
Oleh: Reno Novita Sari, Ike Revita, Fajri Usman, dan Sawirman
(Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Marcel Danesi dalam bukunya Signs of Crimes (2014) menjelaskan bahwa penyelidikan kejahatan tidak hanya berkaitan dengan bukti fisik, tetapi juga dengan cara seorang pelaku memanipulasi tanda mulai dari bahasa, gestur, simbol hingga objek untuk menciptakan realitas palsu yang menguntungkan dirinya. Danesi menyebut praktik seperti ini sebagai semiotika forensik yaitu upaya membaca makna tersembunyi di balik tanda-tanda yang muncul dalam konteks kriminal. Film Keadilan (The Verdict) memperlihatkan bagaimana manipulasi tanda baik verbal maupun nonverbal dimanfaatkan oleh para tokohnya, terutama Timo dan Dika, untuk membentuk narasi kebohongan di ruang hukum. Film ini disutradarai oleh Lee Chang-Hee dan Yusron Fuadi serta sudah tayang dibioskop sejak tanggal 21 November 2025. Melalui dua konsep Danesi, yaitu signs of deception dan language crimes, film ini memperlihatkan bahwa kebenaran bukan lagi soal fakta, tetapi soal siapa yang mampu mengontrol makna.
Salah satu bentuk sign of deception yang ditemukan adalah ketika Timo yang merupakan seorang pengacara terkenal, mengubah diagnosis kesehatan kliennya yang bernama Bimo. Ia menyatakan bahwa kliennya mengidap skizofrenia, lengkap dengan narasi delusi dan ketidakmampuan membedakan realitas. Secara medis, diagnosis seharusnya merupakan tanda yang merepresentasikan kondisi kesehatan seseorang. Namun, dalam konteks ini, Timo mengubahnya menjadi tanda yang mendukung narasi bahwa Bimo tidak dapat dimintai pertanggungjawaban hukum. Praktik ini sejalan dengan konsep Danesi tentang symbolic reframing, yakni ketika tanda asli diberi makna baru untuk merekayasa persepsi orang lain (Danesi, 2014). Hasilnya tampak ketika hakim merujuk Pasal 44 ayat (1) KUHP dan menyatakan bahwa Bimo tidak bersalah. Putusan tersebut tidak didasarkan pada fakta, melainkan pada keberhasilan Timo memanfaatkan perubahan diagnosis sebagai sarana manipulasi.
Bentuk lain dari sign of deception dalam film Keadilan (The Verdict) tampak ketika Timo menanggapi ucapan Bimo, “Sama bokap gua aja lu baik,” dengan pengakuan singkat, “Ya dibayar,” yang berfungsi sebagai tanda indeksikal tentang relasi hukum yang koruptif. Namun, Timo segera menutupinya melalui pernyataan formal, “Semoga ini pengalaman berharga bagi Anda,” yang berperan sebagai tanda simbolik sekaligus face-saving device untuk mengaburkan makna sebenarnya. Danesi menyebut strategi penyamaran semacam ini sebagai language crimes, yakni penggunaan bahasa untuk menutupi atau menormalkan tindakan tidak etis melalui penciptaan kesan profesional yang menyesatkan.
Contoh lain muncul ketika Dika, anak seorang pejabat, menunjukkan tangan yang diborgol sambil berkata “Bukak!” kepada polisi. Gestur singkat ini menggambarkan power code atau language of authority, yaitu cara seseorang menggunakan tanda nonverbal untuk memerintah tanpa banyak bicara (Danesi, 2014). Borgol yang ia tampilkan bukan lagi sekadar alat hukum, tetapi berubah menjadi simbol kekuasaan yang membuat aparat tunduk. Polisi tidak taat pada aturan, tetapi pada status sosial. Di sini, makna borgol terbalik, bukan alat kontrol negara, melainkan alat untuk menunjukkan siapa yang dominan. Kemudian, adegan ketika Dika menutupi lokasi kejadian dengan tulisan “Maintenance in Progress” juga sangat penting. Tanda sederhana ini digunakan untuk menyembunyikan tindak kriminal. Dalam teori Danesi hal seperti ini termasuk crime of signs, yaitu penggunaan tanda-tanda sehari-hari untuk mengaburkan kenyataan. Karena orang terbiasa mengabaikan papan perbaikan, tanda itu bekerja efektif untuk menyingkirkan perhatian publik. Film ini menunjukkan bahwa kejahatan sistemik sering memakai tanda yang tampak netral untuk melindungi orang berkuasa.
Bagian persidangan menjadi ruang paling padat manipulasi tanda. Tatapan antara Raka Yanwar dan penyidik, ketukan palu hakim, hingga perubahan intonasi suara membentuk citra masing-masing tokoh. Ketika sidang disiarkan secara langsung, ruang persidangan berubah menjadi arena yang penuh dengan tanda yang membuat publik sulit membedakan mana fakta dan mana manipulasi. Dalam kerangka Danesi, visual seperti ekspresi wajah, jeda, dan gestur bisa menjadi language of crimes ketika digunakan untuk membangun narasi yang menyesatkan meski tidak ada kebohongan verbal yang jelas. Adegan lain terkait kesaksian palsu dari Gilang adalah contoh nyata signs of deception. Gerakan matanya yang gelisah dan tatapannya yang selalu menghindar menunjukkan ketidakjujuran. Ketika ia melirik ke arah Raka sebelum bersaksi, tubuhnya menghasilkan apa yang oleh Danesi disebut leaky signifier atau tanda yang bocor karena tubuh tidak mampu mengikuti kebohongan yang diucapkan. Jadi, meskipun kata-katanya telah dipersiapkan, tubuhnya tetap membongkar kepalsuannya.
Adegan makan malam antara Jaksa Burhan, Timo, dan Bono juga memperlihatkan bagaimana tanda bekerja di luar ruang sidang. Secara etika, pertemuan itu bermasalah, tetapi dalam film mereka membahas strategi sambil tertawa. Makan malam itu menjadi sign of deception yang memperlihatkan bahwa hukum dapat diatur di balik layar. Manipulasi tanda juga terlihat pada simbol yang lebih besar seperti Patung Dewi Keadilan (Justitia). Biasanya, Justitia digambarkan dengan mata tertutup sebagai tanda bahwa hukum harus adil dan tidak memihak. Namun, dalam film ini, matanya terlihat terbuka. Menggunakan konsep symbolic inversion dari Danesi, perubahan ini menunjukkan pembalikan makna simbol. Mata Justitia yang terbuka dapat dipahami sebagai gambaran bahwa hukum sebenarnya melihat ketidakadilan, tetapi tidak berbuat apa-apa karena berada di bawah pengaruh orang-orang kuat. Akibatnya, simbol keadilan yang ideal berubah menjadi tanda bahwa lembaga hukum tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Dialog Raka, “Dalam persidangan kebenaran bukanlah yang benar, tetapi yang menang adalah yang benar,” memperkuat gambaran bahwa bahasa adalah arena perebutan makna. Menurut Danesi, bahasa semacam ini bukan hanya menggambarkan kenyataan, tetapi juga membentuknya. Kebenaran menjadi hasil dari siapa yang lebih mampu menguasai tanda, bukan siapa yang memiliki bukti yang kuat.
Melalui serangkaian adegan ini, Keadilan (The Verdict) menampilkan bagaimana kebohongan tidak dibangun melalui satu tindakan besar, tetapi lewat rangkaian tanda yang dimanipulasi secara sistematis seperti hadiah kecil, gestur tubuh, kalimat ambigu, simbol hukum, hingga visual persidangan. Dengan memakai konsep Marcel Danesi, film ini menunjukkan bahwa kejahatan tidak hanya pelanggaran hukum, tetapi juga permainan semiotik yang menyusun ulang kenyataan agar berpihak pada pihak yang berkuasa. Film ini membuat kita melihat bahwa pertarungan utama bukan sekadar tentang hukum, tetapi tentang siapa yang paling mampu mengendalikan tanda.








