Sabtu, 17/10/26 | 05:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Berbagai Istilah dan Kemubaziran Kata dalam Kalimat

Minggu, 29/1/23 | 07:00 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Alumnus S-1 Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas)

 

Bahasa Indonesia memiliki banyak istilah. Istilah-istilah itu kadang ada yang memiliki makna yang berbeda, tetapi lafal dan ejaannya sama maka istilah-istilah itu dinamakan homonim. Contohnya dapat dilihat pada kata buku yang memiliki makna, yaitu ruas dan kitab. Kemudian, ada juga istilah itu yang memiliki ejaan yang sama dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan maknanya maka istilah ini dinamakan homograf. Contohnya dapat dilihat pada kata apel dalam kalimat berikut ini.

BACAJUGA

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB
Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB
  1. Ibu makan apel.
  2. Siswa dan guru melaksanakan apel di lapangan.

Pada kalimat tersebut, terlihat masing-masing menggunakan kata apel. Pada kalimat (1), kata apel yang dimaksud ialah ‘buah’, sedangkan pada kalimat (2), kata apel yang dimaksud ialah ‘upacara’.

Selain itu, ada pula beberapa istilah itu memiliki lafal yang sama dengan kata lain, tetapi berbeda ejaan dan maknanya maka istilah itu disebut homofon. Contohnya dapat dilihat pada kata bank dan bang. Berdasarkan bunyi, bahwa kata bank dan kata bang memiliki kemiripan. Namun, dilihat dari segi ejaan dan maknanya, kata bank dan bang memiliki perbedaan. Kata bank diakhiri dengan konsonon /k/, sedangkan kata bang diakhiri dengan konsonan /g/. Dalam KBBI V (2016), kata bank memiliki makna ‘badan usaha di bidang keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang dalam masyarakat, terutama memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang’, sedangkan kata bang memiliki makna ‘kata sapaan untuk kakak laki-laki.’

Di samping adanya istilah-istilah tersebut, ada juga istilah yang paling umum ditemukan. Istilah itu ialah memiliki persamaan makna dengan kata lain. Dengan demikian, istilah itu dinamakan sinonim. Menurut Kridalaksana (2011:222), sinonim adalah bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain; kesamaan itu berlaku bagi kata, kelompok kata, atau kalimat, walaupun yang dianggap sinonim hanyalah kata-kata saja, sedangkan menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia dalam KBBI V (2016), sinonim adalah nomina yang memiliki makna ‘bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk bahasa lain.’ Contohnya dapat dilihat pada kata berbohong dan kata berdusta. Berdasarkan bentuk, ejaan, dan pengucapannya, bahwa kata berbohong dan kata berdusta terlihat berbeda, tetapi makna kata tersebut sama. Dalam KBBI V (2016), kata berbohong memiliki makna ‘menyatakan sesuatu yang tidak benar; berbuat bohong; atau berdusta’, sedangkan kata berdusta memiliki makna ‘berkata tidak banar; atau berbohong.’ Contoh lain juga dapat dilihat pada kata wanita yang bersinomim dengan kata perempuan; kata ahli bersinomim dengan kata pakar; dan kata ibu bersinomim dengan kata mak.

Dalam kalimat, biasanya kata-kata yang memiliki sinonim dapat dipertukarkan penggunaannya. Namun, apabila kata-kata itu tidak dapat dipertukarkan maka kata tersebut tidak bersinomim sepenuhnya. Contohnya dapat dilihat pada kalimat berikut ini.

  1. Lintang adalah teman Anton di SMP.
  2. Banyak orang datang di pesta pernikahan Ahmad dan Rani.

Pada kalimat (1) dan (2) di atas, perhatikan penggunaan kata teman dan kata banyak. Kata teman memiliki beberapa makna dalam KBBI V (2016), di antaranya memiliki makna ‘kawan; sahabat’. Apabila dilihat pula kata kawan dalam KBBI V, juga memiliki makna ‘teman; sahabat. Begitu pun juga dengan kata sahabat, yang memiliki makna ‘kawan; teman.’ Dengan memiliki persamaan makna tersebut maka kata teman, kawan, dan kata sahabat merupakan kata bersinonim. Oleh karena itu, penggunaan kata teman pada kalimat (1) dapat dipertukarkan dengan kata kawan dan kata sahabat. Mari kita lihat perubahan kata itu pada kalimat berikut ini.

1.a. Lintang adalah kawan Anton di SMP.
1.b. Lintang adalah sahabat Anton di SMP.

Kemudian, kata banyak. Kata banyak tidaklah bersinomim dengan kata sedikit, melainkan kata tersebut ialah kata berantonim. Antonim adalah kata yang maknanya berlawanan dengan makna kata lain. Dengan demikian, kata banyak pada kalimat (2) di atas tidak memiliki kesamaan makna dengan kata sedikit. Dalam KBBI V, kata sedikit memiliki makna ‘tidak banyak’. Jika kata banyak pada kalimat (2) tersebut diganti dengan kata sedikit maka kalimat tersebut akan menimbulkan makna yang berlawanan.

Berikut ini adalah beberapa penggunaan kata bersinonim yang ditemukan pada satu frasa dalam kalimat. Hal itu membuat kalimat menjadi tidak efektif.

  • Kata Adalah dan Kata Merupakan

Dalam kalimat, penggunaan kata adalah dan kata merupakan kadang kala ada ditemukan secara bersamaan dalam sebuah frasa. Contohnya dapat dilihat pada kalimat berikut ini.

  1. Singa dan buaya adalah merupakan binatang buas.

Menurut Kridalaksana (1985), kata adalah dan kata merupakan adalah kata kerja kopula. Dalam KBBI V, kata kopula diartikan ‘kata kerja yang menghubungkan subjek dengan komplemen’. Sebagai kata kerja kopula, kata adalah memiliki makna 1. ‘indentik dengan’, 2. ‘sama maknanya dengan’, dan 3. ‘termasuk dalam kelompok atau golongan’, sedangkan kata merupakan memiliki makna 1. ‘memberikan rupa; membentuk (menjadikan) supaya berupa’, 2. ‘adalah’, 3. ‘menjadi’.

Dari makna tersebut, terlihat kata adalah dan kata merupakan memiliki persamaan makna. Dengan demikian, penggunaan yang tepat agar tidak menimbulkan mubazir maka semestinya pengguna bahasa memilih salah satu dari kata tersebut. Contohnya dapat dilihat pada kalimat berikut ini.

1.a. Singa dan buaya adalah binatang buas.
1.b. Singa dan buaya merupakan binatang buas.

 

  • Kata Kepada dan Singkatan Yth. (yang terhormat)

Kekeliruan penggunaan kata kepada dan singkatan Yth. dalam sebuah frasa sering kali terjadi dalam hal surat-menyurat, baik itu dalam menulis surat kantor, surat dinas, maupun surat lamaran kerja. Tanpa disadari, banyak orang menggunakan kata kepada dan singkatan Yth. secara bersamaan. Padahal, penggunaan demikian itu adalah contoh penggunaan yang keliru. Contohnya dapat dilihat pada penulisan alamat surat berikut ini.

Kepada Yth. Direktur Bank BRP Lengayang
Jalan Lintas Barat Sumatra No.137, Kambang Barat,
Kec. Lengayang, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat 25663

Penggunan kata kepada dan singkatan Yth. pada frasa “kepada Yth.” dalam alamat surat tersebut adalah mubazir. Menurut Noviatri, dkk (2022:99) dalam Pernak-pernik Linguistik menyebutkan pada bagian alamat surat, seharusnya tidak perlu  menggunakan kata kepada karena hal itu dipandang mubazir sebab sudah pasti yang ditujukan itu adalah orang, organisasi, atau instansi tertentu. Jadi, penulisan yang tepat pada alamat surat di atas, dapat dilihat pada contoh berikut ini.

Yth. Direktur Bank BRP Lengayang
Jalan Lintas Barat Sumatra No.137, Kambang Barat,
Kec. Lengayang, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat 25663

 

  • Kata Agar dan Kata Supaya

Kekeliruan tersebut tidak hanya terjadi pada penggunaan kata adalah dan kata merupakan; kata kepada dan singkatan Yth. Namun, kekeliruan juga terjadi pada penggunaan kata agar dan kata supaya yang digunakan secara bersamaan dalam sebuah frasa. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia dalam KBBI V (2016), kata agar dan supaya adalah kata berkategori partikel. Partikel adalah kata yang biasanya tidak dapat diderivasikan atau diinfleksikan, yang mengandung makna gramatikal dan tidak mengandung makna leksikal, termasuk di dalamnya artikel, preposisi, konjungsi, dan interjeksi (lihat KBBI, V).

Kata agar dalam KBBI V (2016) diartikan ‘kata penghubung untuk menandai harapan; supaya’, sedangkan kata supaya diartikan ‘kata penghubung untuk menandai tujuan atau harapan; mudah-mudahan sampai pada maksudnya; atau hendaknya; agar.’ Dari makna tersebut, terlihat kata agar dan kata supaya merupakan kata yang bersinonim. Oleh sebab itu, penggunaan kata agar dan kata supaya yang digunakan secara bersamaan dalam sebuah frasa akan menimbulkan makna yang mubazir. Contohnya dapat dilihat pada kalimat berikut.

  1. Dinda bekerja keras agar supaya sukses. (salah)
  2. Bapak sebaiknya banyak makan sayur agar supaya selalu sehat. (salah)

Penggunaan kata bersinonim pada kalimat tersebut adalah keliru. Penggunaan yang tepat semestinya dapat dilihat pada kalimat berikut ini.

1.a. Dinda bekerja keras agar sukses. (benar)
1.b. Dinda bekerja keras supaya sukses. (benar)

2.a. Bapak sebaiknya banyak makan sayur agar selalu sehat.(benar)
2.b. Bapak sebaiknya banyak makna sayur supaya selalu sehat. (benar)

Inilah penjelasan mengenai beberapa bentuk istilah dan contoh kemubaziran kata dalam kalimat. Semoga tulisan bermanfaat dan mencerahkan pembaca. Syukron.*

___________________

Tentang Penulis:

Yori Leo Saputra dilahirkan di Pale pada 3 Agustus 1999. Ia beralamat di Pale, Kel. Koto VII Pelangai, Kec. Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Ia adalah alumnus S-1 Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Ia memiliki hobi membaca, menulis, memotret, dan aktif menulis tulisan tentang kebahasaan.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemaknaan Tanaman Tanduk Rusa dalam Film Noktah Merah Perkawinan

Berita Sesudah

Puisi-puisi Novi Handra dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Terkait

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Novi Handra dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puisi-puisi Novi Handra dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026