Selasa, 29/9/26 | 18:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Lari yang Menyedihkan

Minggu, 17/4/22 | 10:03 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

Bagi saya berlari merupakan aktivitas yang mudah untuk dilakukan dan banyak memberikan manfaat bagi kesehatan. Terkadang, saya meluangkan waktu untuk lari pagi pada libur akhir pekan tentu di saat rasa malas benar-benar dapat dikendalikan. Biasanya, dalam berlari saya sangat selektif dalam memilih jalan yang dilalui agar sepatu olahraga yang digunakan tidak kumuh dan cepat lusuh. Dua puluh langkah berlari, langkah berikutnya berjalan dengan napas ngos-ngosan. Berlari kurang dari satu putaran gelanggang olahraga, letihnya pun tak tanggung-tanggung, hampir sebotol air mineral kemasan habis diminum.

Ada hal menarik yang dapat kita ulas dari kata “lari” dalam runtinitas harian. Tanpa disadari, berlari rupanya sering dilakukan dalam berbagai aktivitas, baik itu disadari maupun tidak. Bagi yang bekerja wajib mengisi daftar hadir, mungkin akan berlari menuju mesin finger print bila mendekati batas waktu. Mungkin juga saat pimpinan memanggil, tentu kita sesegera mungkin menuju ruangannya dengan mempercepat langkah kaki. Yang tak kalah hebatnya lagi saat bagian keuangan memanggi untuk menandatangani honorarium, bisa jadi akan berlari lima kali lebih cepat dari biasanya. Kira-kira begitu.

Perilaku yang menyebalkan dari aktivitas lari adalah lari dari tanggung jawab. Tentu saja banyak contoh untuk itu, misalnya kebiasaan memulai rehat lebih cepat lima puluh menit dari waktu yang telah ditetapkan alias meninggalkan kantor di jam kerja sebelum waktu rehat. Sesekali saya atau pembaca mungkin pernah melakukan hal itu, tentu dengan berbagai alasan pula. Barangkali, kita punya keperluan mendesak atau jangan-jangan memang sengaja lari dari beban kerja?

Dalam konteks dunia hukum aktivitas berlari juga dilakukan, misalnya tersangka kasus korupsi yang melarikan diri ke luar negeri. Saya kira sudah bosan pula telinga kita mendengarnya. Itu ke itu saja yang disiarkan televisi saban hari. Pencuri bila ketahuan aksinya tentu akan lari dari kejaran polisi dan amukan massa. Sebab itulah ada yang namanya buronan.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Begitupun dalam urusan hati yang sensitif ini. Tidak jarang pula bermacam persoalan yang dapat menggores luka dan membekas lama tentu butuh diobati. Bisa saja kita lari atau menghindar sejenak hal yang menyebabkannya. Terkadang, saya akan menghindar atau, bahkan lari dari suatu hal yang membuat hati tidak nyaman. Alasannya berbagai macam pula. Yang jelas ini bagian dari persoalan hati. Bila tetap bertahan, kemungkinan dapat berakibat fatal.

Saya kira pembaca tentu pernah membaca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka atau mungkin menonton filmnya. Dalam ceritanya ternyata ada hal yang dapat membuat saya dan mungkin juga sebagian pembaca bergidik dengan perilaku lari yang satu ini. Tidak jarang pula kita mendengar ujungnya berakibat kejadian memilukan serupa depresi atau ganguan jiwa. Bila seorang terkasih lari ke lain hati. Hal ini serupa pilunya dengan hati Zainuddin ketika ditinggal pergi Hayati.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Senja di Hari Itu” Karya Elang Humaira Cipto dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Berita Sesudah

Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Berita Sesudah
Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Perempuan dalam Buku Kesaksian Sepasang Sendal Sebuah Antitesis

Discussion about this post

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026