
Oleh: M. Subarkah
(Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda menghadirkan pengalaman spiritual yang sederhana namun sangat mendalam. Melalui metafora rumput, penyair menyampaikan gagasan tauhid dan penyerahan diri total kepada Tuhan dengan bahasa yang lembut, tetapi kuat. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang ibadah sebagai ritual formal, tetapi juga sebagai laku hidup yang menyatu dengan seluruh gerak, sikap, dan keberadaan makhluk di alam semesta.
Sejak larik awal, puisi ini langsung memperlihatkan keteguhan iman di tengah penindasan. Ketika azan dibungkam dan rumah-rumah Tuhan digusur, rumput tetap sembahyang. Gambaran tersebut menyiratkan pesan tauhid yang tegas: hubungan seorang hamba dengan Tuhan tidak bergantung pada ruang fisik, simbol kekuasaan, atau pengakuan sosial. Ibadah hadir sebagai kesadaran batin yang tidak dapat dipadamkan oleh tekanan apa pun. Tauhid dalam puisi ini tampil sebagai keyakinan yang hidup, bertahan, dan terus bergerak meskipun berada dalam situasi terpinggirkan.
Penggunaan kutipan ayat Al-Qur’an “inna shalaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil ‘alamin” memperkuat pesan penyerahan diri secara menyeluruh. Ayat tersebut menegaskan bahwa shalat, ibadah, hidup, dan mati tertuju hanya kepada Allah. Dalam konteks puisi, ayat ini hadir sebagai fondasi spiritual yang menopang seluruh laku rumput. Segala gerak bergoyang diterpa topan, berakar kuat di bumi, dan tumbuh kembali setelah rusak terlihat sebagai wujud kepasrahan yang utuh.
Citraan alam berperan penting dalam membangun makna tauhid. Rumput digambarkan memiliki akar yang mengurat di bumi sambil terus mengucap shalawat. Gambaran ini menunjukkan keseimbangan relasi vertikal dan horizontal. Di satu sisi, rumput terikat kuat pada tanah sebagai asal keberadaan. Di sisi lain, zikir dan shalawat menghubungkannya dengan Tuhan. Tauhid dalam puisi ini tidak mengajak menjauh dari dunia, tetapi justru menumbuhkan kesadaran hidup yang membumi dan selaras dengan alam.
Pengulangan frasa “sembahyang rumputan” membangun makna penyerahan diri secara total. Sembahyang dipahami sebagai penyerahan jiwa dan badan secara habis-habisan. Tidak ada kepentingan pribadi, tidak pula harapan balasan duniawi. Seluruh keberadaan diserahkan dengan penuh kerelaan. Sikap seperti ini mencerminkan puncak kesadaran tauhid ketika ego melebur dan kehendak pribadi tunduk sepenuhnya pada kehendak Ilahi.
Keteguhan iman juga tercermin dalam gambaran rumput yang terus tumbuh meski ditebang dan dibakar. Setiap bentuk penghancuran justru melahirkan kehidupan baru yang lebih subur. Gambaran ini menghadirkan pesan spiritual tentang daya hidup iman. Penyerahan diri kepada Tuhan tidak melahirkan kepasifan, tetapi melahirkan ketahanan dan keberanian untuk terus bangkit. Iman tidak runtuh oleh kekerasan, melainkan menguat melalui cobaan.
Puisi ini juga menyampaikan kritik spiritual terhadap kehidupan modern yang sering meminggirkan nilai ketuhanan. Penggusuran rumah-rumah Tuhan dan pembungkaman azan dapat dibaca sebagai simbol terdesaknya spiritualitas oleh kekuasaan dan kepentingan duniawi. Dalam situasi tersebut, rumput tampil sebagai subjek spiritual yang setia. Bahasa puisi seolah menegaskan bahwa iman sejati tidak memerlukan panggung besar, cukup kesadaran yang jujur dan konsisten.
Pengulangan frasa “aku rumputan” membentuk identitas spiritual yang rendah hati. Setiap pengulangan menjadi pengakuan posisi sebagai hamba yang kecil, lemah, dan sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Dalam tradisi spiritual Islam, pengakuan kerendahan seperti ini sering membuka jalan menuju keikhlasan dan ketenangan batin. Rumput tidak berusaha menjadi sesuatu yang lebih tinggi dari kodratnya, namun justru menemukan kemuliaan dalam kepasrahan.
Aspek tauhid semakin terasa ketika puisi meniadakan batas antara ibadah dan kehidupan sehari-hari. Rumput tidak mengenal pemisahan antara waktu sembahyang dan waktu bekerja. Bergoyang diterpa angin, memberi makan ternak, menjaga tanah, dan tumbuh kembali setelah rusak semuanya menyatu sebagai satu rangkaian pengabdian. Perspektif ini menantang cara pandang yang membatasi ibadah hanya pada ruang dan waktu tertentu.
Zikir yang digambarkan menggema hingga menggetarkan jagat raya menunjukkan kekuatan spiritual dari sesuatu yang tampak kecil dan terabaikan. Rumput yang hidup di posisi paling rendah justru memiliki daya spiritual yang luas. Pesan ini mengajarkan bahwa kebesaran Tuhan tercermin dalam kesetiaan makhluk-makhluk kecil yang terus mengingat-Nya tanpa henti.
Penyerahan diri total juga tampak dalam sikap rumput yang tidak menyimpan dendam atas penebangan dan pembakaran. Tidak ada keluhan, tidak pula amarah. Yang hadir justru pertumbuhan baru dan kesuburan yang lebih kuat. Sikap ini mencerminkan kedewasaan spiritual, ketika penderitaan tidak menghapus kepercayaan, melainkan memperdalam kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Puisi ini juga menghadirkan dimensi sosial yang halus namun tajam. Rumput disingkirkan dari kota, tetapi dipelihara alam di hutan. Gambaran ini membuka refleksi tentang manusia-manusia kecil yang tersingkir oleh sistem, namun tetap menjaga iman dan integritas. Tauhid dalam puisi ini hadir sebagai daya bertahan bagi mereka yang hidup di pinggiran.
Dalam konteks kekinian, “Sembahyang Rumputan” mengajak pembaca meninjau ulang makna kesalehan. Kesalehan tidak selalu tampak dalam simbol religius yang mencolok, tetapi hadir dalam konsistensi, keikhlasan, dan kesediaan memberi manfaat. Penyerahan diri kepada Tuhan tidak menjauhkan manusia dari dunia, justru menumbuhkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Penutup puisi menegaskan bahwa seluruh gerak rumput merupakan sembahyang. Pernyataan ini merangkum keseluruhan pesan spiritual puisi. Ibadah tidak dibatasi oleh gerakan ritual semata, tetapi menjelma dalam cara hidup yang pasrah, rendah hati, dan penuh kesadaran Ilahi. Tauhid hidup melalui kesadaran, bukan paksaan melalui ketekunan, bukan kemegahan melalui penyerahan, bukan keangkuhan.
Melalui “Sembahyang Rumputan”, Ahmadun Yosi Herfanda menghadirkan spiritualitas yang membumi dan relevan lintas zaman. Puisi ini mengajak pembaca belajar dari rumput: tetap teguh dalam iman, setia dalam sembahyang, dan menjadikan seluruh hidup sebagai pengabdian. Dari makhluk kecil yang sering terabaikan itu, tauhid menemukan suaranya yang paling jujur, sunyi, rendah, namun cukup kuat untuk menggetarkan semesta.






