdiri berderet-deret ke belakang menunggu untuk mendapatkan giliran (membeli karcis, mengambil ransum, membeli bensin, dan sebagainya), 2) antrean. Semantara itu, menurut Harimurti Kridalaksana (1996:29) dalam buku Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia bahwa -an ialah sufiks. Sufiks adalah afiks yang diletakkan di belakang dasar. Jadi, penulisan yang benar dari kata berafiks tersebut ialah antrean, bukan antrian!.

Ketiga, penulisan di yang keliru. Kekeliruan tersebut dapat dilihat pada kata disini. Dalam bahasa Indonesia, penulisan di memang ada dua bentuk kaidah, yaitu di sebagai kata depan dan di- sebagai prefiks. Kata depan di disebut juga dengan preposisi, sedangkan prefiks -an disebut dengan akhiran. Menurut Kridalaksana (1986:95), preposisi adalah kategori yang terletak di depan frasa eksosentris direktif. Kemudian, Alwi, dkk. (2000:288) juga memperjelas bahwa di adalah bentuk preposisi tunggal, yang berarti preposisi yang hanya terdiri atas satu kata. Semantara itu, di- sebagai prefik ialah diletakkan di muka dasar (Kridalaksana, 1996:28). Penulisan tersebut ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Contohnya: ditulis, dibeli, diambil, dan dibawa.

Selanjutnya, bagaimanakah penulisan di pada kata di sini? Apakah harus dipadankan dengan kata sini atau tidak? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, V, kata sini merupakan pronomina yang berarti tempat ini. Di samping itu, dalam kaidah Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata di sini bermakna kata petunjuk yang menyatakan tempat yang dekat dengan pembicara. Tim penyusun KBBI V telah mengatur penulisan kata di sini bahwa kata tersebut ditulis terpisah atau diberi spasi.

Keempat, lupa membubuhi tanda titik di akhir kalimat. Seharusnya, untuk mengakhir kalimat tersebut haruslah dibubuhi dengan tanda titik di akhir kalimat. Dalam bahasa Indonesia, tanda titik merupakan tanda baca (.) yang dipakai antara lain pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, V). Selain itu, Tim Pengembangan Pedoman Bahasa Indonesia juga memperjelas tentang pemakian tanda titik. Salah satu ialah tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.

Demikianlah perbaikan tentang kekeliruan berbahasa pada tulisan perintah tersebut. Semoga tulisan ini dapat memberikan contoh yang benar kepada masyarakat. Untuk itu, saya berharap kepada pengguna bahasa Indonesia agar selalu menulis sesuai dengan kaidah dan standardisasi bahasa Indonesia yang benar. Dengan membiasakan berbahasa yang benar, informasi dapat disampaikan secara teratur. Selain itu, membiasakan berbahasa Indonesia yang benar juga merupakan salah satu upaya dalam menjaga dan mempertahankan identitas bahasa Indonesia.

Biodata Penulis:
Yori Leo Saputra lahir 03 Agustus 1999 di Pale Koto VIII Hilir, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan S-1 di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Tulisan-tulisannya sudah pernah dimuat di berbagai media, baik itu media massa ataupun media siber seperti, Utusan Borneo Malaysia, Medan Pos, Singgalang, Cakra Bangsa, Scientia.id, Banaranmedia.com, dan jurnalsumbar.com. Ia juga pernah melahirkan sebuah buku antologi puisi bersama David Dutu yang berjudul Tangis di Rantau. Medsos: Blogger: jurnalismuda03.blogspot.com dan WhatApps:085265782680.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Metra Wiranda Putra

Berita Sesudah

Cerpen Sakura Alvino “Sarha Perjuangan” dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Berita Sesudah
Cerpen Sakura Alvino “Sarha Perjuangan” dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Cerpen Sakura Alvino "Sarha Perjuangan" dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024