
Oleh: Faathir Tora Ugraha
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi saksi perjalanan kehidupan sosial dan masyarakat di negeri ini. Lagu-lagu Iwan Fals pada umumnya bertemakan kehidupan dan kritik sosial. Salah satu lagunya yang berjudul “Rindu Tebal” tampil dengan tema yang berbeda. Lagu yang rilis bersama album Sugali pada tahun 1984 ini menampilkan tema kerinduan pada keluarga yang dibawa dengan lantunan genre country. Tokoh dalam lagu ini diceritakan pergi dari desa bukan dengan cara yang baik, melainkan diusir oleh ayahnya sendiri. Penyampaian wacana tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa metafora yang menampar sebab beberapa frasa dalam lirik lagu tersebut mengandung analogi-analogi dan unsur lokalitas yang ada dalam masyarakat. Lokalitas merupakan bagian dari konteks sosial yang ada dalam wacana.
Wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap, berisi lebih dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi, memiliki awal dan akhir yang jelas, serta berkesinambungan. Mulyana (2005:69) menyatakan bahwa prinsip pemahaman wacana diperlukan untuk memahami wacana. Salah satu prinsip pemahaman tersebut ialah prinsip analogi. Prinsip analogi berfungsi sebagai penjelas untuk fenomena bahasa yang tidak terstruktur atau menggunakan gaya bahasa lain. Prinsip analogi digunakan untuk mengevaluasi wacana yang membutuhkan penerapan berbagai pemahaman pengetahuan. Sebab analogi akan menyimpulkan kebenaran umum dari pengamatan terhadap fenomena tertentu.
Prinsip lokalitas adalah unsur-unsur kemasyarakatan atau kelompok yang menempati ruang tersebut. Lokalitas bisa saja merujuk kepada kebudayaan, sejarah, geografi, bahasa, dan nilai-nilai khas suatu daerah. Lokalitas berfungsi sebagai pembangun identitas dan makna dari sebuah lagu. Berikut beberapa analisis terkait analogi dan lokalitas pada lirik lagu “Rindu Tebal” karya Iwan Fals.
Analogi
Penggunaan kata “Tanah kelahiranku” merujuk pada makna tempat di mana sang pengarang lagu lahir. Tempat kelahiran menggambarkan akar budaya, sumber kehidupan, atau fondasi identitas seseorang. Tanah bersifat abadi, sementara manusia fana. Hal tersebut merupakan simbol keberlanjutan dan kepulangan. Sifat tanah yang menopang beban menggambarkan bagaimana asal-usul menjadi kekuatan pendukung saat seseorang menghadapi kehidupan di luar sana. Oleh sebab itu, kata “tanah” dalam konteks pemakaian dianalogikan sebagai tempat di mana seseorang berakar, tumbuh, dan kembali.
Pada bait kedua lagu tersebut, terdapat frasa “Rinduku tebal”. Tebal merupakan adjektiva yang berarti tidak tipis dan digunakan dalam berbagai konteks seperti benda fisik, bunyi, atau tulisan untuk penekanan atau penonjolan bagian teks yang penting. Penggunaan kata “tebal” merupakan sebuah metafora yang memberikan kesan bahwa rindu tersebut memiliki berat dan beban yang menghimpit secara nyata di dalam batin pengarang lagu.
Pada puncak lagu terdapat frasa “coreng hitam”. Dalam konteks bahasa dan sastra, frasa tersebut memiliki analogi untuk noda, aib, atau cacat yang merusak sesuatu yang sebelumnya bersifat bersih, murni, atau terhormat. Secara visual, hitam merupakan warna yang kontras dan tajam, hingga corengan tersebut menjadi pusat perhatian yang tidak bisa diabaikan. “Coreng hitam di muka bapak” merupakan lirik kontras yang memperlihatkan sesuatu yang bersih telah dirusak harga dirinya oleh beberapa sebab dan kejadian.
Lokalitas
Unsur lokalitas terdapat pada lirik lagu yang diawali dengan kata “Sewindu”. Dalam konteks keseluruhan lagu, kata ‘sewindu’ bukanlah sekedar siklus waktu yang sebentar. “Sewindu” dalam budaya Jawa merupakan istilah yang merujuk pada periode selama delapan tahun. Istilah tersebut berasal dari penanggalan Jawa yang diciptakan oleh Sultan Agung (Mabruri, 2022). Secara analogi, sewindu juga bisa dikaitkan bahwa kata “sewindu” merupakan pembangun dari atmosfer ketabahan dan kesabaran. Sebab delapan tahun merupakan waktu yang cukup bagi sebuah pohon untuk tumbuh besar atau bagi tanah berganti rupa.
Analisis terhadap lagu “Rindu Tebal” karya Iwan Fals menunjukkan bahwa analogi dan lokalitas bukanlah sekadar sebagai hiasan lirik, melainkan sebagai instrumen untuk menggambarkan kedalaman konflik batin dan kerinduan yang dialami seorang yang terusir. Lokalitas yang menggambarkan siklus ketabahan menggunakan istilah Jawa “Sewindu” yang menjadi pondasi yang kuat. Analogi “tebal” menunjukkan rindu yang benar-benar berat dan menjadi beban yang nyata; “Coreng hitam” menunjukkan sebuah analogi noda dan aib yang merusak kehormatan keluarga ; “Tanah kelahiran” menunjukkan bahwa bagaimanapun ia tetap memandang tempat kelahiran dan terusir adalah tempat ia untuk pulang sejauh apa pun ia berkelana.
Secara keseluruhan, lagu ini merupakan narasi tentang kerinduan yang murni namun terhalang oleh dosa masa lalu. Melalui prinsip analogi dan lokalitas, Iwan Fals berhasil membuktikan bahwa rindu yang mendalam sering melukai seperti rindu dan harapan untuk pulang ke tempat lahir sementara seseorang dalam keadaan terusir.







