![Anggota DPRD Sumbar, Fraksi PKB, Donizar.[foto : ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2025/08/Screenshot_2025-08-27-20-34-06-15_1c337646f29875672b5a61192b9010f9.jpg)
Namun, bagi Anggota DPRD Sumatera Barat Donizar, bonus demografi bukanlah jaminan keberhasilan. Menurutnya, peluang tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila pemerintah mampu menyiapkan generasi muda yang sehat, terdidik, terampil, dan memiliki akses terhadap lapangan pekerjaan.
“Bonus demografi bukan hadiah yang datang begitu saja. Ia harus dipersiapkan melalui pendidikan yang berkualitas, keterampilan yang relevan, dan kesempatan kerja yang luas,” kata Donizar.
Pemerintah menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas nasional dalam RPJMN dan agenda Indonesia Emas 2045.
Kementerian Pemuda dan Olahraga menegaskan bahwa pemuda harus menjadi aktor utama pembangunan melalui peningkatan kapasitas kepemimpinan, kewirausahaan, inovasi, dan partisipasi sosial. Upaya tersebut diarahkan agar generasi muda mampu menjawab tantangan transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi.
Donizar menilai arah kebijakan tersebut sudah tepat, tetapi implementasinya harus menjangkau daerah.
“Jangan sampai bonus demografi hanya menjadi isu nasional. Daerah juga harus memiliki strategi untuk menyiapkan generasi mudanya,” ujarnya.
Menurut Donizar, Sumatera Barat memiliki potensi besar karena didukung oleh tradisi pendidikan yang kuat, budaya merantau, dan semangat kewirausahaan masyarakat Minangkabau.
Namun, ia menilai potensi tersebut harus diperkuat melalui kebijakan yang berpihak kepada generasi muda.
Ia mendorong pemerintah memperluas pelatihan vokasi, inkubasi bisnis, pengembangan ekonomi kreatif, serta akses permodalan bagi wirausaha muda.
“Anak muda jangan hanya disiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja,” katanya.
Donizar mengingatkan bahwa salah satu tantangan terbesar bonus demografi adalah penyediaan lapangan kerja.
Apabila lulusan sekolah dan perguruan tinggi tidak terserap dunia kerja, maka bonus demografi justru dapat meningkatkan angka pengangguran.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat investasi, pengembangan UMKM, hilirisasi industri, dan sektor ekonomi kreatif agar mampu menyerap tenaga kerja muda.
“Pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan penciptaan lapangan kerja. Jangan sampai ekonomi tumbuh, tetapi kesempatan kerja tidak bertambah,” ujarnya.
Selain kemampuan teknis, Donizar menilai pembangunan karakter generasi muda juga menjadi faktor penting.
Menurutnya, integritas, disiplin, kemampuan bekerja sama, dan kepedulian sosial merupakan modal yang dibutuhkan dalam menghadapi persaingan global.
“Teknologi bisa dipelajari, tetapi karakter harus dibangun sejak dini melalui pendidikan, keluarga, dan lingkungan masyarakat,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi kepemudaan, dan komunitas agar generasi muda memperoleh ruang untuk berkembang.
Donizar menegaskan bahwa bonus demografi merupakan kesempatan yang hanya datang sekali dalam perjalanan sebuah bangsa.
Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan pembangunan pemuda sebagai investasi jangka panjang.
“Kalau kita berhasil menyiapkan generasi muda hari ini, maka Indonesia Emas 2045 bukan sekadar slogan. Tetapi kalau gagal, bonus demografi justru bisa menjadi beban pembangunan,” ujar Donizar.(yrp)
![Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260824-WA0012-120x86.jpg)

![Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260824-WA0012-350x250.jpg)





