Sabtu, 17/1/26 | 02:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sejengkal Ruang, Segenggam Kebersamaan

Minggu, 23/2/25 | 17:14 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Dua minggu lalu, tepatnya 9 Februari 2025, saya mengulas pepatah Minangkabau “duduak samo randah, tagak samo tinggi” di kolom “Renyah” ini. Dalam tulisan itu, saya membagikan pengalaman menarik saat menumpangi bus dari kampung menuju Kota Padang—sebuah perjalanan yang menguji makna kebersamaan dalam ruang sempit. Kali ini, saya ingin berbagi kisah lain yang berkaitan dengan pepatah tersebut.

Dalam keseharian, tanpa disadari, kita sering dihadapkan pada situasi yang menguji makna kebersamaan dan berbagi ruang. Jika dalam perjalanan sebelumnya pepatah ini terasa sulit diterapkan, bagaimana dengan kehidupan di sekitar kita? Apakah kebersamaan hanya berlaku dalam teori, atau masih ada ruang untuk mewujudkannya dalam realitas sehari-hari?

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak situasi yang menguji makna kebersamaan, salah satunya di warung makan atau kafetaria saat jam makan siang. Saat itu, saya melihat meja-meja penuh sesak, sementara beberapa pelanggan terpaksa berdiri, menunggu dengan sabar hingga ada tempat kosong. Di momen seperti ini, terlihat jelas bagaimana orang-orang merespons keterbatasan ruang.

Beberapa orang dengan ringan hati memilih duduk bersama orang asing, berbagi meja dengan senyum canggung yang perlahan mencair menjadi obrolan hangat. Ada yang sigap menawarkan kursi kosong di mejanya, seolah memahami bahwa berbagi bukan sekadar soal tempat duduk, tapi juga soal kebersamaan. Namun, tak sedikit pula yang memilih tetap tenggelam dalam dunianya sendiri, sibuk dengan piring dan layar ponsel.

Pemandangan ini mengingatkan saya bahwa kebersamaan bukan soal seberapa luas tempat yang kita miliki, tetapi seberapa besar hati kita untuk berbagi. Seperti di dalam bus yang penuh sesak, di warung makan pun kita dihadapkan pada pilihan: tetap nyaman dengan diri sendiri atau membuka ruang untuk berbagi dengan orang lain.

Sering kali, kita berpikir bahwa berbagi ruang berarti mengorbankan kenyamanan pribadi. Padahal, justru di situlah letak kehangatan sebuah kebersamaan. Seorang pelanggan yang awalnya duduk sendiri mungkin akan menemukan teman ngobrol baru ketika berbagi meja.

Seseorang yang menawarkan kursi bisa saja mendapatkan senyum tulus sebagai balasan. Hal-hal kecil seperti ini, meski tampak sepele, sebenarnya adalah wujud nyata dari semangat “duduak samo randah, tagak samo tinggi”. Kebersamaan tidak selalu harus dalam bentuk besar atau momen-momen istimewa; ia hadir dalam kesederhanaan, dalam keikhlasan berbagi ruang dan waktu dengan orang lain.

Pada akhirnya, kebersamaan bukan sekadar soal duduk berdampingan atau berbagi ruang fisik, tetapi tentang bagaimana kita memandang dan memperlakukan orang lain. Dalam dunia yang semakin individualistis, memberi ruang bagi sesama, sekecil apa pun, adalah cara sederhana untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup. Seperti pepatah “duduak samo randah, tagak samo tinggi” yang mengajarkan kesejajaran dan kebersamaan, mungkin sudah saatnya kita lebih sadar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Makna Denotatif dan Konotatif Kenangan Seseorang pada Lagu “Monokrom” Karya Tulus

Berita Sesudah

Menyoal Dosa Bahasa

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Hasil Tak Sepenting Perjalanan

Minggu, 26/10/25 | 21:50 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Libur kuliah dahulu selalu terasa seperti lagu merdu yang menandai kebebasan. Setelah berminggu-minggu bergulat...

Berita Sesudah
Menyoal Dosa Bahasa

Menyoal Dosa Bahasa

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran, mengusulkan sejumlah proyek pelestarian lingkungan bagi Kota Padang dalam skema kerja sama bilateral Indonesia-Jerman di tahun 2026.(Foto:Ist)

    Wali Kota Padang Usulkan Proyek Lingkungan Hidup Pada Negara Jerman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denda PDAM Kota Padang Membingungkan, Tagihan Sampah Dipungut Meski Tak Diangkut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sesuai Arahan Pemerintah Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024