Jumat, 16/1/26 | 18:25 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Emansipasi Wanita dalam Drama “Nurani” Karya Wisran Hadi

Minggu, 03/8/25 | 16:48 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

          

Kesetaraan gender merupakan sebuah isu yang banyak dibahas saat ini di media sosial. Di zaman sekarang, wanita dan pria memiliki hak yang sama dalam berbagai hal, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk bekerja, dan lain sebagainya. Kesetaraan gender ini tidak luput dari perjuangan para pahlawan wanita pada zaman dulu yang memperjuangkan hak wanita hingga mengorbankan harta, benda hingga nyawa mereka. Meskipun begitu, kesetaraan gender ini menimbulkan sebuah masalah baru. Permasalahan ini merupakan sebuah hal yang menarik jika dibahas dalam sastra. Banyak para sastrawan yang membahas masalah kesetaraan gender, salah satunya Wisran Hadi dalam salah satu naskah dramanya yang dipentaskan oleh mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Minggu, 12/10/25 | 11:30 WIB

Pada hari  Jumat, 4 Juli 2025, Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Teater Langkah  mengadakan Festival Nasional Wisran Hadi  (FNWH) II yang diadakan di Medan Nan Balinduang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Acara ini berlangsung selama 5 hari, yaitu dari tanggal 4 Juli hingga 8 Juli yang menampilkan naskah drama karys Wisran Hadi. Mayoritas pemeran adalah mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2023. Penampilan mereka sebagai bagian tugas akhir pada mata kuliah Kajian Drama. Ada pula penampil lain dari luar Padang, yaitu dari ISI Padangpanjang yang juga turut memeriahkan acara.

Dalam FNWH II ini, terdapat 10 kelompok penampilan yang masing-masing kelompok berusaha memberikan penampilan terbaik agar bisa meraih juara. Salah satu naskah drama Wisran Hadi yang ditampilkan dalam acara ini yaitu naskah drama Nurani yang ditampilkan pada penampilan kedua di hari pertama acara berlangsung. Dalam FNWH II ini, naskah drama Nurani disutradarai oleh Berlin Istiqomah yang sekaligus berperan sebagai Ibu Kepala, Rara Aulia sebagai Nurani, Johana Dira Putri sebagai Bu Haji dan Dinda Nirmala Sari sebagai bu Dosen sekaligus sebagai penanggung jawab panggung untuk penampilan drama Nurani. Semua aktor dalam naskah drama ini merupakan mahasiswa Sastra Indonesia.

Penampilan ini dibuka dengan tokoh Nurani yang berpakaian serba putih. Dia diamanahkan oleh suaminya untuk membersihkan sebuah kursi yang berada di tengah-tengah panggung. Seiring berjalannya waktu, masuklah tiga tokoh ke panggung, yaitu bu Kepala, bu Haji, dan bu Dosen. Ketiga  tokoh ini memilki watak yang sombong dan selalu membangga-banggakan status sosial suami mereka dan berperilaku seolah-olah mereka yang mendapatkan status sosial tersebut, contohnya bu Dosen yang berpakaian dan berperilaku seperti dosen, padahal yang menjadi dosennya adalah suaminya. Ketiga tokoh ini mengganggap bahwa derajat mereka lebih tinggi dari tokoh Nurani yang suaminya bukan siapa-siapa dan bersikeras untuk duduk di kursi tersebut. Nurani berusaha untuk memperingati mereka bahwa kursi tersebut hanya boleh diduduki oleh laki-laki, namun Bu Kepala, Bu Dosen, dan Bu Haji tetap bersikeras dan mengusir Nurani dari kursi itu, bahkan mereka mengikat kaki, tangan dan mulutnya yang mengakibatkan Nurani tidak berdaya dan meninggal Dunia.

Hal menarik yang terdapat dari penampilan Nurani adalah emansipasi wanita yang dibangga-banggakan oleh Bu Kepala, Bu Haji, dan Bu Nurani direpresentasikan. Menurut Mustikawati (2015), emansipasi adalah pembebasan hak perempuan dari suatu kekuasaan tertentu seperti kekuasaan  suatu adat, budaya, dan lain-lain yang sekiranya membatasi hak-hak perempuan. Kemunculan emansipasi  wanita di Indonesia menurut Amar (2007) pada mulanya dicetuskan oleh Raden Ajeng Kartini yang sekaligus tokoh pahlawan perempuan paling terkenal di Indonesia yang memperjuangkan hak asasi wanita. R.A. Kartini berusaha membebaskan hak perempuan dari budaya Jawa yang saat itu terlalu mengekang wanita.

Hasil perjuangan R.A. Kartini untuk emansipasi wanita dapat dilihat sekarang, banyak wanita yang menempuh pendidikan yang tinggi hingga menjadi profesor. Padahal, dulu wanita bisa sekolah saja sulit. Selain itu, banyak pula wanita yang mendapatkan jabatan yang tinggi hingga menjadi presiden, contohnya presiden kelima Republik Indonesia yaitu Megawati Soekarno Putri yang merupakan wanita pertama di Indonesia yang menjadi presiden. Meskipun emansipasi wanita mencapai masa kejayaannya, banyak wanita menyalahartikan emansipasi sehingga merasa status sosialnya setara dan lebih tinggi dari seseorang dan merendahkan orang yang dianggap memiliki status sosial yang lebih rendah. Hal inilah yang berusaha ditampilkan oleh Wisran Hadi dalam drama Nurani.

Tokoh Bu Kepala menganggap status sosialnya sama dengan Pak Kepala hanya karena dia adalah istrinya. Bahkan dalam beberapa dialog, Bu Kepala menganggap dirinya memiliki status yang lebih tinggi dari suami. Hal ini bisa dilihat dari adegan menelpon suaminya. Bu Kepala berperilaku seolah-olah suaminya yang bekerja dengan dia, bahkan ketika suaminya tidak lagi bisa memberikan uang untuk arisannya, Bu Kepala malah memaki-maki suaminya. Tingkah laku Bu Kepala kepada Nurani juga menggambarkan bagaimana emansipasi wanita sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai. Bu Kepala menganggap rendah Nurani karena suaminya bukan siapa-siapa. Hal ini sangat berlawanan karena sepanjang pertunjukan drama berlangsung, Bu Kepala beserta Bu Dosen, dan Bu Haji selalu berkoar-koar untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Namun, apa yang mereka lakukan kepada Nurani sangat bertolak belakang dengan definisi emansipasi wanita.

Distorsi emansipasi wanita juga tergambar dalam tokoh Nurani yang membersihkan dan menjaga sebuah kursi. Kursi tersebut secara simbolik dimaknai sebagai suatu batasan bagi perempuan  yang tidak boleh dilanggar. Nurani yang berusaha untuk menjaga dan mempertahankan kursi dari Bu Kepala, Bu Haji, dan Bu Dosen yang dimaknai sebagai hati nurani ketiga tokoh sombong itu. Nurani berusaha untuk memperingati mereka mengenai kosekuensi dari kesombongan. Pada akhirnya, hati nurani mereka kalah terhadap ego yang tergambar dalam karakter Nurani yang mati dalam keadaan terikat akibat perbuatan Bu Kepala, Bu Haji dan Bu Dosen. Di akhir pertunjukan, mereka bertiga sadar bahwa mereka sudah “membunuh” Nurani. Namun, semua itu sudah terlambat. Drama ini menggambarkan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh mereka sudah melampaui batas-batas hak wanita dan bertentangan dengan emansipasi wanita yang mereka perjuangkan.

Naskah drama Nurani mengandung pesan moral yang mendalam bahwa wanita harus mengetahui batas-batasnya meskipun emansipasi wanita sudah diwujudkan. Jangan sampai karena kesommbongan dan ego dalam diri mereka mengakibatkan wanita melanggar batas-batas dirinya sebagai wanita hingga “membunuh” dan “mengorbankan” hati nurani sendiri.

Tags: #Muhammad Zakwan Rizaldi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Silatnas FKUB 2025 Bahas Deklarasi Damai Nasional dan Isu Toleransi

Berita Sesudah

5 Makanan untuk Kesehatan Otak agar Terhindar dari Pikun

Berita Terkait

Jejak Peranakan Tionghoa dalam Sastra Indonesia

Dinamika Masyarakat dalam Tradisi Basapa

Minggu, 04/1/26 | 22:15 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriah, Ulakan di Pariaman,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Gambaran Berlin Era 1920-an pada Roman Emil und die Detektive

Minggu, 04/1/26 | 22:05 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Latar tempat merupakan salah satu unsur...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Minggu, 04/1/26 | 21:31 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen di Program Studi Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran)   Karya sastra merupakan salah satu bentuk karya seni...

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Menggali Citra Feminisme dalam Fotografi di Instagram @darwistriadiartgallery

Minggu, 28/12/25 | 20:13 WIB

Oleh: Aldrizi Salsabila 1; Ike Revita 2; Fajri Usman 3; Sawirman 4 (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas...

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Belenggu Perempuan pada Cerpen “Sepasang Mata Dinaya yang Terpenjara” Kritik Feminis

Minggu, 28/12/25 | 19:58 WIB

Oleh: Fatin Fashahah (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)    Semua pekerjaan yang tiada habisnya itu akan...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
5 Makanan untuk Kesehatan Otak agar Terhindar dari Pikun

5 Makanan untuk Kesehatan Otak agar Terhindar dari Pikun

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PDAM Kota Padang Putuskan Sambungan Air Tanpa Peringatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Tegaskan Gerakan Pramuka Pembentuk Generasi Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024