Jumat, 23/1/26 | 09:07 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI PUISI

Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

Minggu, 18/1/26 | 19:35 WIB
Sumber gambar: GeminiAI

Tanpa Ingin Menjadi Utama

Oleh: Arza Kailla Chaerani

Kau hadir tanpa gegap gempita
Seperti lagu yang tak mencari sorak
Nada-nadamu mengalun pelan
Menyentuh ruang yang sunyi
Tanpa pernah meminta lebih
Di tiap petikan yang kau lepaskan
Dunia terasa lebih jinak
Tidak ada suara yang saling menindih
Hanya keheningan yang hangat
Tempat perasaanku belajar tenang,
Dan diam-diam aku berharap
Menjadi bagian kecil dari melodimu
Bukan nada utama
Cukup irama sederhana
Yang selalu kau ulang karena terasa pulang

2025

 

BACAJUGA

No Content Available

Nada yang Kubiarkan Diam

Oleh: Arza Kailla Chaerani

Aku menyukai satu nada,
Yang terdengar utuh meski tak pernah kupetik
Bahasanya rapi,
Lagunya begitu sendu hingga ku terlelap
Sementara aku hanya jeda
Di antara bait yang ia mainkan
Aku tahu,
Aku bukan bagian dari nadanya
Aku terlalu sunyi
Untuk irama yang begitu terang.
Saat aku memilih diam,
Nada itu justru kembali berbunyi,
Meninggalkan suara-suara yang indah
Antara kebiasaan
Dan rasa yang terlanjur tumbuh
Maka aku belajar merapikan perasaan
Tidak semua bunyi adalah panggilan,
Dan tidak semua nada
Ditakdirkan menjadi lagu
2025

 

Jejak yang Tak Menemukan Pulang

Oleh: Arza Kailla Chaerani

Dua cahaya telah lama padam
Waktu berjalan tanpa menoleh
Aku tertinggal di persimpangan
Menunggu arah yang tak datang
Rumah berubah menjadi ingatan
Suara asal perlahan menghilang
Nama-nama tinggal dalam doa
Rindu menua tanpa alamat
Malam memanjang tanpa pelukan
Langit asing tak mengenalku
Aku mencari pulang ke mana
Tak ada peta selain luka
Jalan-jalan berakhir sunyi
Langkah terus membawa kehilangan
Yang tak pernah menemukan rumah
2025

 

Gelap yang Tak Mengenal Cahaya

Oleh: Arza Kailla Chaerani

Kehilangan ini gelap yang utuh
Bukan malam menunggu pagi
Melainkan gelap tanpa kelahiran
Cahaya tak pernah menemukan jalan
Bahkan bayangan enggan tinggal
Aku berjalan tanpa arah pulang
Langit menutup seluruh namaku
Sunyi tumbuh menjadi rumah
Tempat rindu kehilangan suara
Dan doa jatuh tanpa jawaban
Rasa ini air tanpa wadah
Mengalir lepas dari genggaman
Menyentuh dunia tanpa menetap
Tak tahu harus berhenti
Tak tahu harus kembali
Yang paling pilu dari kehilangan
Bukan perginya yang lama
Melainkan hidup yang tersisa
Menanggung gelap tanpa cahaya
Dan air tanpa tempat pulang

2025

 

Kota Tua dan Lampu Jalan

Oleh: Arza Kailla Chaerani

Di kota tua kita singgah
Bangunan menyimpan napas kenangan
Waktu berjalan tanpa tergesa
Jejak langkah pernah saling, dan diam terasa akrab
Lampu jalan menyala perlahan
Menghafal cerita yang berlalu
Tawa pernah jatuh lalu pulang tanpa suara
Menjadi kenangan tak kembali
Yang manis telah terlewati
Namun tak pernah benar hilang
Ia tinggal di sudut sunyi di cahaya yang setia
Menjaga kisah kita diam-diam
Kota tua tidak melupakan
Meski manusia belajar pergi
Lampu jalan tetap menyala
Seolah tahu siapa pernahDan siapa tak kembali

2025

Biodata Penulis: 

Arza Kailla Chaerani kelahiran Jakarta, 08 September 2006. Ia merupakan seorang mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Tags: #Arza Kailla Chaerani
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pimpin PKC PMII Sumbar, Yusuf Rahman Tekankan Kebersamaan

Berita Sesudah

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Berita Terkait

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Puisi-puisi Aliftia Nabila Putri

Minggu, 11/1/26 | 09:26 WIB

  Sumber: Google GeminiAI Di Kota yang Berbeda Oleh: Aliftia Nabila Putri Di sini aku masih sibuk dengan hariku, Sama...

Puisi-puisi Furkon Patani

Puisi-puisi Furkon Patani

Minggu, 28/12/25 | 14:15 WIB

Gambar: Meta AI Jadikanlah Aku Perindu Oleh: Furkon Patani Aku adalah pemabuk cinta Dan aku juga perindu setia Banyak yang...

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Puisi-puisi Indri Rahmadani

Minggu, 07/12/25 | 17:48 WIB

Sumber Gambar: Meta AI Rumah Tanpa Pintu Oleh Indri Rahmadani Di kota ini yang jauh dari ragamu Aku belajar berhitung...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Minggu, 30/11/25 | 15:51 WIB

Sumber: Meta AI Sehangat Kepulan Kopi Oleh Wulan Darma Putri Dalam getaran cinta Kau mengukir hati yang luka Memberiku segala...

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Puisi-puisi Afny Dwi Sahira

Minggu, 16/11/25 | 19:38 WIB

Menebak Pikiran Amir Oleh: Afny Dwi Sahira Sendu mata Amir rindu Buya Mengingat Buya semasa hidup Peninggalan Buya memenuhi memori...

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Puisi-puisi Delivia Nazwa Syafiariza

Minggu, 02/11/25 | 18:34 WIB

Sumber: Meta AI Penjara Air Oleh: Delivia Nazwa Syafiariza Air pernah jadi kebebasan Sirip pernah menari tanpa batas Lalu datang...

Berita Sesudah
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Persiapan Jemaah Haji Kota Padang 1447 Hijriah Sebanyak 193 Orang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Lantik Raju Minropa Sebagai PJ Sekda Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Persoalan Ketersediaan Air Bersih Kota Padang Butuh 228 Sumur Bor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Personifikasi dalam Puisi “Lukisan Berwarna” Karya Joko Pinurbo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024