Minggu, 28/6/26 | 10:19 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pemanfaatan Sastra Anak Asing sebagai Media Pembelajaran Antarbudaya

Minggu, 02/3/25 | 11:14 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

 

Era globalisasi memiliki dampak berupa masuknya pengaruh budaya asing melalui teknologi, pendidikan, dan hiburan. Hal ini disebabkan oleh pertukaran berbagai informasi dan budaya yang berlangsung dengan sangat cepat. Era globalisasi tidak hanya menuntut seseorang memiliki keterampilan berbahasa asing, tetapi juga memiliki kemampuan pemahaman antarbudaya (cross-cultural understanding).

BACAJUGA

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Kesadaran akan keberadaan budaya lain selain budaya sendiri haruslah ditanamkan dalam diri sejak dini. Pada era globalisasi, pemahaman antarbudaya dianggap penting untuk membangun toleransi, empati, keterbukaan, dan terhadap keberagaman. Tingkah laku dan sikap seseorang dapat dibentuk dan diajarkan lewat pendidikan, budaya, dan penanaman karakter saling menghargai ataupun secara umum lewat pemahaman antarbudaya. Semua itu dapat ditanamkan, salah satunya, melalui bacaan sastra (Nurgiyantoro, 2013).

Pada sastra anak ditemukan berbagai sikap dan perilaku hidup yang mencerminkan budaya suatu kelompok masyarakat berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Dalam berbagai sastra anak asing dan terjemahan, misalnya, terdapat aspek kebudayaan masyarakat pendukungnya. Oleh sebab itu, membaca sastra anak asing dan terjemahan kita dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Pada tahap selanjutnya, bacaan tersebut juga akan menanamkan kesadaran dalam diri anak bahwa ada budaya lain selain budaya sendiri dan kesadaran untuk menghargainya (Nurgiyantoro, 2013).

Sastra anak Jerman merupakan salah satu jenis sastra asing yang hadir di Indonesia melalui terjemahan, adaptasi, dan pengajaran di berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Sastra anak Jerman di Indonesia hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari dongeng-dongeng klasik yang ditulis oleh Grimm bersaudara, film dan animasi, buku bergambar, novel, komik, sampai dengan dalam versi digital, seperti buku elektronik dan buku audio. Sejauh ini, pemanfaatan sastra anak Jerman di Indonesia sebatas sebagai media pembelajaran bahasa Jerman pada berbagai institusi pendidikan, seperti SMA dan universitas. Padahal, jika digunakan secara optimal, banyak potensi lain yang dapat digali dari sastra anak Jerman bagi siswa di Indonesia.

Beberapa kendala terkait kurang optimalnya pemanfaatan sastra anak di Indonesia adalah sebagai berikut. Pertama, kurangnya tenaga pendidik yang menguasai bahasa Jerman atau tenaga pendidik yang bukan merupakan lulusan Program Studi Bahasa atau Sastra Jerman. Di salah satu institusi pendidikan di Kota Padang, sebagian besar tenaga pendidik mata pelajaran bahasa Jerman merupakan lulusan program studi yang tidak linier dengan pekerjaannya. Guru-guru tersebut mengaku mempelajari bahasa Jerman secara otodidak. Kedua, di beberapa sekolah di Kota Padang, bahasa Jerman kerap dijadikan sebagai pelajaran muatan lokal atau dianggap sebagai bahasa asing pendamping, di samping mata pelajaran bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing utama. Ketiga, sulitnya mendapatkan buku cetak berupa materi atau buku cerita berbahasa Jerman. Buku-buku cetak tersebut biasanya tersedia di Pusat Kebudayaan Goethe Institut yang berada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Keempat, untuk dapat membaca dan memahami karya sastra asing membutuhkan pengetahuan bahasa asing yang dituju. Materi pembelajaran bahasa Jerman lebih banyak berfokus pada tata bahasa daripada kegiatan apresiasi sastra. Penguasaan bahasa asing tentunya tidak bisa dicapai hanya dalam waktu satu semester tanpa adanya latihan secara konsisten. Kelima, kurangnya pemfokusan materi pembelajaran pada aspek apresiasi sastra.

Pembacaan karya sastra asing tidak hanya membutuhkan penguasaan bahasa, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap konteks budayanya. Seringkali pembelajar mengalami kesulitan dalam memahami teks sastra berbahasa asing karena kurangnya pengetahuan dasar tentang bahasa sumber, pokok bahasan teks, latar belakang penulisan teks, dan pemahaman teks budaya yang terdapat agar tidak menimbulkan kepincangan dalam pemerolehan informasi sehingga pembelajar dapat menggali pengetahuan teks sastra secara mendalam (Busri, dkk., 2016).

Beberapa judul buku cerita anak Jerman yang dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran pemahaman antarbudaya di sekolah, misalnya (1) Apfelkuchen und Baklava (2016) karya Kathrin Rohmann, (2) Der Tag an dem die Oma das Internet kaputt gemacht hat (2018) karya Marc Uwe Kling, dan (3) Emil und die Detektive (1929) karya Erich Kästner. Ketiga buku tersebut memuat berbagai permasalahan sosial-budaya yang dihadapi masyarakat Jerman sehari-hari. Selain itu, buku-buku tersebut juga menggunakan bahasa Jerman yang cukup mudah dipahami dan membahas permasalahan kehidupan masyarakat Jerman yang berbeda-beda, sehingga siswa dapat memperkaya pengetahuan tentang konteks sosial dan budaya masyarakat Jerman.

Apfelkuchen und Baklava menceritakan persahabatan dua tokoh berbeda bangsa, salah satu tokoh utamanya merupakan pengungsi asal negara perang yang bermigrasi ke Jerman. Novel ini baik digunakan sebagai media pembelajaran keterampilan antarbudaya karena memuat nilai-nilai seperti empati, keterbukaan, identitas, dan penerimaan. Der Tag an dem die Oma das Internet kaputt gemacht hat menceritakan tentang kehidupan modern masyarakat Jerman yang memiliki ketergantungan akan internet. Di dalamnya juga memuat perbedaan sikap generasi muda dan generasi tua mengenai pemahaman akan teknologi dan menyikapi kehidupan di era digital. Novel ini menggunakan kata-kata bahasa Jerman yang sederhana dan memuat permainan kata, sehingga cukup relevan untuk dimanfaatkan sebagai media peningkatan literasi bahasa asing. Adapun Emil und die Detektive (1929) merupakan salah satu buku cerita anak Jerman yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan menjadi buku cerita penting dalam kesusastraan anak Jerman, serta telah banyak dijadikan objek penelitian karya ilmiah. Walaupun tergolong ke dalam karya sastra klasik, permasalahan sosial dan budaya novel ini masih relevan dengan kehidupan modern saat ini. Novel ini menceritakan tokoh Emil yang melakukan perjalanan seorang diri ke Kota Berlin. Oleh sebab itu, nilai pemahaman antarbudaya terlihat pada penggambaran perbedaan kehidupan kota kecil dan kota besar. Selain, itu novel ini juga menyuguhkan gambaran kota Berlin pada akhir tahun 1920-an.

Walaupun demikian, pemilihan sastra anak sebagai materi pembelajaran harus memperhatikan hal-hal seperti relevansi nilai-nilai budaya asing yang selaras dengan budaya Indonesia. Bagaimanapun, mempelajari sastra asing berarti membuka kesempatan masuknya pengaruh budaya asing ke Indonesia. Kecakapan bahasa dan budaya guru yang mengajar bahasa Jerman harus diperhatikan sehingga guru-guru dapat menyesuaikan buku-buku cerita yang dipilih dengan kompetensi bahasa yang dimiliki. Selain itu, guru dapat mengintegrasikan berbagai metode pengajaran sastra anak untuk memaksimalkan pemanfaatan dan menarik minat siswa untuk mengapresiasi karya sastra.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Bahasa dan (Ber) Pikiran

Berita Sesudah

Musfi Yendra Minta Gubernur Mahyeldi Hadirkan KI dalam Rakor Kepala Daerah

Berita Terkait

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Berita Sesudah
Ketua Komisi Informasi Sumbar Musfi Yendra (Foto: Ist)

Musfi Yendra Minta Gubernur Mahyeldi Hadirkan KI dalam Rakor Kepala Daerah

POPULER

  • DPRD Kota Padang prihatin, terhadap semrawutnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Padang, khususnya berpusat pada kendala sistem aplikasi yang error.

    Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fraksi PKB-UMMAT Minta Pemko Padang Percepat Belanja, Waspadai SiLPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pilwana Usai, Saatnya Wali Nagari Terpilih Rangkul Semua Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Pemungutan Suara, Firdaus Minta Warga Jaga Kondusivitas dan Tolak Politik Uang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026