Jumat, 23/10/26 | 08:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Disana atau Di sana?

Minggu, 18/4/21 | 08:15 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Manakah bentuk penulisan yang benar, disana atau di sana? Tentunya sebelum menjawab pertanyaan ini, kita terlebih dahulu mengetahui proses pembentukannya.

Dalam bahasa Indonesia, ada dua bentuk penulisan di, yakni di sebagai kata depan dan di- sebagai awalan. Kata depan di sering disebut dengan preposisi. Preposisi adalah kata yang biasa terdapat di depan nomina (kata benda), misalnya dari, dengan, di, dan ke (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi V). Dalam buku Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia, edisi kedua (1886), preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentris direkstif (Kridalaksana, 1986:95). Kata depan di termasuk ke dalam jenis preposisi yang berdiri sendiri dan berupa kata dasar. Adapun aturan yang digunakan dalam penulisan kata depan di, yaitu sebagai berikut:

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

 Pertama, untuk menyatakan ‘keberadaan tempat’, kata depan di ditulis di depan kata benda yang menyatakan tempat. Contoh: Musyawarah besar Ikatan Mahasiswa Pesisir Selatan (IMAPES) berlangsung di Convention Center, Painan. Selain menyatakan keberadaan tempat, kata depan di juga menunjukan bagian-bagian dari tempat, misalnya, di atas, di bawah, di dalam, di samping, di sekeliling, dan di barat.

 Kedua, kata depan di juga digunakan untuk menyatakan aspek ‘berhenti’, kata depan di ditulis di depan kata keterangan tempat. Contoh: Kami  sedang beristirahat di Pantai Carocok, Painan. 

 Ketiga, kata depan di tidak digunakan di depan nama diri. Kata ganti orang, nama jabatan, ataupun pada nama waktu. Namun, hal yang sering terjadi dalam penulisan ialah kata depan di ditulis untuk menyebut waktu, misalnya, di malam hari, di saat, di tanggal, di tahun, dan di zaman. Padahal, penulisan tersebut adalah contoh penulisan yang keliru, karena di pada kata tersebut tidak menunjukan keterangan tempat, tetapi menunjukan waktu. Oleh karena itu, penulisan yang tepat menggunakan kata depan pada, seperti, pada malam hari, pada saat, pada tanggal, pada tahun, dan pada zaman.

Keempat, kata depan di juga ditulis di depan kata yang menyatakan tulisan, nama buku, karangan, koran, dan majalah. Contoh: di dalam buku Bumi Manusia, di majalah tempo, dan di koran Singgalang.

Sementara itu, dalam buku Tata bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa kata depan di, ke, dan dari hanya digunakan untuk kata-kata yang menyatakan tempat atau sesuatu yang dianggap tempat (Keraf, 1984:81), sedangkan dalam Pedoman Umum  Ejaan Bahasa Indonesia (2016) yang diresmikan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, yakni juga diatur tata cara penulisan kata depan, seperti di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya: di mana, di dalam, ke tengah, ke kantor, ke sana, dari pulau, dan dari emas.

Selanjutnya, di- sebagai awalan. Istilah ini sering disebut dengan prefiks. Prefiks merupakan imbuhan yang ditambahkan pada bagian awal sebuah kata dasar atau bentuk; awalan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi V), sedangkan menurut Kridalaksana (1996:28), prefiks adalah afiks yang diletakkan di muka dasar. Dalam bahasa Indonesia bahwa kita mengenal tujuh bentuk prefiks, yaitu ber-, me-, per-, di-, ke-, pe-, dan se-. Salah satu bentuk prefiks tersebut ialah di-. Dalam ilmu morfologi, di- sebagai prefiks ditulis serangkai tanpa memberi spasi pada kata dasar dan imbuhannya. Biasanya, prefiks di- diikuti dengan kata kerja yang menggambarkan perbuatan, proses, dan keadaan. Pada dasarnya, awalan di- berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif. Kata kerja pasif ialah kebalikan dari kata kerja aktif, yakni bentuk kata kerja yang subjeknya mengalami atau menderita. Contohnya Ikan digoreng Ibu, Andi dikejar orang gila, dan Tersangaka ditangkap polisi.

Setelah menyimak penjelasan di atas, selanjutnya kita kembalikan pada topik semula. Manakah penulisan yang benar, disana atau di sana? Apakah kata sana tersebut dipadankan dengan awalan di- atau kata depan di? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu menganalisis kata sana.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V), kata sana merupakan kata pronomina yang memiliki makna petunjuk tempat yang jauh (atau dianggap jauh) dari pembicaraan. Saya mengartikan kata tersebut masih berhubungan dengan keterangan tempat, yakni sebagai petunjuk tempat (arah tempat), tetapi kata tersebut tidak tergolong ke dalam kelas kata nomina (benda). Namun, ketika kata sana dipadankan dengan di, makna kata tersebut menjadi kata petunjuk untuk menyatakan tempat yang agak jauh (KBBI, Edisi V). Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri menulis kata tersebut dengan dipisah (tidak serangkai). Artinya, kata tersebut merupakan bentuk preposisi atau kata depan. Jadi, penulisan yang benar dari kedua kata tersebut ialah di sana, bukan disana.

Kemudian, mengapa penulisan kata di sana masih ada yang ditulis dengan serangkai? Jawabannya tentu tidak. Penulisan seperti itu adalah bentuk penulisan yang keliru karena tidak sesuai dengan kaidah dan standardisasi penulisan bahasa Indonesia yang benar. Demikianlah penjelasan singkat tentang kata disana dan kata di sana. Semoga bermanfaat dan mencerahkan. Sekian dan terima kasih.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Terjebak di Ruangan Kakek

Berita Sesudah

Kecerdasan Metafora dalam Menulis Fiksi

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Berita Sesudah
Penyimpangan Sosial dalam Ramuan Penangkal Kiamat Analisis Wacana Kritis

Kecerdasan Metafora dalam Menulis Fiksi

Discussion about this post

POPULER

  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Lewatkan! DPP Iluni UNP Bakal Gelar Temu Akbar Lintas Angkatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bagikan Masker di Lubuk Alung, Firdaus: Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Asap Karhutla, Nakes di Dharmasraya Diminta Jemput Bola Tangani Pasien ISPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026