Selasa, 03/3/26 | 00:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Minggu, 25/5/25 | 13:50 WIB
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Seorang teman pernah berujar tentang urgensi dari jam tangan. Ia menjelaskan tentang benda kecil yang melingkar di pergelangan itu, bisa mengindetifikasi siapa, dari mana, dan hendak kemana si yang punya pergi. Tentu saja itu bagian dari kemajuan teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri, saat ini jam tangan bukan semata fungsinya sebagai penunjuk waktu, tapi karena ia menyimpan identitas, prestise, dan kadang, makna adat yang tak terucap.

Dalam lanskap gaya hidup modern yang serba cepat dan visual, jam tangan telah bertransformasi menjadi pernyataan personal. Ia tak lagi sekadar alat bantu, melainkan aksesoris yang dipilih dengan pertimbangan estetika, fungsionalitas, dan citra diri. Generasi kini yang akrab dengan ritme multitasking, menjadikan jam tangan sebagai penanda profesionalisme sekaligus selera.

Tidak salah juga sekiranya ada pendapat yang menyatakan bahwa mengenakan smartwatch dengan desain minimalis sering diasosiasikan dengan produktivitas dan efisiensi, sementara mereka yang setia pada jam analog biasanya diasosiasikan dengan ketenangan, keanggunan, dan kecermatan. Bahkan pilihan untuk tidak memakai jam tangan pun bisa dibaca sebagai simbol kebebasan dari tekanan waktu, atau gaya hidup yang lebih santai dan lepas.

BACAJUGA

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB
Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Sebagian kita fokus untuk menyakan waktu, sebagian justru memakai jam tangan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendalam, “Saya sedang menjadi siapa hari ini?”. Bayangkan seorang pelajar yang setiap hari memakai smartwatch, bukan hanya untuk melihat waktu, tapi juga untuk melacak aktivitas harian seperti jumlah langkah, kualitas tidur, bahkan notifikasi tugas yang harus segera diselesaikan.

Jam tangan itu menjadi semacam asisten pribadi yang membantunya tetap fokus dan teratur di tengah tumpukan tugas dan deadline. Sementara itu, ada anak muda lain yang memilih jam tangan analog, sebagai cara mengekspresikan gaya dan kecintaannya pada hal-hal klasik di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Jam tangan bagi mereka bukan sekadar penunjuk waktu, tapi juga cara menunjukkan siapa mereka, apakah si pecinta teknologi yang dinamis, atau si penggemar gaya retro yang santai.

Ironisnya, di balik segala kecanggihan dan simbolisme yang melekat, jam tangan justru mengajarkan kita satu hal sederhana tapi sering terlupa: waktu itu bukan hanya soal angka atau detik yang terus berdetak. Jam tangan, dalam keheningan kecilnya, menantang kita untuk berhenti sejenak, untuk bertanya bukan “berapa lama lagi?”, tapi “apa yang benar-benar berarti?”. Pada akhirnya, bukan jam di pergelangan yang mengatur hidup, melainkan bagaimana kita memilih untuk mengisi setiap detik yang berjalan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Berita Sesudah

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024