Senin, 03/8/26 | 13:00 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Optimalisasi Norma dalam Kelompok

Minggu, 21/5/23 | 09:36 WIB

Oleh: Riza Andesca Putra
(Dosen Departemen Pembangunan dan Bisnis Peternakan Unand &  Mahasiswa Program Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan UGM)

Di dalam kehidupan berkelompok, lumrah sekali ditemukan perselisihan antar anggota. Hal ini tidak dapat dihindari karena masing-masing individu yang ada memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda sehingga tingkah laku mereka dalam kelompok pun berbeda. Tak jarang perselisihan tersebut berubah menjadi konflik dan mengganggu proses pencapaian tujuan kelompok.

Melihat kondisi itu, kelompok mesti memiliki cara yang ampuh untuk mengendalikan tingkah laku anggotanya. Salah satu cara terkuat dan paling meresap adalah melalui norma-norma. Norma merupakan aturan perilaku dan cara bertindak yang diharapkan serta telah diterima sebagai hal yang sah oleh anggota di dalam kelompok (Umstot, 1987). Dengan kata lain, norma berperan sebagai pedoman anggota dalam beraktivitas di kelompok. Burhan (2019) dalam bukunya menyampaikan, fungsi norma adalah mengatur tingkah laku masyarakat, menciptakan ketertiban serta keadilan, membantu mencapai tujuan bersama, serta menjadi dasar pemberian sanksi.

Menurut para ahli, terdapat beragam jenis norma. Namun, dari sisi bentuknya, norma dapat dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu norma formal dan informal. Norma formal adalah aturan atau standar perilaku yang ditetapkan secara resmi dan jelas oleh otoritas atau lembaga tertentu dalam kelompok. Norma formal biasanya tertulis dan dapat berupa peraturan, kebijakan, atau prosedur yang mengatur berbagai aspek kehidupan kelompok, seperti tugas, tanggung jawab, hak, dan kewajiban anggota. Norma formal seringkali dijelaskan dalam bentuk dokumen resmi, seperti peraturan kerja, konstitusi organisasi atau anggaran dasar/ anggaran rumah tangga hingga keputusan kelompok. Norma formal biasanya memiliki sanksi yang jelas jika dilanggar, seperti teguran, denda, atau sanksi disiplin.

BACAJUGA

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB
Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Sementara itu, norma informal adalah aturan atau standar perilaku yang berkembang secara tidak resmi dalam kelompok dan didasarkan pada nilai-nilai, budaya, kebiasaan, atau interaksi antaranggota kelompok. Norma informal sering kali tidak tertulis dan berkembang melalui interaksi sosial, pengamatan, dan imitasi. Norma informal ini  bisa juga dikembangkan secara sengaja oleh kelompok dalam bentuk nilai-nilai kolektif kelompok. Contoh norma informal dalam kelompok seperti kesopanan, cara berkomunikasi, sikap saling menghormati, cara berpakaian atau yang lainnya. Pelanggaran terhadap norma informal biasanya menghasilkan respons sosial seperti cemoohan, pengucilan, atau pemutusan hubungan sosial.

Norma memainkan peran penting dalam mengendalikan tingkah laku anggota dalam kelompok. Keberadaan norma diharapkkan dapat menjadikan aktivitas kelompok berjalan tertib dan mendukung pencapaian tujuan bersama. Namun, semua itu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak tantangan yang ada. Banyak kelompok yang sudah memiliki norma, tetapi masih belum lancar aktivitas di dalam kelompoknya.

Ada beberapa hal yang mesti menjadi perhatian terkait norma dalam kelompok ini, di antaranya : pertama, norma mesti mengakomodir aktivitas yang ada dalam kelompok. Keberadaan norma, baik formal maupun informal, dapat memberikan panduan terhadap anggotanya dalam berkegiatan di kelompok. Panduan tersebut bisa saja detail namun tidak menutup kemungkinan digambarkan secara umum. Yang pasti adalah tidak ada satu aktivitas pun di dalam kelompok yang tidak mendapatkan arahan dari norma yang tersedia.

Kedua, norma mesti dipahami dan sebaiknya adalah konsensus anggota. Sebagai pelaksana, semua anggota harus tahu dan paham tentang norma yang berlaku di kelompoknya. Norma yang ada sebaiknya lahir dari proses interaksi dan diskusi anggota di dalam kelompok, supaya lebih merasuk ke diri masing-masing anggota. Dengan demikian para anggota merasa memiliki dan melaksanakan dengan rela sekaligus merasakan kebermanfaatan dari norma tersebut.

Ketiga, norma mesti jelas dan realistis. Sebagai panduan dalam aktivitas, bahasa yang digunakan dalam norma haruslah mudah dipahami semua anggota sehingga anggota dapat dengan mudah menginternalisasikan ke dalam tingkah lakunya di kelompok. Norma-norma yang rumit atau menggunakan istilah yang tidak umum dapat menyebabkan kebingungan dan kesalahpahaman. Selain itu, norma juga haruslah realistis dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada dalam kelompok. Norma yang terlalu idealistik atau tidak sesuai dengan situasi aktual dapat menghambat pencapaian tujuan kelompok.

Keempat, norma mesti ditegakkan. Keberadaan norma menjadi salah satu kunci keberhasilan kelompok. Namun pelaksanaan dan komitmen menegakkan norma tersebut menjadi lebih penting. Komitmen mesti berasal dari semua unsur yang ada dalam kelompok. Jika ada anggota yang melanggar, mesti diberikan sanksi yang sesuai. Penegakkan norma dalam kelompok ini juga harus dilakukan secara adil tanpa tebang pilih.

Minimal empat hal di atas perlu dilakukan kelompok terkait norma. Jika tidak dilakukan, norma hanya menjadi pajangan dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap keberlangsungan kelompok. Malah pada beberapa situasi, keberadaan norma dapat menjadi penghambat aktivitas dalam kelompok. Dengan memperhatikan dan mengupayakan realisasi empat hal di atas, keberadaan norma dalam kelompok dapat optimal. Dengan demikian, kelompok dapat berjalan tertib dan harmonissehingga proses mencapai tujuan bersama dilakukan dengan lebih baik.


*Artikel ini merupakan bagian keempat dari beberapa bagian lainnya tentang Sukses Mengelola Kelompok.

Tags: #kelompok#Riza Andesca Putra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Berita Sesudah

Hati-Hati dengan Netizen Indonesia

Berita Terkait

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

Senin, 03/8/26 | 05:23 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Sastra anak tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga...

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Merantau untuk Ilmu: Belajar dari Ibnu Waddah al-Qurthubi

Senin, 03/8/26 | 05:10 WIB

Oleh: Aruusalkhofiqoni Bahri Chaniago, Lc. (Alumni Dirasat Islamiyah, Ibn Tofail University, Kenitra, Maroko dan Aktif Mengkaji Hadis, Tradisi Keilmuan Islam,...

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Hati-Hati dengan Netizen Indonesia

Discussion about this post

POPULER

  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Stilistika pada Cerpen “Hasrat George” dalam Majalah Bobo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Imbuhan –isme dan Maknanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Belajar Lagi dari Tombol Undo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026