![Ketua Mabincab PMII Kota Padang, Wendriadi saat membrikan sambutan pada pembukaan Konfercab. Sabtu, (25/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG-20260425-WA00042.jpg)
“Arus politik hari ini cenderung menjadikan mahasiswa sebagai ladang pelanggengan kepentingan segelintir orang,” kata Wendriadi dalam arahannya saat pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) PMII Kota Padang. Sabtu, (25/4)
Menurut dia, mahasiswa, termasuk kader PMII perlu cermat membaca perubahan politik yang cepat dan sering kali dipenuhi informasi tak terverifikasi. Dalam situasi itu, kata dia, orientasi kekuasaan yang pragmatis berpotensi menjerumuskan gerakan mahasiswa dari jalur idealismenya.
Wendriadi menegaskan, PMII bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan ruang kaderisasi dan ideologisasi yang memikul tanggung jawab menjaga arah gerakan mahasiswa. Karena itu, ia meminta kader tidak terjebak pada politik praktis yang sempit dan kepentingan jangka pendek.
Ia menyebut sedikitnya empat peran strategis yang harus dijalankan PMII di tengah situasi politik saat ini. Pertama, sebagai penjaga nilai dan moralitas politik. “Mahasiswa harus menjadi kekuatan moral yang mengingatkan bahwa politik adalah alat untuk kemaslahatan rakyat, bukan sekadar perebutan kekuasaan,” ujarnya.
Kedua, sebagai penggerak intelektual kritis. Ia mendorong kader hadir dengan gagasan dan analisis, bukan sekadar menjadi penonton. “Kampus harus kembali menjadi pusat dialektika, bukan rutinitas akademik,” kata dia.
Ketiga, sebagai jembatan antara rakyat dan kekuasaan. Menurut Wendriadi, PMII memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, sehingga kader dituntut peka terhadap persoalan sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, dan keadilan.
Keempat, sebagai benteng kebangsaan. Ia menilai ancaman disintegrasi, radikalisme, dan menguatnya politik identitas menuntut PMII berada di garis depan dalam menjaga nilai keislaman moderat dan keindonesiaan yang inklusif.
Dalam konteks internal organisasi, Wendriadi menekankan Konfercab bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan. Ia menyebut forum tersebut sebagai momentum menentukan arah gerakan PMII ke depan.
Ia berharap kepengurusan baru yang lahir dari Konfercab mampu memperkuat kaderisasi ideologis, menghidupkan budaya intelektual, serta membangun jaringan strategis di tingkat lokal dan nasional. Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga independensi organisasi.
“PMII besar bukan karena nama, tetapi karena kader-kadernya yang berjuang dengan sungguh-sungguh,” kata Wendriadi.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya intensitas tarik-menarik kepentingan politik menjelang berbagai agenda nasional, yang kerap melibatkan kelompok mahasiswa sebagai basis mobilisasi. Dalam situasi tersebut, seruan menjaga independensi dan nalar kritis menjadi krusial bagi keberlanjutan gerakan mahasiswa.(yrp)

![Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/1001101833-120x86.jpg)

![Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/1001101833-350x250.jpg)
![Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/04/IMG_49952-350x250.jpg)




