Senin, 02/2/26 | 10:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Bahasa dan (Ber) Pikiran

Minggu, 02/3/25 | 10:48 WIB

Oleh: Alex Darmawan
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Pada suatu kesempatan, penulis berdialog dengan mahasiswa dan mahasiswi mengenai hubungan antara bahasa dan pikiran. Pertanyaan yang timbul adalah mana yang lebih dulu ada dalam diri manusia, bahasa atau pikiran? Sebagian mahasiswa/i menjawab adalah bahasa dan sebagian lagi menjawab pikiran dahulu dengan argumentasi yang berbeda-beda. Nah, dari diskusi inilah penulis mencoba mengupas pertanyaan tersebut di atas dalam bentuk sebuah tulisan.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa terlepas dari kegiatan berpikir dan berbahasa. Bahasa dan pikiran memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi. Di satu sisi, bahasa merupakan media yang digunakan untuk memahami dunia dan digunakan dalam proses berpikir. Di sisi lain, pemahamann terhadap kata-kata merupakan hasil dari aktivitas berpikir. Meskipun keduanya berkaitan erat, tidak setiap manusia mempunyai kemampuan berbahasa yang baik pula. Apa yang dipikirkan belum tentu bisa diucapkan dan lakukan. Sebaliknya, apa yang kita ucapkan itulah yang kita pikirkan.

BACAJUGA

Kecerdasan dan Berbahasa

Kecerdasan dan Berbahasa

Minggu, 09/3/25 | 09:59 WIB
Menyoal Dosa Bahasa

Menyoal Dosa Bahasa

Minggu, 23/2/25 | 17:33 WIB

Sebenarnya, apa itu bahasa? Banyak ahli bahasa telah memberikan defenisi terhadap bahasa itu sendiri. Hampir semua defenisi yang penulis temukan tidak jauh berbeda sudut pandangnya.  Salah satunya, Abdul Chear mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan  oleh sekelompok  anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri (Chaer, 2004:5). Setiap bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia belum bisa dikatakan bahasa apabila tidak terkandung makna di dalamnya. Apakah setiap ujaran mengandung makna atau tidak, haruslah dilihat dari konvensi suatu kelompok masyarakat pemilik bahasa tersebut.

Mari sekilas kita lihat definisi dari berpikir. Berpikir adalah menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan (KBBI, 2003:872). Berpikir merupakan berkembangnya suatu ide, konsep, pemikiran yang baru keluar dalam diri seseorang. Berkembangnya pemikiran tersebut bersumber dari informasi yang didapat, diketahui dan simpan oleh seseorang dalam bentuk teori, pengertian, maupun deskripsi mengenai suatu masalah.

Dalam struktur berpikir, kita membicarakan konteks yang ada dalam diri manusia. Sebagai seorang manusia, tentu kita dibekali oleh Tuhan dengan kemampuan berpikir yang didampingi oleh akal. Kegiatan berpikir dan akal pikiran yang tertanam dalam diri manusia sejak dilahirkan ke dunia dan terus berkembang sejalan perkembangan usia manusia. Kata Descarde, “Co Gito Ergo Sum” (Saya ada karena saya berpikir).

Pikiran merupakan hal yang paling absolut yang mengendalikan diri manusia. Berawal dari pikiran dapat mempengaruhi tindakan yang akan dilakukan manusia. Seperti manusia yang berpikir bahwa ia lapar dan dirangsang oleh kondisi tubuhnya. Secara sadar, pikiran akan memengaruhi gerak tubuh untuk memakan sesuatu hingga hilang rasa lapar di tubuhnya. Besarnya peran pikiran dan berbagai hal yang manusia pikirkan membawa dampak yang signifikan guna keberlangsungan hubungan manusia dengan lingkungan, sesamanya, maupun hubungan manusia tersebut dengan hal spiritual yang dipercayai.

Begitu pula dalam persoalan bahasa, bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi, tentu memiliki landasan pemikiran saat digunakan dalam tuturan sesuai lingkungan penutur dan kondisi penutur. Orang-orang yang memiliki pola berpikir dan pikiran yang baik, tentu akan memiliki tindak tutur yang baik pula. Bahasa yang digunakan pun baik serta dapat dengan mudah diterima dan dipahami lawan tutur atau orang lain yang mendengarkannya. Sistem yang ada dalam pikiran manusia, turut memengaruhi bahasa yang digunakan oleh manusia tersebut. Lain halnya bahasa yang digunakan oleh orang yang memiliki keterbatasan fisik atau kecacatan dalam sistem bicaranya. Bahasa yang digunakan oleh orang-orang ini adalah bahasa isyarat. Bahasa isyarat tidak hanya dipengaruhi oleh pola pikir seseorang, tetapi juga keterbatasan yang dimiliki oleh penuturnya serta toleransi yang dilakukan oleh lawan tuturnya.

Ternyata, hubungan antara bahasa dan (ber)pikiran sudah dimulai dari dahulu oleh banyak pakar ilmu bahasa. Pandangan para pakar dibangun dari berbagai perspektif. Hilhem van Humboldt, seorang sarjana Jerman abad ke-15 menekankan adanya ketergantungan pemikiran manusia terhadap bahasa. Lebih jauh, pandangan hidup dan budaya suatu masyarakat ditentukan oleh bahasa masyarakat itu sendiri. Bunyi bahasa merupakan bentuk luar, sedangkan pikiran adalah bentuk dalamnya. Bentuk luar bahasa itu yang kita dengar, sedangkan bentuk dalam bahasa ada dalam otak. Kedua hal tersebut saling ketergantungan. Pemikiran Van Humboldt ini juga selaras dengan pandang ahli bahasa dari Amerika, Edwar Sapir (1883-1993). Sapir mengatakan bahawa manusia hidup di dunia ini di bawah belas kasih bahasanya yang telah menjadi alat pengantar dalam bermasyarakat. Murid Sapir, Benjamin Lee Worf (1897-1941) menambahkan bahwa sistem tata bahasa tidak hanya alat untuk menyuarakan ide-ide, tetapi juga sebagai pembentuk ide-ide itu. Program kegiatan mental dan penentu struktur mental seseorang. Dengan kata lain, bahasalah yang menentukan jalan pikiran seseorang. Lebih lanjut, ahli bahasa Jean Pieget, L.S. Vgotsky dan Brunner menguraikan pandangan bahwa berbahasa dan berpikir berkembang dari sumber yang sama. Oleh karena itu, keduanya mempunyai bentuk yang sangat serupa dan saling membantu.

Jadi, jawaban pertanyaan mengenai mana yang dahulu ada dalam diri manusia, bahasa atau pikiran, dapat kita temukan jawabannya dari benang merah pemikiran para ahli bahasa di atas. Bahasa (berbahasa) dan pikiran (berpikir)  ada secara bersamaan dalam setiap diri manusia dan berkembang sering perkembangan manusia itu. Dalam hal ini-bahasa dan pikiran- merupakan anugerah pemberian Tuhan kepada umat-Nya. Perkembangan bahasa tidak bisa dihambat meskipun pada anak-anak yang mempunyai cacat tertentu, seperti buta, tuli atau memiliki orang tua pekak sejak lahir. Namun, bahasa anak-anak dapat berkembang dengan hanya sedikit keterlambatan (baca: Teori Eric Lenneberg). Wallahu alam bish shawabi.

Tags: #Alex Darmawan
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Sambut Ramadan, Pimpinan DPRD Dharmasraya: Marhaban ya Ramadan

Berita Sesudah

Pemanfaatan Sastra Anak Asing sebagai Media Pembelajaran Antarbudaya

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Minggu, 25/1/26 | 15:00 WIB

Oleh: Nurvita Wijayanti (Pemerhati bahasa dari Kepulauan Bangka Belitung) Apakah Anda pernah menemukan postingan di Instagram tentang bahasa lokal yang...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Meneroka Sejarah Bahasa Indonesia Hingga Kini

Senin, 19/1/26 | 19:43 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Tanggal 4 November 2025 menjadi tanggal bersejarah untuk bangsa Indonesia...

Berita Sesudah
Aspek Pemahaman Antarbudaya pada Sastra Anak

Pemanfaatan Sastra Anak Asing sebagai Media Pembelajaran Antarbudaya

POPULER

  • Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

    Kelompok SAD Diduga Resahkan Warga, Tokoh Adat dan Aktivis Minta Oknum Diserahkan ke Hukum

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penertiban PETI Terus Berjalan, Puluhan Terduga Pelaku Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Pusat Alokasikan Rp2.6 Triliun untuk Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Unand Mulai Langkah Program Mahasiswa Berdampak, Jajaki Kerja Sama Pengabdian di Lambung Bukit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Berbagai Metode Berpikir Menurut Para Ahli, Begini Cara Melatihnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024