
Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)
Latar tempat merupakan salah satu unsur intrinsik penting dalam karya sastra karena berperan membangun suasana cerita, menghadirkan konteks sosial dan budaya, serta membuat peristiwa dalam cerita terasa hidup. Salah satu karya sastra yang menampilkan latar tempat secara kuat ialah roman Emil und die Detektive (1929) karya Erich Kästner. Dalam roman ini, Berlin tidak hanya berfungsi sebagai lokasi terjadinya peristiwa, tetapi juga hadir sebagai ruang sosial yang kompleks, sarat dinamika budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat perkotaan. Kekhasan penggambaran Berlin tampak melalui penyebutan lokasi-lokasi nyata seperti Café Josty dan Zoologischer Garten yang memberi kesan realistis pada cerita. Berlin digambarkan bukan hanya sebagai kota modern yang memukau, tetapi juga ruang pembentuk watak manusia dan menyimpan kritik sosial yang disampaikan melalui sudut pandang anak-anak. Meskipun novel ini terbit hampir satu abad lalu dan lanskap Berlin telah banyak berubah, pesan moral yang disampaikan oleh pengarang tetap relevan hingga kini.
Emil und die Detektive mengisahkan Emil Tischbein, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang tinggal bersama ibunya di kota kecil Neustadt. Pada liburan musim panas, sang ibu mengirim Emil ke Berlin untuk mengunjungi nenek dan sepupunya, Pony Hütchen. Perjalanan ini menjadi pengalaman pertama Emil ke kota besar dan ia melakukannya seorang diri karena ibunya harus tetap bekerja. Emil dibekali sejumlah uang untuk diserahkan kepada neneknya dan diwanti-wani agar berhati-hati dan menjaga uang tersebut. Namun, dalam perjalanan menuju Berlin, Emil tertidur di dalam kereta dan uangnya dicuri oleh seorang pria bernama Grundeis. Setibanya di Berlin, Emil memutuskan untuk membuntuti pencuri itu secara diam-diam. Ia kemudian bertemu dengan sekelompok anak-anak Berlin yang membantunya menyusun rencana untuk menangkap Grundeis. Dipimpin oleh Gustav dengan peluit khasnya dan didukung oleh dua belas anak setempat, mereka mengatur strategi hingga akhirnya Grundeis berhasil ditangkap dan uang Emil kembali. Meskipun disampaikan melalui sudut pandang anak-anak, kisah ini sarat dengan nilai keberanian, tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan solidaritas di tengah kehidupan masyarakat modern di kota besar.
Perjalanan Emil membuntuti Grundeis menjadi pembuka bagi penggambaran Berlin pada akhir 1920-an. Melalui sudut pandang anak-anak, Berlin tidak hanya hadir sebagai kota besar yang modern dan memukau, melalui gambaran gedung-gedung tinggi, berbagai jenis kendaraan yang lalu-lalang di jalanan, serta para pedagang dengan beragam barang dagangan, tetapi juga sebagai kota bising, serba cepat, padat, dan tingkat individualisme yang tinggi. Menariknya, meskipun pengalaman pertama Emil di Berlin tidak sesuai dengan harapannya, ia tetap mampu memetik pelajaran berharga dari peristiwa tersebut dan mempertahankan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan integritas.
Perjalanannya menuju Berlin menjadi pengalaman pertama Emil berhadapan dengan kehidupan kota besar. Dari jendela kereta, ia menyaksikan bangunan-bangunan besar, vila-vila bertaman, hingga cerobong-cerobong tinggi yang merepresentasikan kawasan industri. Pemandangan ini menunjukkan peralihan ruang dari Neustadt, kota kecil yang homogen, menuju Berlin yang jauh lebih kompleks dan heterogen. Gedung-gedung tinggi dan kawasan industri tersebut menjadi penanda modernitas, sesuatu yang belum pernah dijumpai Emil di kampung halamannya.
Setibanya di Berlin, gambaran kota semakin menguat melalui pemandangan berbagai jenis kendaraan, seperti mobil, trem, serta bus bertingkat yang melaju sangat cepat dan saling memotong di sepanjang jalan. Di setiap sudut kota terlihat para yang pedagang menawarkan berbagai barang dagangannya, mulai dari koran, bunga, buah-buahan, buku, jam tangan, hingga pakaian. Aktivitas ini mencerminkan kehidupan ekonomi kota besar yang dinamis. Gambaran tersebut merepresentasikan situasi Berlin pada akhir 1920-an, ketika kota ini berkembang pesat sebagai pusat industri, perdagangan, dan budaya di Eropa pada masa Republik Weimar, tepatnya periode sebelum terjadi Perang Dunia II. Modernitas hadir tidak hanya dalam bentuk bangunan-bangunan tinggi, tetapi juga dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh kebisingan.
Di balik segala hirup pikuknya, Berlin juga tampil sebagai kota yang mengasingkan dan penuh anonimitas. Emil tiba di Berlin dalam keadaan kehilangan uang dan harus membuntuti Grundeis di tengah lautan manusia dan kendaraan. Kota besar tidak memberinya ruang untuk menikmati pemandangan. Berlin seolah menuntut kewaspadaan serta pengambilan keputusan yang cepat dan tidak memberinya waktu untuk beristirahat. Jika lengah sedikit saja, bisa-bisa uang Emil tidak pernah kembali. Im vorderen Wagen saß ein Mann, der hatte Emils Geld und konnte jeden Augenblick verschwinden. Dann war es aus. Denn zwischen den Autos und Menschen und Autobussen fand man niemanden wieder.” (Kästner, 1929). Di dalam kendaraan, pencuri uang itu bisa menghilang kapan saja. Kalau itu terjadi, semuanya akan berakhir. Sebab di antara mobil-mobil, orang-orang, dan bus-bus, seseorang tidak akan mungkin ditemukan kembali.” Kutipan ini memperlihatkan gambaran kehidupan kota besar yang membuat seseorang mudah “menghilang” di tengah keramaian, serta merefleksikan anonimitas kehidupan urban pada masa itu.
Perasaan terasing Emil semakin diperkuat oleh sikap orang-orang Berlin yang digambarkan sibuk dengan urusan masing-masing. Di kota dengan jutaan penduduk, tidak ada yang benar-benar memperhatikan seorang anak kecil yang kebingungan dan kehilangan uang. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut:
Die Stadt war so groß. Und Emil war so klein. Und kein Mensch wollte wissen, warum er kein Geld hatte, und warum er nicht wusste, wo er aussteigen sollte. Vier Millionen Menschen lebten in Berlin, und keiner interessierte sich für Emil Tischbein. Jeder hat mit seinen eigenen Sorgen und Freuden genug zu tun. Und jeder denkt: Mensch, lass mich bloß in Ruhe!
Kota itu begitu besar. Dan Emil terasa begitu kecil. Tak seorang pun ingin tahu mengapa ia tidak punya uang, dan mengapa ia tidak tahu harus turun di mana. Empat juta orang tinggal di Berlin, dan tak seorang pun peduli kepada Emil Tischbein. Setiap orang sudah cukup sibuk dengan masalah dan kegembiraan mereka sendiri. Dan setiap orang berpikir: Tingalkan saya sendiri!”
Kutipan tersebut mencerminkan individualisme dalam masyarakat modern, sebuah fenomena yang menjadi ciri khas kehidupan kota besar Eropa pada awal abad ke-20. Jika di Neustadt orang-orang saling mengenal dan mudah menolong, Berlin justru menampilkan wajah kota modern yang dingin dan individualis. Melalui pengalaman Emil, pengarang menyoroti kondisi umum pada masyarakat modern di kota besar, yaitu memudarnya nilai kebersamaan di tengah modernitas.
Namun, Berlin tidak semata-mata digambarkan sebagai kota yang menakutkan. Emil justru mengagumi kemegahan Berlin, meskipun ia menyadari bahwa dirinya tidak sanggup tinggal di sana selamanya. Hal ini tampak dalam refleksi Emil ketika ia membandingkan Berlin dengan Neustadt, kota kecil yang sederhana dan minim fasilitas, tetapi menawarkan rasa aman. Emil tidak ingin hidup di tempat yang menuntutnya untuk selalu tergesa-gesa dan membuatnya terus-menerus merasa khawatir akan tersesat. Kesadaran ini menunjukkan bahwa kehidupan di kota besar tidak selalu cocok untuk setiap orang. Meski demikian, pengalaman Emil juga memperlihatkan bahwa kota besar tidak harus selalu dipandang sebagai ancaman. Berkat bantuan dan solidaritas teman-teman barunya, pengalaman buruk yang ia alami justru berubah menjadi pembelajaran yang berharga.
Dengan demikian, melalui Emil und die Detektive, Berlin pada akhir 1920-an tampil sebagai representasi kehidupan modern sebelum Perang Dunia II, yaitu sebuah kota yang maju, dinamis, dan penuh peluang, tetapi sekaligus keras, individualis, serta menuntut kecekatan dan ketangguhan mental. Melalui sudut pandang anak-anak, Erich Kästner tidak hanya merekam wajah Berlin sebagai latar cerita, tetapi juga sebagai potret sosial dan budaya masyarakat modern pada masanya.









